Dipicu Dendam, Paulus Nafi Tewas Dibacok – Timor Express

Timor Express

KRIMINAL

Dipicu Dendam, Paulus Nafi Tewas Dibacok

TERSANGKA DAN KORBAN, foto insert Adi Dillak saat diamankan di Polres Kupang Kota

IST

Korban Dikejar dan Dua Kali Dibacok di Leher

KUPANG, TIMEX-Diduga dipicu oleh dendam lama, Paulus Nafi, 23, tewas dibacok oleh Adi Dillak, 27, di Baemopu, Kelurahan Lasiana. Akikbatnya, korban yang baru menetap sebulan di Kupang itu tewas di tempat kejadian.

Kasus pembacokan yang terjadi Senin (2/10) sekira pukul 10.24 Wita bertempat di kediaman Ruben Habawalu, Baemopu, membuat warga sekitar heboh.
Sontak, tetangga dan warga yang tinggal di Jalan Johanis Fanggi, RT 26/RW 07, Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang dibuat heboh. Usai membacok korban Paulus Nafi, pelaku Adi Dillak berusaha melarikan diri namun berhasil diamankan warga. Adi Dillak kemudian diserahkan ke aparat Polres Kupang Kota dibantu aparat Polsek Kelapa Lima yang tiba di tempat kejadian perkara usai mendengar peristiwa berdarah itu.

Adi Dillak lalu digelandang ke Mapolres Kupang Kota untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia langsung ditetapkan sebagai tersangka dan disangka Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan Subsidair Pasal 351 ayat (3) tentang penganiayaan yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia.

Hingga petang kemarin, sebanyak empat orang saksi sudah dimintai keterangan. Mereka adalah kakak beradik yang juga ponakan korban berinisial ACH, 9 dan MBH, 5 serta dua saksi lain yakni tetangga korban, Dedi Setiadi Kurniawan Yohanes, 20, dan Leni Alfionita Flirida Yohanes, 24. Korban Paulus Nafi menderita dua luka bacok di bagian leher belakang dan langsung jatuh bersimbah darah dengan posisi menengadah ke langit.

Saksi ACH mengaku, pagi kemarin ia dan korban bersama-sama tinggal di rumah, sementara kedua orang tuanya berangkat kerja. Saat itu, ujar ACH, korban yang juga pamannya itu juga keluar rumah namun sempat menitip pesan ke dirinya supaya tidak ke mana-mana. Namun, selang beberapa menit kemudian, ketika sedang bermain ayunan di luar rumah tiba-tiba ia melihat korban berlari dari belakang rumah karena dikejar pelaku Adi Dillak.

Tiba di samping rumah, korban langsung dianiaya menggunakan parang yang dibawa pelaku. Melihat pamannya dianiaya, ACH lalu berlari ke rumah salah seorang tetangga mereka, Wilhelmina Ratu Millu, 50, dan memberitahukan apa yang dialami korban Paulus Nafi.

Mendengar teriakan ACH, Wilhelmina Ratu Millu lalu memberitahu dua orang anaknya yakni Dedi Setiadi Kurniawan Yohanes dan Leni Alfionita Flirida Yohanes untuk memastikan informasi yang disampaikan saksi ACH. Ketika keluar dari rumah, saksi Dedi dan Leni melihat korban sudah tergeletak bersimbah darah di samping rumah. Dedi sempat mengambil triplex bekas dan menutup wajah Korban yang terpapar sinar matahari. Dedi dan Leni lalu menuju ke rumah ketua RT dan memberitahukan tentang kejadian derdarah yang dialami korban Paulus Nafi.

Tante korban, Rini Habawalu-Nafi kepada Timor Express di Mapolres Kupang Kota siang kemarin mengaku, ia tahu kejadian yang dialami oleh ponakannya Paulus Nafi karena dijemput oleh seorang adiknya di tempat kerjanya di bilangan LLBK. “Selama ini, dia (Paulus Nafi) tinggal di Ende dan baru kembali ke Kupang satu bulan lebih dan tinggal dengan kami di Lasiana. Tadi pagi (Kemarin, Red), dia tidak berangkat kerja sehingga dia dengan anak-anak di rumah. Paginya, saya sempat bangunkan dia dan saya tanya mau berangkat kerja atau tidak, dia jawab, tidak berangkat kerja karena mau cuci pakaian karena sudah rendam dari malam hari,” ungkap Rini.

