Laiskodat: Kekurangan Kita adalah Narasi – Timor Express

Timor Express

EKONOMI BISNIS

Laiskodat: Kekurangan Kita adalah Narasi

TENUN.Salah satu penenun dari Kabupaten Sumba Barat Daya saat menunjukkan salah satu kain tenun ikat asal daerah tersebut kepada Victor Laiskodat dan Prof.Danial Kameo saat FGD tentang pariwisata di Hotel On The Rock Kupang, Jumat (15/9).

CARLENS BISING/TIMEX

Gelar FGD Tentang Pariwisata di NTT

KUPANG, TIMEX-Ketua Fraksi Partai Nasdem DPR RI, Victor Bungtilu Laiskodat menilai, dunia pariwisata di NTT membutuhkan pengembangan yang lebih terstruktur. Perencanaan yang matang dan pengelolaan yang melibatkan lintas sektor.

Setelah menyiapkan destinasi-destinasi unggulan, sumber daya manusia juga harus disiapkan. Menurut Victor, setiap wisatawan yang datang ke daerah tujuan wisata membutuhkan kesan yang menarik, indah, nyaman dan aman. Salah satu hal yang membuat mereka tertarik dan berkesan adalah informasi tentang objek-objek wisata yang dikunjungi atau disaksikan.

Dia contohkan, di negara lain, satu pohon atau satu gunung yang disebut memiliki daya tarik atau memiliki nilai histori, akan lebih menarik karena wisatawan disajikan tentang informasi-informasi menarik. Misalnya, kisah magis, hal-hal mistik atau cerita asal muasal dari suatu objek. Bahkan menurut Victor, sebagian besarnya adalah bualan belaka, hanya untuk menarik wisatawan. Dan, wisatawan akan sangat tertarik, terkagum-kagum dengan narasi yang dipaparkan, meski kebenarannya bisa di bawah 50 persen.

“Jadi kekurangan kita di NTT adalah menarasikan keindahan-keindahan alam dan atraksi-atraksi yang ada,” kata Victor dalam Focus Group Discussion (FGD) Pariwisata NTT terkait identifikasi potensi dan rantai nilai yang berlangsung di Hotel On The Rock Kupang, Jumat (15/9).

Diskusi yang menghadirkan pihak pemerintah, asosiasi dan pelaku pariwisata itu membahas penelitian yang dipimpin Prof.Danial Kameo dan tim. Penelitian tersebut untuk mencari berbagai hal yang berkaitan dengan pengembangan pariwisata di NTT. Misalnya terkait infrastruktur menuju objek wisata, fasilitas penunjang di lokas i wisata. Selain itu juga berkaitan dengan kesadaran masyarakat di sekitar objek wisata. Hal lainnya adalah promosi, even-even dan sumber daya manusia yang berkaitan langsung dengan jasa pariwisata.

“Pariwisata itu adalah perilaku. Jadi, perilaku kita yang menentukan pariwisata itu ke depan. Misalnya, kita masih suka buang sampai sembarangan, buang puntung rokok sembarangan. Itu menyangku perilaku kita. Dan, untuk membangunnya, tidak hanya dinas pariwisata. Harus libatkan semua,” sambung Victor saat ditanya wartawan.

Masih menurut dia, dari hasil penilitian yang dilakukan secara komprehensif, akan memberikan gambaran tentang kelemahan, kekurangan serta apa yang seharusnya dilakukan untuk menunjang pariwisata di NTT. Karena menurut dia, NTT sangat kaya dengan sumber daya alamnya. Kaya dengan budaya, kerajinan dan produk-produk aslinya.

Sementara Kepala UPT Museum Daerah NTT, Leo Nahak pada kesempatan itu mengatakan, membangun pariwisata tidak hanya menurut kemauan satu pihak, dalam hal ini penyedia jawa. Namun juga harus sesuai dengan keinginan wisatawan. Karena budaya dan karakter wisatawan berbeda satu sama lain, berdasarkan negara asal. Sehingga, perlakuan kepada wisatawan juga harus disesuaikan dengan budaya dan karakter mereka.

“Misalnya orang Jepang. Walaupun hanya satu dari puluhan orang dalam satu rombongan itu yang bisa bahasa Inggris, namun yang lainnya tetap ikut dan dengar, lalu mereka yang penting foto-foto dan lihat,” jelas Leo yang juga mencontohkan karakter orang Prancis, Jerman dan Australia.

Sementara ketua ASITA NTT, Abed Frans menilai, pemerintah melalui dinas pariwisata belum menjalankan tugas dan fungsinya dengan baikdalam mendukung pariwisata di NTT. Misalnya, untuk promosi ke luar, tidak seharusnya dinas pariwisata yang melakukannya. Karena menurut dia, promosi adalah tugas pelaku pariwisata, karena merekalah yang mengetahui persis apa yang bisa dijual ke luar. “Ini, maunya promosi ke luar juga dan berangkatnya bisa sampai 10 orang. Lalu, pulangnya mau bikin apa?” beber Abed.

Sekretaris PHRI NTT, Robby Rawis pada kesempatan itu menambahkan, untuk mendukung pariwisata agar wisatawan merasa nyaman, aman dan betah di NTT, harus ada standarisasi, baik fasilitas akomodasi dan juga sumber daya manusia. Hotel dan restoran harus berstandar, para pelayan juga harus memiliki etika dan kualitas pelayanan yang berstandar.(cel)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!