Musim Paceklik, Andalkan Pangan Lokal – timorexpress.fajar.co.id

timorexpress.fajar.co.id

EKONOMI BISNIS

Musim Paceklik, Andalkan Pangan Lokal

BERAS.Kadivre Bulog NTT, Efdal bersama lurah dan camat se Kota Kupang melihat langsung kondisi beras sejahtera di Gudang Bulog di Tenau Kupang beberapa waktu lalu.

CARLENS BISING/TIMEX

Hadji: Beras Mengandung Gula Darah Tinggi

KUPANG, TIMEX-Alam NTT menyimpan pangan yang bisa dimanfaatkan saat musim kemarau yang selalu berujung paceklik. Selain buah-buahan, setiap pulau atau daerah di NTT memproduksi umbi-umbian yang bisa menjadi makanan bagi masyarakat.

“Kita sudah masuk musim kemarau dan kita tidak bisa menghindari karena alam NTT seperti itu. Tetapi tahun ini sebenarnya hasil pertanian kita bagus. Semua petani dapat hasil bagus,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Hadji Husen kepada Timor Express di ruang kerjanya, Selasa (10/10).

Menurut Hadji, stok beras yang beredar di masyarakat mulai berkurang. Meski saat ini masih terdapat 180 ribu ton yang berada di gudang dan petani. “Peredaran beras di masyarakat menipis. Sementara jagung dan umbi-umbian melimpah,” sebut Hadji lagi.

Untuk menjaga kestabilan beras, pihaknya menjalankan program Nona Sari (No Nasi Satu Hari). Tujuannya, agar masyarakat mulai terlatih untuk tidak bergantung hanya pada beras. Karena NTT bukan lumbung beras seperti daerah Jawa Timur, Jawa Barat dan juga Banten.

Untuk mengganti beras, pihaknya melakukan kampanye dengan menggandeng Tim Penggerak PKK provinsi hingga kabupaten dan dinas kesehatan untuk sosialisasi kepada masyarakat, terutama kaum wanita.

Beberapa pangan lokal yang sering menjadi bahan kampanye, yakni umbi-umbian, termasuk putak. Dia jelaskan, pemilihan barang-barang tersebut sudah melalui penilian dan evaluasi terhadap kandungan gizi dari bahan-bahan tersebut.

“Misalnya putak, zat lemaknya 11 persen dibanding beras yang hanya 9 persen. Karbohidrat di bawah beras, 76 persen, sementara beras 90 persen. Beras itu gula darah bisa naik, sementara putak dan umbian itu rendah dan bisa menekan gula darah,” papar Hadji.

Masih menurut dia, saat ini stok beras di distributor sekira 180 ribu ton dan bisa bertahan tiga bulan ke depan. Dia jelaskan, kebutuhan beras untuk 5,287 juta jiwa di NTT mencapai 48.000 ton setiap bulan.
“Secara nasional, setiap orang mengonsumsi 9 kilogram per bulan. Kalau di NTT berbeda. Satu orang rata-rata konsumsi 11 kilogram beras per bulan,” terang dia.

Hal inilah yang mendorong pihaknya untuk mengkampanyekan kelebihan dan keunggulan pangan lokal. Meski tidak lantas mengonsumsi pangan lokal setiap hari, namun secara bertahap bisa mengurangi konsumsi beras. “Kalau kita kurangi makan beras, kan kita selalu punya stok. Sehingga ketika beras sulit, kita tetap bertahan,” tutup dia.(cel)

Click to comment

Most Popular

To Top