NTT Peringkat I Pengidap Hepatitis B – Timor Express

Timor Express

RAGAM

NTT Peringkat I Pengidap Hepatitis B

SEMINAR. seminar aksi peduli hepatitis dalam rangka Hari Kesehatan Nasional ke-53 dan hari hepatitis sedunia ke-8, yang digelar Dinas Kesehatan Provinsi NTT, dilangsungkan di Silvya Hotel, Selasa (14/11).

FENTI ANIN/TIMEX

KUPANG, TIMEX — Provinsi NTT merupakan salah satu daerah dengan kasus hepatitis B terbesar di Indonesia.  Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Joyce M. Tibuludji mengatakan NTT menempati peringkat teratas pengidap penyakit hepatitis dengan jumlah sekitar 4 persen. Sejauh ini Dinkes Provinsi NTT melakukan pencegahan atau pemutusan penularan hepatitis dari ibu ke anak. Sedangkan untuk kelompok berisiko lainnya masih sebatas deteksi dini. Setelah diketahui positif baru dikirim ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

Hal ini disampaikan Joyce saat seminar Aksi Peduli Hepatitis dalam rangka Hari Kesehatan Nasional ke-53 dan Hari Hepatitis Sedunia ke-8 yang digelar Dinas Kesehatan Provinsi NTT. Seminar ini dilangsungkan di Sylvia Hotel, Selasa (14/11). Seminar ini mengusung tema ‘Eliminasi Hepatitis Menuju Keluarga Sehat, Selamatkan Generasi Penerus Bangsa.’

Joyce menjelaskan, secara nasional setiap tahun terdapat 5 juta ibu hamil mengidap HBsAg (Hepatitis B surface Antigen) reaktif/positif atau rata-rata tiga persen. Sedangkan sebanyak 95 persen dari lima juta ini potensial mengalami hepatitis kronis. Hepatitis kronis adalah peradangan pada hati yang terjadi lebih dari enam bulan. “Program pencegahan Hepatitis B di Indonesia baru mulai aktif pada 2016,” katanya.

Menurutnya, program ini baru dilaksanakan di Kota Kupang dan baru berlaku bagi ibu hamil. Pogram pengendalian hepatitis bertujuan meningkatkan kesadaran untuk melakukan program screening.

Di program ini sasarannya adalah meningkatkan kesadaran kabupaten/kota untuk melaksanakan sosialisasi atau advokasi hepatitis. Ia menambahkan, untuk NTT, Dinas Kesehatan Provinsi NTT baru mampu menjangkau enam kabupaten dan satu kota. Enam kabupaten tersebut yaitu TTS, TTU, Belu, Sumba Timur, Sikka, dan Flores Timur. Sejauh ini, masih sebatas sosialisasi dan advokasi. Sedangkan yang sudah melakukan deteksi dini baru di Kota Kupang. Joyce menyebutkan, dari karakteristiknya, laki-laki lebih banyak mengidap hepatitis daripada perempuan. “Kabupaten yang tertinggi proporsi hepatits B adalah Sabu Raijua,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan, ada 11 Puskesmas di Kota Kupang dan hanya ada satu puskesmas yang mempunyai fasilitas VCT. Masalah lainnya adalah banyak petugas kesehatan yang ‘bisu.’ Artinya petugas yang jarang melakukan konseling dan penyuluhan. Akibatnya banyak warga yang enggan memeriksakan kondisi kesehatannya. Seperti pemeriksaan sipilis, tes HIV dan penyakit lainnya.

Tahun depan tidak ada anggaran untuk program deteksi dini hepatitis pada ibu hamil. Pasalnya, tidak dianggarkan oleh pemerintah pusat.
Ia berharap, seminar peduli hepatitis ini dapat menjadi tambahan pengetahuan terhadap penyakit khususnya hepatitis. “Mari kita semua bersama-sama memerangi hepatitis B,” ajak Joyce.

Sementara itu, dr. Catharina P. S. Radja Puno-Keraf mengatakan hepatitis B merupakan penyakit terbanyak yang ada di Indonesia bagian timur, termasuk NTT. Pasalnya, screening terhadap hepatitis B dari ibu kepada anak masih minim. Selain itu seks bebas adalah salah satu cara penyebaran Hepatitis B. Anak SMP-SMA di Kota Kupang sekarang sudah melakukan seks bebas. Karena itu peran orangtua sangat penting dalam kondisi ini.

Sementara untuk dunia kerja, kata dr. Catharina, banyak perusahaan yang menolak orang dengan penyakit hepatitis B. Karena hepatitis B merupakan penyakit yang menular dan menyerang kekebalan tubuh atau dapat menurunkan produktifitas. “Karena itu saya sangat khawatir jika screening dini hepatitis B terus seperti ini maka ke depan NTT hanya akan penuh dengan generasi-generasi penyakitan atau sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya.

Ia mengungkapkan, hepatitis B belum menjadi stigma di masyarakat. Oleh karena itu, jangan sampai menjadi stigma sehingga pengidap hepatitis B didiskriminasi oleh masyarakat.

Karena itu, setiap ibu hamil yang terdeteksi hepatitis B, akan dirujuk ke rumah sakit di Kota Kupang. Selanjutnya, pihak rumah sakit yang akan mengajukan ke Dinkes Kota Kupang untuk meminta vaksin. (mg25/sam)

 

Click to comment

Most Popular

To Top