Salmun Tabun Minta Ditahan Kembali – Timor Express

Timor Express

RAGAM

Salmun Tabun Minta Ditahan Kembali

AKRAB. Salmun Tabun (kiri) saat berdiskusi dengan Kasi Pidsus Kejari TTS, Patrik Neonbeni di pelataran Kantor Pengadilan Tipikor Kupang usai sama-sama menyatakan menerima putusan majelis hakim, Selasa (19/9).

TOMMY AQUINODA/TIMEX

JPU-Terdakwa Terima Putusan Majelis Hakim

KUPANG, TIMEX–Putusan terhadap Salmun Tabun, terdakwa dalam perkara korupsi dana makan minum untuk kegiatan pelantikan Bupati-Wakil Bupati TTS periode 2014-2019 dan peresmian Kantor Bupati TTS, akhirnya berkekuatan hukum tetap (inkracht). Pasalnya, di akhir masa menentukan sikap, Selasa (19/9), Penuntut Umum dan terdakwa memutuskan untuk menerima putusan majelis hakim.

Yang menarik, Salmun Tabun yang adalah Sekda TTS non aktif itu langsung meminta JPU, Patrik Neonbeni untuk segera melakukan penahan atas dirinya, pasca enyatakan menerima putusan.

Pantauan Timor Express, JPU, Patrik Neonbeni tiba lebih awal di Kantor Pengadilan Tipikor Kupang sekira pukul 14.15 Wita. Disusul Salmun Tabun bersama keluarga dan penasihat hukumnya, Philipus Fernandez yang tiba sekira pukul 14.30 wita. Selanjutnya mereka bersama-sama menuju ruang Panitera Muda (Panmud) Tipikor, Daniel Siki.

Kepada wartawan usai bertemu Panmud Tipikor, Salmun Tabun mengatakan, setelah mempertimbangkan banyak hal dan berkomunikasi dengan Tim Penasihat Hukum, dia akhirnya menyatakan sikap untuk menerima putusan. Sebab dia tidak ingin proses hukum terhadap dirinya berlarut-larut, serta menimbulkan kegaduhan hukum. “Nilai kerugian dalam perkara ini sangat kecil, tetapi putusan pada akhirnya seperti ini. Saya pikir, kita sudahi proses ini supaya saya juga tenang menjalaninya. Saya tidak mau ada hiruk pikuk di luar,” ujarnya.

Terkait dengan penahan, Salmun menagaskan, dia dan penasihat hukumnya tidak pernah mengajukan penangguhan penahanan. Penetapan itu, kata dia, lahir dari kebijakan majelis hakim, sehingga perintah itu dijalaninya. “Silakan tanyakan kepada majelis hakim yang menetapkan penangguhan penahanan. Itu kebijakan majelis hakim,” katanya.

Salmun mengaku, dia siap untuk ditahan setelah menyatakan menerima putusan. Kesiapannya itu sudah disampaikan kepada Penuntut Umum karena dia ingin menjalani putusan dan tidak ingin berlama-lama di luar. “Hari ini (kemarin, Red) saya juga minta untuk segera dieksekusi. Itu pernyataan sikap saya untuk semua orang tahu bahwa walaupun kerugian negara sangat kecil, saya tetap menghargai proses hukum,” jelasnya.

Salmun kembali menyinggung laporan polisi yang sudah diterima Polda NTT mengenai penghilangan barang bukti (nota kuitansi pembelian snack, Red) oleh jaksa penyidik. Dia berharap, proses hukum dari laporan tersebut harus tetap berjalan. “Saya sudah diperiksa sebagai saksi. Kita akan pantau bersama supaya prosesnya berjalan,” katanya.

Sementara JPU, Patrik Neonbeni mengatakan, sebelum menyatakan menerima putusan, ada kekhawatiran yang sama dari pihak terdakwa maupun Penuntut Umum. Sebab mereka khawatir jangan sampai di akhir masa pikir-pikir kemudian salah satu pihak menyatakan upaya hukum banding. “Ternyata pihak terdakwa tidak nyatakan upaya hukum banding. Kami pun sama. Pertimbangan dari segi ketentuan, putusan majelis hakim ini sudah pas. Bukan di bawah dua per tiga dari tuntutan,” sebutnya.

Patrik menambahkan, penetapan penangguhan penahanan terhadap terdakwa merupakan perintah majelis hakim yang harus juga dijalankan oleh Penuntut Umum. Selanjutnya, di dalam amar putusan, majelis hakim juga tidak mencantumkan perintah penahanan. “Itu merupakan kewenangan hakim. Prinsipnya, kalau sudah sudah inkracht berarti tinggal dieksekusi,” kata Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari TTS itu.

Patrik membenarkan kalau Salmun Tabun meminta untuk segera ditahan. Namun, permintaan itu belum bisa dilaksanakan mengingat pihaknya baru mendapatkan petikan putusan. Dengan demikian pihaknya harus terlebih dahulu melaporkan kepada pimpinan secara berjenjang. Selanjutnya baru disiapkan administrasi dan pemanggilan untuk dilaksanakan eksekusi. “Beliau memang sudah siap untuk ditahan,” tandasnya.

Mengenai tempat penahanan terhadap Salmun, Patrik mengaku belum mengetahuinya. Sebab tahanan di SoE adalah rumah tahanan (Rutan) bukan Lapas. Sedangkan yang namanya melaksanakan pidana, tempatnya adalah di Lapas. “Beliau siap menjalankan masa hukuman di Rutan Kupang. Tapi saya belum bisa ambil keputusan. Kita mesti tunggu kepastian dari Rutan Kupang karena mereka punya rekam masa penahan terhadap terdakwa,” ungkap Patrik. (r2/ito)

 

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!