Sementara Ruben Habawalu kepada Timor Express juga mengatakan, sebelumnya, korban sempat terlibat cekcok dengan Marthen Dillak serta anak-anaknya, salah satunya yakni pelaku bacok Adi Dillak. Cekcok itu diduga akibat pengaruh minuman keras. “Beberapa bulan lalu Paulus Nafi dan Marthen Dillak sempat terlibat cekcok. Mereka sampai pegang parang dan saya sempat lerai tapi sampai ke rumah mereka saya hanya bilang saya datang untuk lerai dan saya tidak berani melawan karena mereka semua pegang parang,” ujar Ruben.

Padahal, Paulus Nafi seharian bekerja sebagai buruh bangunan bersama Ruben Habawalu di seputaran Kelurahan TDM, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.
Kapolres Kupang Kota, AKBP Anthon C. Nugroho yang diwawancarai melalui kasat Reskrim AKP Alnofriwan Zaputra siang kemarin di ruang kerjanya menegaskan, pihaknya langsung turun ke lokasi dan melakukanm olah TKP usai mendapat informasi kejadian berdarah itu. “Pelaku sudah kita tahan dan statusnya sudah kita tetapkan sebagai tersangka. Dia kita sangka dua pasal sekaligus yakni Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan Subsidair Pasal 351 ayat (3) tentang penganiayaan yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia. Barang bukti berupa satu buah parang sudah kita amankan,” kata Alnof.

Diakuinya, jasad korban juga diotopsi dan pihaknya sudah meminta hasil otopsi dari tim medis RS Bhayangkara Titus Uly Kupang. “Kita masih akan periksa saksi-saksi terkait kasus ini. Tersangka juga sudah kita tahan di sel tahanan Mapolres Kupang Kota,” tutup Alnof. (gat/ito)

Sempat Beli Tiga Pasang Sendal

TEWASNYA, Paulus Nafi karena dibacok Adi Dillak meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Salah satunya yakni Rini Habawalu-Nafi. Rini merupakan tante dari Paulus.

Ketika berada di Mapolres Kupang Kota, Rini terlihat shok dan sesekali mengusap air matanya. Dia sangat terpukul dengan tewasnya Paulus Nafi. Selain dikenal sosok yang rajin, warga Sulamu, Kabupaten Kupang itu juga tak suka buat masalah dengan orang lain.

“Selama ini dia tidak punya masalah dengan orang lain. Tadi malam (Minggu malam, Red), dia yang jemput saya di tempat kerja. Kebetulan saya pulang kerja pukul 19.00 Wita. Saat kami pulang ke rumah, dia ajak saya untuk singgah di Subasuka. Katanya mau beli sepatu untuk dia. Tapi, setelah coba sepatu ternyata tidak ada yang cocok. Dia lalu beli sendal,” ujar Rini.

Lantaran tak beli sepatu, maka korban meminta tantenya Rini untuk memilih sendal. “Saya sempat kelakar saya tidak ada uang. Tapi dia jawab, ambil saja nanti dia yang bayar. Dia beli tiga pasang sendal. Satu untuk saya, satu untuk suami saya dan satu untuk dia. Sampai di rumah, dia langsung ambil sendal dan coba dan ternyata pas. Tadi malam juga dia yang masak untuk kami. Setelah selesai masak dia yang sendok untuk kami makan. Dia tidur sekira pukul 21.00 Wita,” ujar Ririn berlinang air mata.

Kondisi yang sama juga dialami ponakan korban ACH. ACH tampak terpukul sekali dengan kematian korban. Pasalnya, ACH adalah saksi mata satu-satunya yang melihat korban tewas dibacok tersangka Adi Dillak. Bahkan ketika meminta tolong ke tetangga rumah ACH sempat teriak, ‘tolong om Paul berdarah’. (gat/ito)



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!