Kompastani Bina Hampir 1.000 Petani – Timor Express

Timor Express

EKONOMI BISNIS

Kompastani Bina Hampir 1.000 Petani

PANEN BAWANG.Penasehat Kompastani, Pdt.Meri Kolimon dan Robert Fanggidae bersama para pendeta dan petani saat panen bawang merah tuk-tuk di kebun milik Ayub Bistolen, Jemaat GMIT Iungboken, Kelurahan Kolhua Kota Kupang, Rabu (15/11).

KOMPASTANI FOR TIMEX

GMIT: Terus Kirimkan Energi Pemberdayaan Ekonomi Jemaat

KUPANG, TIMEX-Kominitas Pendeta Suka Tani (Kompastani) kembali mengelar panen bawang merah tuk-tuk di salah satu komunitas petani binaannya di Iungboken Kelurahan Kolhua, Kota Kupang, Rabu (15/11).

Hadir pada kesempatan itu, penasehat Kompastani, yakni Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt.Meri Kolimon dan Dirut Bank TLM, Robert Fanggidae. Panen dilakukan di kebun milik Ayub Bistoleh dari Jemaat GMIT Ebenhezer Iungboken Kolhua dengan Ketua Majelis Jemaat, Pdt.Nyongki Riri.

Pada kesempatan itu, Pdt.Meri Kolimon meminta para pelayan untuk terus membangun kepercayaan diri jemaat untuk bertani sebagai upaya pemberdayaan ekonomi jemaat. “Terus mengirimkan energi positif dalam memberdayakan ekonomi jemaat,” pesan Meri Kolimon.

Sementara Robert Fanggidae kepada Timor Express menjelaskan, Ayub Bistoleh dan beberapa petani lainnya merupakan Komunitas Insan Sukatani, kelompok binaan Kompastani dan PT.Ewindo. Salah satu jenis tanaman yang dikembangkan adalah bawang merah tuk-tuk yang ditanam dengan cara, bibit disemaikan sampai dengan 40 hari lalu dipindahkan ke bedeng yang menggunakan plastik mulsa. “Yang kita panen ini luasnya 10 are atau 1.000 meter persegi dengan hasil bawang sekira 1 ton,” kata Bobby, sapaan Robert.

Sementara Ketua Kompastani, Pdt.Jefri Watileo secara terpisah kepada koran ini mengisahkan, Kompastani lahir dari kegelisahan beberapa pendeta GMIT terhadap persoalan-persoalan gereja. Mulai dari peningkatan ekonomi jemaat, TKW/TKI non prosedural dari NTT, dan perdagangan manusia dari NTT. Hasil diskusi antara dirinya dan Pdt.Marko Leunupun serta Eben Taemnanu yang adalah pendamping petani dari PT.Panah Merah Indonesia, bersepakat untuk mengumpulkan pendeta-pendeta yang telah bertani hortikultura.

Kesepakatan itu kemudian disampaikan kepada Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt.Merry Kolimon dan Bobby Fanggidae sebagai Majelis Sinode bidang Ekonomi serta Farry Francis sebagai Majelis Sinode GMIT bidang politik. Dan, semua memberikan sambutan hangat dan positif atas gagasan tersebut.

“Atas dukungan yang kuat, kami membuat pelatihan pertama tanggal 27-29 April 2017. Pelatihan ini atas kerja sama Kompastani dengan Sinode GMIT, BPR TLM, Sekolah Lapangan Nekamese, PT.Panah Merah dan Kementerian Pedesaan dan Pembangunan Desa Tertinggal,” kisah Jefri.

Selanjutnya, Kompastani dikukuhkan 29 April 2017 oleh Farry Francis dan Bobby Fanggidae yang juga bertindak sebagai penasehat. Dia sebutkan, selain dirinya, pengurus Kompastani lainnya, yakni Wakil Ketua Pdt.Nyongki Riri, Sekretaris Pdt.Markus Leunupun dan Bendahara, Pdt.Evy Lewaharihi serta Pdt.Marlis Riri-Babys. Sementara Ketua Komisi Pelatihan dan Pendampingan Petani, Eben Taemnanu dan Ali Ade.

Selanjutnya, pelatihan pertanian hortikultura kedua bagi para pendeta telah dilaksanakan beberapa bulan lalu. Dan, sedikitnya 96 pendeta yang telah dilatih untuk dapat menjadi pendamping atau motivator bagi petani-petani yang ada di jemaat. Dari 96 pendeta, belum semuanya menjalankan misi baru tersebut. Menurut Jefri, sudah 38 orang pendeta yang telah mendampingi jemaat. “Informasi dari setiap pendeta yang sudah bertani rata-rata petani yang ada di jemaat berjumlah 20 orang petani. Artinya, baru sekira 760 orang atau lebih petani yang dibina,” terang dia.

Dia tambahkan, Kompastani teruss bergerak. Dia akui, meski baru terbentuk empat bulan, namun berkat semangat para pendeta, sehingga hampir 1.000 jemaat yang dibina. “Memang agak cepat karena banyak pendeta yang sudah jalan. Kompastani tinggal wadahi sambil melatih lebih banyak pendeta lagi,” tutup dia.(cel)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!