Setya Novanto, ‘Tiang Listrik’, dan Kebenaran – Timor Express

Timor Express

OPINI

Setya Novanto, ‘Tiang Listrik’, dan Kebenaran

Oleh: Alexander B. Koroh
(Alumnus Victoria University of Wellington)

Setya Novanto (SN) yang sedang ditahan KPK karena diduga secara kuat telah melakukan tindak pidana korupsi, telah mendukakan bangsa ini. Kejadian diduga keras melakukan tindak pidana itu saja sudah memalukan dan menyedihkan, tetapi lebih menyedihkan lagi adalah “tegar tengkuknya” SN yang tampaknya tidak merasa bersalah, tidak mau bertobat, tetapi terus berupaya dengan sekuat tenaga untuk melawan secara hukum. Tampaknya yang bersangkutan masih berharap, ada “kekeliruan/kesalahan” penerapan hukum yang kemudian dapat melepaskannya dari kasus mega korupsi KTP elektronik. Tegar tengkuknya SN ketika dipanggil KPK waktu lalu, terlihat ketika ia terus mangkir, hingga akhirnya entah disengaja atau tidak, mobil Toyota Fortuner yang ia tumpangi menabrak tiang listrik tepat di perempatan Jalan Permata Berlian, Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

SN Lupa?
Tiang penerangan jalan umum (PJU) bukan tiang listrik yang ditabrak mobil SN tetap berdiri tegak (liputan6com, 17/11/2017). Entah disengaja atau tidak faktanya, tiang PJU akhirnya menjadi kejadian pengantar yang membawa SN ke tahanan KPK. Dalam hal ini, mungkin jika disengaja oleh SN, tabrakan tadi bisa saja dimaksudkan untuk menciptakan opini bahwa SN terzolimi, atau karena serius ingin membantu penegakkan hukum, lalu tergesa-gesa dengan kendaraannya, kemudian terjadilah tabrakan. Tetapi publik tak dapat dibohongi, berbagai pendapat yang disampaikan melalui media sosial menunjukkan betapa publik sangat muak dengan kejadian tadi. Tak ada sedikitpun simpati dari publik terhadap SN. Karenanya dapat dikatakan bahwa ‘rakyat Indonesia’ sangat kecawa dengan sikap dan tindakan picik yang telah ditunjukkan SN dalam menghadapi kasus mega korupsi di atas.
Seyogianya, ketika terjadi tabrakan SN menjadi insaf, bahwa ada invisible hand yang menghentikan langkah tak-kolaboratif yang bersangkutan degan pihak penegak hukum. Akan tetapi karena kekerasan hati dari SN, ia tak mengalami ‘hentakan’ pertobatan dari kejadian dimaksud. Sejarah peradaban manusia menceritakan bahwa “tegar tengkuk” biasanya berakhir fatal. Cerita klasik ketegaran tengkuk raja Firaun untuk mau melepaskan bangsa Yahudi agar dapat kembali ke “the promised land” tidak saja menyebabkan bangsa Mesir tertimpa sepuluh tulah yang mengerikan, tetapi juga pada akhirnya Firaun dan pasukan perangnya mati ditelan gelombang Laut Kolsum. Kejadian tragis yang menimpa bangsa Mesir ini pasti tidak terjadi jika saja raja Firaun menjadi lunak hatinya dan merelakan bangsa Yahudi untuk kembali ke tanah air mereka.

Seturut cerita di atas, adalah baik bila SN, meskipun terlambat, mulai melembutkan hatinya, memohon terang Ilahi untuk bertobat, karena sejatinya semua orang pernah melakukan kesalahan dan dosa dengan model dan bobot yang berbeda. Yang membedakan orang baik dan buruk adalah orang baik akan segera insaf dan mengambil langkah untuk bertobat dan berubah untuk tidak membuat kesalahan yang sama lagi. Keinsafan dan pertobatan SN, pada akhirnya akan menghasilkan kebaikan tidak saja bagi SN dan keluarganya, tetapi juga bagi Partai Golkar, DPR RI, dan bangsa Indonesia. Jika hal ini tidak terjadi, maka penderiataan yang lebih berat akan dialami langsung oleh SN dan keluarganya serta semua institusi bernegara yang berkaitan dengan dirinya.

Pada saat yang sama, SN juga perlu merenung bahwa, tiang PJU yang ditabrak kendaraannya, adalah suatu benda mati yang memberikan kebermanfaatan bagi publik di sekitarnya, berupa penerangan di malam hari bagi area di sekitarnya. Jika tiang PJU saja ada manfaatnya, apalagi kita sebagai manusia. Sebagai makluk cerdas yang beraklak mulia seyogianya dapat memberikan kebermanfaatan yang jauh lebih besar ketimbang tiang JPU tadi. Namun perlu diingat bahwa jika tiang JPU yang tertabrak tadi hingga saat ini tetap saja masih memberikan manfaatnya, SN dengan “tegar tengkuknya” justru tidak sedang bermanfaat, atau dengan kata yang lebih keras, SN sedang melakukan sesuatu yang destruktif bagi dirinya, banyak pihak dan bagi bangsa Indonesia.

Meraih Kebenaran
Kebenaran adalah suatu nilai utama yang selalu ingin diraih oleh setiap manusia. Sebab dengan meraih kebenaran maka berbagai hal baik lainnya akan mengikuti dan membuat kehidupan semakin baik, menjadi damai dan sejahtera. Di dalam kebenaran ada keharmonisan. Sebaliknya, jika kebenaran direduksi, direlatifkan, dan atau diabaikan maka terjadi berbagai kerusakan bahkan kehancuran. Itulah sebabnya, dalam dunia pendidikan misalnya kebenaran ilmiah harus diraih oleh seluruh pembelajar karena dengan kebenaran yang diperolehnya melalui perenungan dan penelitian bila dapat diterapkan dengan baik maka akan menciptakan kebaikan dan kesejahteraan bagi individu dan masyarakat. Melihat betapa pentingnya manfaat kebenaran, sudah sepatutnya kita mengejarnya dan menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Seyogianya, semakin tinggi jabatan seseorang, kerinduannya untuk memiliki kebenaran semakin kuat. Sebab kebenaranlah yang dapat membentengi dan melepaskannya dari berbagai godaan dan kesalahan. Pada saat yang sama dalam kebenaran ia akan dapat melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya. Di dalam kebenaran pejabat negara dapat melepaskan dirinya dari kepentingan-kepentingan picik jangka pendek, dan selalu mengutamakan kepentingan yang lebih luas yakni, kepentingan publik, dan atau kepentingan bangsa. Pejabat negara sekelas SN seyogianya sudah menjadi bagian dari kebenaran itu. Intinya dalam kebenaran seorang pejabat dapat tampil sebagai negarawan, bukan sebagai politisi.

Bila tiang JPU yang ditabrak kendaraan SN tetap tidak bergeming, kebenaran jauh lebih kuat dari tiang listrik. Meskipun kebenaran kemunculannya bisa memakan waktu tertentu, tetapi kebenaran tidak pernah kalah. Oleh karena itu, janganlah menabrak kebenaran, tetapi rengkuhlah kebenaran dan kalungkanlah pada leher kita dan patrikanlah kebenaran dalam loh hati kita. Sebab dengan demikianlah kejujuran dan intergritas yang terbangun di atas dan di dalam kebenaran itu sendiri, dapat membantu kita untuk mewujudkan Indonesia yang kuat, tangguh, dan sejahtera. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!