NTT Kekurangan 120 Ribu Ton Beras – Timor Express

Timor Express

EKONOMI BISNIS

NTT Kekurangan 120 Ribu Ton Beras

ILUSTRASI

NET

Kadistab: Kita Butuh 800 Ribu Ton Lebih

KUPANG, TIMEX-Produksi padi 22 kabupaten/kota di NTT belum mampu memenuhi kebutuhan beras lebih dari 5 juta penduduk NTT. Dari sekira 200 hektare lahan, produksi beras di NTT sekira 670 ribu ton per tahun.

Sementara kebutuhan beras untuk masyarakat NTT mencapai 800 ribu ton per tahun. Sehingga, produksi tersebut hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan di NTT, bahkan masih kurang lebih dari 100 ribu ton.

“Jadi sisanya itu yang Bulog beli dari Jawa, NTB dan Sulawesi. Tahun lalu (2016) Bulog datangkan 100 ribu ton lebih,” kata Kepala Dinas Pertanian NTT, Yohanes Tay Ruba kepada Timor Express di ruang kerjanya, Senin (18/9).

Karena fokus memenuhi kebutuhan dalam daerah, lanjut Yohanes, permintaan Bulog sebesar 13.000 ton lebih, sulit dipenuhi. Apalagi dengan harga beli Bulog yang hanya Rp 7.300 per kilogram.

Upaya untuk memenuhi kebutuhan beras di NTT, menurut Yohanes sudah dilakukan. Selain menambah luas lahan, dari sebelumnya 160 ribu hektare menjadi 200 ribu hektare, ada pula bantuan berupa alat pertanian, benih dan pupuk.

Yohanes Tay Ruba menyebutkan, produksi beras paling banyak di Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Kupang, Sumba Barat Daya, Ende, Ngada dan Manggarai Raya. Bahkan di Kabupaten Rote Ndao dan Manggarai Barat surplus beras. Dari beberapa daerah tersebut, lanjut dia, bisa menyuplai sedikit dari permintaan Bulog, meski tidak bisa memenuhi permintaan Bulog.

Terkait produksi beras yang belum bsia memenuhi kebutuhan dalam daerah meski luas lahan mencapai 200 ribu hektare. Hal ini menurut dia karena beberapa hambatan. Selain adanya hama, masalah pemenuhan air juga menentukan kualitas dan kuantitas produksi beras.

“Biasanya semua lahan bisa digarap pada tahap pertama itu di musim hujan. Jadi panen pada bulan April, Mei dan Juni itu bagus. Tetapi untuk tahap kedua itu biasanya hanya kurang dari 50 persen lahan yang ditanami padi, karena kekurangan air,” papar mantan Penjabat Bupati Ngada itu.

Untuk mengganti tanaman padi, pihaknya mengimbau petani untuk menanam tanaman lain seperti cabai, bawang dan juga sayuran lainnya. Dia pun berharap dengan adanya pembangunan beberapa bendungan di NTT, akan membantu pengairi sawah-sawah di musim kemarau.

Sebelumnya, Kepala Divisi Regional (Kadivre) Bulog NTT, Efdal kepada koran ini menyebutkan, pihaknya menargetkan pembelian beras sebanyak 13 ribu ton lebih di NTT untuk tahun 2017. Sayang, hingga Agustus, baru direalisasi kurang daro 2.000 ton.

Efdal akui, minimnya realisasi karena para petani masih fokus memenuhi kebutuhan beras di NTT. Selain itu, harga beli dari Bulog pun belum bisa menjangkau patokan harga beras di NTT. Karena menurut dia, dengan produksi yang terbatas, petani dipastikan akan mematok harga tinggi.(cel)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!