94 TKI NTT Meninggal di Luar Negeri – Timor Express

Timor Express

EKONOMI BISNIS

94 TKI NTT Meninggal di Luar Negeri

Nakertrans: Kami Amankan 992

KUPANG, TIMEX-Sedikitnya 94 tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Provinsi NTT meninggal di luar negeri. Dari jumlah itu, hanya enam orang yang memiliki dokumen ketenagakerjaan atau prosedural. Sisanya, 88 orang merupakan TKI non prosedural atau ilegal.

Demikian dijelaskan Kepala BP3TKI NTT, Tato Tirang kepada Timor Express, Minggu (17/9). Tato jelaskan, jumlah TKI yang meninggal tersebut, masing-masing tahun 2016 sebanyak 46 orang dan Januari-Agustus 2017 sebanyak 48 orang.”Tahun 2016 itu dua orang dikubur di Malaysia karena alamat tidak jelas. Tahun ini (2017) sudah tiga orang yang dikubur di luar negeri karena alamat juga tidak ada,” terang Tato.

Dia jelaskan, mereka yang meninggal namun memiliki dokumen jelas, sudah mendapatkan hak-haknya seperti asuransi dan lainnya.

Tato tambahkan, upaya untuk meminimalisir TKI yang berangkat dengan dokumen palsu sudah dilakukan. Bahkan sejak Agustus 2014, pihaknya menggunakan perangkat yang menjalankan sistem validasi untuk memastikan dokumen-dokumen calon TKI, apakah asli atau palsu.

Hasilnya, selama satu bulan Juli-Agustus 2016 ujicoba, pihaknya menemukan 90 persen dokumen TKI adalah palsu. Hal ini menurut dia menjadi gambaran bahwa sebelumnya banyak TKI yang berangkat namun menggunakan dokumen palsu. “Paling banyak itu dokumen awal seperti KTP, Kartu Keluarga dan Akta Kelahiran,” beber dia.

Penerapan sistem ini, lanjut Tato sangat efektif. Bahkan jumlah TKI yang berangkat dengan dokumen lengkap terus turun setiap tahun. Dia contohkan, tahun 2016, hanya 2.200 lebih TKI yang berangkat. Sementara tahun ini baru 1.100 lebih yang berangkat. “Jadi mulai dari 2012 itu jumlah TKI yang berangkat semakin turun, bahkan rata-rata 1.000 per tahun,” sebutnya.

Masih menurut Tato, perusahaan pengarah TKI pun mengaku kewalahan karena untuk memberangkatkan TKI, harus dimulai dari dokumen awal seperti KTP, Akta dan Kartu Keluarga. Sementara KTP menurut dia sangat sulit untuk diurus. Selain itu, pemerintah kabupaten/kota sudah mulai menerapkan sistem validasi, sehingga calon TKI langsung terseleksi di daerahnya masing-masing. Dia pun memastikan, tidak ada lagi TKI yang berangkat dengan dokumen palsu.

Namun terkait kemungkinan adanya peningkatan jumlah TKI non prosedural, Tato mengakui tidak menutup kemungkinan. “Bisa jadi (berangkat tidak pakai dokumen). Karena kami tidak melayani yang menggunakan dokumen palsu,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengawasan Dinas Nakertrans NTT, Thomas Suban Hoda kepada koran ini menambahkan, khusus calon TKI yang non prosedural, pihaknya melalui satuan tugas (Satgas) telah mengamankan sedikitnya 992 orang. Mereka hendak keluar dari NTT untuk mencari pekerjaan di luar, namun tidak dapat menunjukkan dokumen ketenagakerjaan yang jelas. “Tahun 2016 lalu kami amankan 536 orang. Tahun ini sudah 456 orang. Semuanya tidak prosedural,” terang dia.

Satgas tersebut merupakan gabungan antara beberapa instansi, termasuk Dinas Nakertrans, BP3TKI, kepolisian, TNI, imigrasi dan beberapa pihak lagi. Mereka bertugas mengawasi dua pintu keluar utama, yakni Bandara El Tari Kupang dan Pelabuhan Tenau Kupang. Setiap calon TKI yang diamankan akan didata dan dikembalikan ke tempat asalnya.(cel)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!