Jacki-Melki Berlalu, Muncul VBL-Yoseph – Timor Express

Timor Express

POLITIK

Jacki-Melki Berlalu, Muncul VBL-Yoseph

Nasdem-Golkar Kembali Mesra

 Koalisi Harmoni Terancam

KUPANG, TIMEX–Sempat diberitakan pecah kongsi dengan bubarnya pasangan Jacki Uly-Melki Laka Lena, kini Partai Nasdem dan Golkar kembali mesra.

Partai Nasdem pun menyebut siap mengusung Ketua Fraksi Partai Nasdem DPR RI, Victor Bungtilu Laiskodat (VBL) sebagai calon gubernur. Senin (13/11), santer beredar informasi bahwa VBL bakal menggandeng politikus senior Golkar yang juga mantan anggota DPR RI, Yoseph Nae Soi.

Saat ini nama pasangan ini tengah dikomunikasikan di DPP Nasdem dan Golkar. Yoseph yang kini menjabat staf ahli Menteri Hukum dan HAM ini saat dikonfirmasi tidak menolak. Ia mengatakan, memang sudah ada informasi bahwa dirinya dipaketkan dengan VBL. Namun, sampai saat ini belum ada keputusan resmi dari DPP. “Masih dikomunikasikan di DPP,” kata Yoseph kepada Timor Express, kemarin.

Ia menambahkan, jika kelak DPP menyetujui dirinya diduetkan dengan VBL, ia selalu siap. “Kalau untuk membangun NTT mengapa tidak. Apalagi kalau berpasangan dengan figur muda yang cerdas dan tegas seperti Bung Laiskodat,” kata Yoseph.

Mantan anggota Komisi V DPR RI ini mengatakan keputusan tertinggi ada di DPP. Oleh karena itu, jika memang namanya yang diputuskan oleh DPP Golkar ia siap melaksanakan keputusan tersebut. “Semuanya saya serahkan ke partai,” tandas Yoseph.
Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto yang dikonfirmasi pun belum memberikan jawaban. Ia mengatakan terkait Pilgub NTT masih berproses di DPP. “Belum diputuskan. Masih dibahas,” kata Novanto kemarin di Kupang.

Sebelumnya, Ketua PP Bali Nusra DPP Partai Golkar, Gus Adi yang dikonfirmasi mengatakan Golkar masih berpeluang berkoalisi dengan Partai Nasdem. Oleh karena itu, saat ini komunikasi masih tetap berlanjut. Tidak hanya Nasdem, tapi juga dengan partai lainnya. “Kita komunikasi dengan partai lain juga karena sampai saat ini belum ada yang final,” ujar Gus.

Sayang Kalau VBL Cagub

Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dikabarkan tengah dipersiapkan DPP Partai NasDem untuk diusung sebagai Cagub di Pilgub NTT 2018.

Nama politisi nasional kelahiran Nusa Bungtilu, Kabupaten Kupang ini mencuat pasca bubarnya koalisi Golkar-NasDem yang sebelumnya mengusung Paslon Jacki Uly-Melki Laka Lena.

Walaupun Sekjen DPP NasDem Johnny G. Plate secara resmi telah menyatakan pihaknya bakal mendorong VBL menggantikan Jacki Uly sebagai Cagub, namun pria yang kini menjadi Ketua Fraksi NasDem di DPR RI itu masih belum mau menanggapi hal tersebut.

Timor Express yang beberapa kali menghubungi VBL via ponsel masih memilih bungkam. Begitupun pesan singkat yang terkirim tak pernah direspon.

Beberapa pihak bahkan menilai manuver DPP NasDem yang tiba-tiba memunculkan nama VBL ke etalase Pilgub NTT hanyalah merupakan skenario politik. Karena, sesungguhnya VBL sama sekali tidak berminat maju di Pilgub.

Sementara Johnny Plate pasca memberikan statemen mengusung VBL, seolah irit bicara dalam menanggapi berbagai pertanyaan kuli tinta seputar langkah politik NasDem selanjutnya di Pilgub NTT pasca pecah kongsi dengan partai berlambang pohon beringin itu.

Pengamat politik nasional asal NTT, Robert Endi Jaweng yang diwawancarai Koran ini di Jakarta, kemarin (13/11), mengatakan, majunya VBL ke kontestasi Pilgub NTT tentunya merupakan hak politik yang bersangkutan, termasuk kewenangan NasDem dalam mengusung calon.

“Itu hak politik mereka, namun terlepas dari kalkulasi politik VBL dan NasDem, ada hal penting lainnya yang perlu dilihat dan dipertimbangkan secara matang,” kata Endi.

Menurut dia, hal pertama yang harus diperhatikan, yaitu hitungan peluang menang atau kalah yang tentunya NasDem punya kalkulasi politik tersendiri.

Sementara yang tidak kalah pentingnya untuk dilihat NasDem sebagai catatan dalam proses politik dimaksud adalah berkaitan dengan peran VBL sebagai politisi yang cukup berpengaruh di level nasional.

