Realisasi Bahan Tidak Sesuai Kebutuhan – Timor Express

Timor Express

RAKYAT TIMOR

Realisasi Bahan Tidak Sesuai Kebutuhan

MEMBANGUN. Yosep Baker, warga penerima manfaat bantuan stimulan sibuk mengerjakan rumahnya, Selasa (10/10).

YOHANES SIKI/TIMEX

Bantuan Stimulan untuk 75 Rumah Warga Aplasi

KEFAMENANU, TIMEX – Sebanyak 75 warga Kelurahan Aplasi Kecamatan Kota Kefamenanu, menerima bantuan stimulan untuk pembangunan rumah tidak layak huni. Program bantuan rumah Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Provinsi NTT, terancam gagal karena realisasi bahan tidak tepat, bahkan selesai tidak sesuai target akhir Oktober.

Pantauan Timor Express, Selasa (10/10), sebagian rumah belum memulai aktivitas pekerjaan. Sejumlah penerima manfaat mengaku, penyebab keterlambatan karena terlambatnya pendropingan material. Bahkan, material yang didroping tidak sesuai kebutuhan seperti pengadaan besi beton dan paku. Selain itu, permintaan batako tapi realisasinya batu merah yang tidak berkualitas karena sudah hancur sebelum dimanfaatkan.

Serigius Nule, warga RT 09/RW 04 mengaku senang dan bangga bisa mendapat bantuan dari pemerintah untuk membangun rumahnya. Meski begitu, realisasi bantuan perlu diperhatikan tim teknis dan suplayer pengadaan barang, sehingga tepat sasaran dan material sesuai kebutuhan untuk setiap penerima manfaat.

Misalnya, jumlah dan jenis batako yang berkualitas, pengadaan jumlah dan ukuran besi beton termasuk jumlah ukuran paku yang digunakan.

Menurutnya, pembelanjaan item yang tidak tepat sesuai kebutuhan, sebaiknya jangan dibelanjakan tetapi dialihkan untuk item lain yang nantinya dibutuhkan. Sebab, anggaran untuk bangun baru hanya Rp 15 juta, sehingga tentu harus hemat dan pembelanjaan barang harus sesuai kebutuhan penerima manfaat.

Terbukti, salah satu tetangga rumah yang juga terdata sebagai penerima manfaat, Agustino de Jesus, rumahnya hanya untuk rehab tetapi pendropingan besi beton ukuran 12 mm jumlahnya banyak, sehingga mubazir tidak dipakai.

“Inikan bantuan stimulan dan kerja swadaya penerima manfaat. Sehingga anggaran yang terbatas pembelanjaan juga harus sesuai kebutuhan, sehingga bisa digunakan. Batu merah tidak kuat sehingga kita belum pakai sudah hancur. Ukuran paku yang dibutuhkan paku 10 cm tapi yang dibelanjakan paku 5 cm, ini yang tidak pas,” ungkapnya.

Dia merincikan, untuk tahap awal bantuan yang sudah diterima berupa batu merah sebanyak 1.600 buah, semen 31 sak, paku ukuran 5 cm dan 7 cm sebanyak 1 kg, 1 ret pasir, besi 6 mm sebanyak 16 dan besi 10 mm sebanyak 31.

Yosep Baker, salah satu warga penerima bantuan mengaku, baru selesai mengerjakan pondasi. Bangunan rumahnya rencana untuk dibangun regel sesuai nilai bantuan, tetapi sudah diarahkan untuk membangun tembok sehingga walaupun sendiri, ia berusaha untuk mengerjakan pasangan tembok. Sehingga dia berharap perlu ada pengertian dari petugas pendamping karena terbatasnya tenaga, sehingga tentu butuh waktu yang cukup hingga finishing.

“Kami di desak untuk harus selesai bangun akhir Oktober. Tapi bahan baru didroping dan kesulitan tenaga sehingga kita tidak bisa selesai cepat,” ungkapnya.
Untuk tahap awal bersama penerima manfaat lainnya sudah teken slip penarikan untuk realisasi tahap II, walaupun kondisi fisik bangunannya belum mencapai 50 persen.

Dia khawatir, nilai bantuan Rp 15 juta tidak mencukupi hingga finishing atap, sehingga tentu butuh tambahan biaya, waktu dan tenaga untuk bisa sampai finishing.
Yosep berharap, pendropingan bahan mestinya ditanyakan sesuai kebutuhan, sehingga bisa dimanfaatkan semuanya.

“Pengadaan material jumlahnya bervariasi untuk setiap warga penerima manfaat seperti semen, batako dan besi beton,” katanya.

Sementara, Lurah Aplasi, Leonardus Suni menjelaskan, bantuan perumahan layak huni merupakan bantuan stimulan dari Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Provinsi NTT.

Sesuai data awal hanya untuk 65 rumah, namun setelah disurvei tim teknis ada penambahan, sehingga jumlahnya menjadi 75 rumah sesuai klasifikasi rusak berat, bangun baru dan rusak ringan untuk rehab.

“Bantuan sesuai klasifikasi kondisi rumah, rusak berat nilainya Rp 15 juta dan rusak ringan Rp 10 juta. Uangnya masuk ke rekening penerima manfaat tetapi bukunya dipegang tim pengelola program yang terbagi dalam dua kelompok,” katanya.

Dikatakan, ukuran luas bangunan baru 6×6 meter dan bangunan rehab setengah tembok tergantung kondisi bangunan penerima manfaat. Untuk pembelanjaan bahan diserahkan kepada suplayer. Sementara penerima manfaat menyediakan bahan lokal seperti kayu dan tanggungan fondasi dan tenaga sehingga kerja tepat waktu.

Menurut Leonardus, bantuan 75 rumah tersebar di enam RT. Pihak kelurahan ikut melakukan pengawasan sehingga pemanfaatan tepat sasaran dan pekerjaan bisa selesai sesuai target akhir Oktober.

Sejauh ini ada bangunan rumah yang sudah selesai sloof atas, ada juga yang belum memulai aktivitas karena lambatnya pendropingan material dan terkendala tenaga kerja tukang.

“Kita arahkan suplayer untuk berdayakan produksi batu merah yang dijual warga di kelurahan kita, asal berkualitas. Tapi tergantung suplayer mau gunakan di lokasi batu yang mana, kita tidak tahu. Intinya, batu harus kuat,” ungkapnya. (mg24/ays)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!