“VBL ini kelasnya kelas berat, dalam artian selama ini levelnya dia sudah di nasional dan berperan cukup signifikan. Kita melihat ada kebanggaan dari NTT, dimana salah satu putra terbaiknya ini berkipra dan malah kemudian bisa memastikan beberapa program nasional dibawa ke NTT,” jelas dia.

Harapannya, ke depan VBL tetap memainkan perannya sebagai politisi NTT di level nasional dengan kelasnya yang sudah pada standar tinggi, sambil tetap memastikan semakin banyak program-program nasional bisa dialirkan ke NTT.

Endi mengaku terkadang cemburu dengan kiprah para politisi nasional asal Sumatera Selatan, dimana selama 10 tahun Gubernur Alex Noerdin berkuasa, ada sebanyak Rp 140 triliun dana program nasional mengalir ke daerah itu.

“Sumsel itu maju sekali karena peran para politisi bekerja sama dengan gubernurnya untuk membuat program-program nasional itu bisa dibawa ke daerah. Nah ini yang kita harapkan ke depan VBL tetap memainkan peran sebagai politisi NTT di level nasional dan memastikan semakin banyak program nasional yang bisa dibuat di NTT,” ungkap Endi yang juga Koordinator Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD).

Menurut dia, membangun NTT tidak bisa dilakukan secara maksimal apabila hanya mengandalkan APBD provinsi dan kabupaten/kota yang sangat kecil, karena tentunya akan membutuhkan proses yang sangat lama.

Bagi Endi, harus diingat pula bahwa masalah ketertinggalan NTT bukanlah semata-mata akibat faktor lokal, tapi juga karena kebijakan nasional.

“Kalau mereka yang sudah di nasional mau kembali ke daerah lagi, nanti siapa yang urus di sini. Siapa lagi yang bertugas meyakinkan bahwa kebijakan nasional itu berpihak pada NTT. Kita butuh figur-figur kuat berkelas nasional, punya jam terbang tinggi, jejaring yang kuat dan punya kecintaan besar terhadap NTT seperti VBL, paling tidak untuk memastikan bahwa kebijakan pusat tidak merugikan NTT,” tandas dia.

Terlepas dari hak politik dan kalkulasi NasDem apakah akan tetap mengusung VBL ke Pilgub NTT, menurut dia memang sangat disayangkan kalau kemudian potensi yang selama ini sudah dibuktikan VBL akhirnya harus hilang hanya karena kembali ke daerah.

“Kalau VBL ke daerah, tentu di nasional kita kekurangan atau bisa ketiadaan figur kuat seperti dia. Harus diakui bahwa sangat sedikit politisi NTT yang kemudian bisa bekerja untuk memastikan program-program nasional itu bisa ke daerah. Bagi saya sayang kalau VBL menjadi Cagub,” tandas Endi.

Koalisi Harmoni Terancam

Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, Benny K. Harman dan Benny Litelnoni (Harmoni) mulai terancam. Pasalnya, hingga kini belum ada kepastian dukungan partai politik.

Partai Demokrat dan Partai Hanura belum menetapkan SK untuk pasangan ini. Bahkan, informasi yang diterima Timor Express Senin (13/11), Partai Hanura terancam keluar dari koalisi. Hanura dikabarkan akan berkoalisi dengan Partai Nasdem. Komunikasi dengan Partai Nasdem sedang berjalan di tingkat pusat.

Tak hanya koalisi partai, Hanura juga disebut menyodorkan salah satu kadernya, yakni Andre Garu yang juga anggota DPD RI menjadi calon wakil gubernur dari Victor Bungtilu Laiskodat, calon gubernur dari Nasdem.

Jika Hanura benar-benar hengkang, maka Partai Demokrat bakal kerepotan mencari kawan koalisi baru.

Terkait hal ini, Ketua DPD Partai Hanura NTT, Jimmi Sianto yang dikonfirmasi mengaku belum mengetahui informasi ini. Menurutnya, belum ada informasi dari DPP. Oleh karena itu, kata Jimmi jajaran DPD masih menunggu keputusan resmi DPP Hanura. “Kami belum dapat info soal itu (Hanura gabung Nasdem). Kami masih tunggu keputusan resmi DPP karena ini urusan DPP,” kata Jimmi.

Terpisah, calon wakil gubernur Benny Litelnoni kepada Timor Express membantah jika paket Harmoni bubar karena hengkangnya Partai Hanura. “Itu tidak benar. Itu hoax,” kata Benny di kantor Gubernur NTT, kemarin.

Ia mengakui soal koalisi partai memang masih sementara dibahas di DPP. Bahkan, hampir semua partai belum ada yang menetapkan calonnya. “Semua masih cair dan masih dikomunikasikan. Pada saatnya kami yakin tetap lolos. Tunggu informasinya satu dua hari lagi,” kata Benny. (sam/joo/fmc/ito)

Click to comment

Most Popular

To Top