Toleransi NTT Jadi Contoh – Timor Express

Timor Express

RAGAM

Toleransi NTT Jadi Contoh

WUJUD TOLERANSI. Mantan Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat (kiri) foto bersama Ketua Sinode GMIT Pdt. Mery Kolimon saat kunjungan di Gedung Sinode GMIT, Rabu (6/12)

FENTY ANIN/TIMEX

KUPANG, TIMEX—Keberagaman yang selama ini dirawat dan terpelihara dengan baik di NTT sangat dikagumi, dan menjadi contoh bagi masyarakat Indonesia.

Hal ini diakui Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat saat menyambangi Kantor Sinode GMIT, Rabu (6/12).
Djarot Saiful Hidayat menyambangi Kantor Sinode GMIT didampingi pengurus DPD PDIP NTT Emanuel Kolfidus, Kristo Blasin dan beberapa pengurus lainnya.
Djarot mengungkapkan, keberagaman yang selama ini terpelihara di NTT baik itu dari suku, agama dan budaya sangat baik. Dia mengatakan, toleransi yang ditunjukan Provinsi NTT sangat dikenal. Dengan tali persaudaraan yang begitu erat. Karena itu, katanya keberagaman dan persaudaraan yang sudah terjalin janganlah dirusak oleh kepentingan-kepentingan politik. Dan menghalalkan segala cara untuk meraih jabatan Politik.

“Mari kita tunjukan dan wujudkan politik yang berkeadaban, politik yang berkearifan lokal, dan politik yang benar-benar membangun dan memperkuat keindonesiaan kita,” ungkap Mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Ia berharap, semua masyarakat selalu mengingat akan persaudaraan. Semua orang bersaudara, sesama bangsa Indonesia yang mempunyai hak kebangsaan yang sama. Politik berkeadaban itulah yang ingin terus dikembangkan sama seperti sekarang.
“Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi Sinode GMIT, yang selama ini membantu merawat keberagaman dengan menjaga nilai-nilai toleran sesama warga bangsa, juga membangun politik yang sehat di NTT,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Sinode GMIT Pdt. Mery L.Y Kolimon menjelaskan, tujuan Djarot dan jajaran politisi PDIP NTT datang ke Kantor Sinode GMIT yaitu untuk dua hal. Pertama Djarot datang membawa surat dari Megawati Soekarno Putri sebagai pimpinan DPP PIDP. “Untuk berterima kasih kepada masyarakat NTT yang selama ini, menurut hemat PDIP menjadi benteng keberagaman di Indonesia. Komitmen kebangsaan masyarakat NTT sangat diapresiasi dan diharapkan terus dipelihara,” kata Pdt. Mery.

Yang kedua, jelasnya, untuk meminta bantuan masyarakat NTT, termasuk Sinode GMIT, agar ketika proses politik dalam pesta demokrasi, agar terus menjaga dan mengedepankan praktik politik yang tidak memecah belah bangsa tetapi yang menjaga keutuhan bangsa.

Selain itu, kata Pdt. Mery, agenda lainnya adalah ingin mendengar suara dari GMIT tentang figur-figur yang layak untuk menjadi pemimpin di NTT. Baginya figur tersebut adalah yang mengabdi pada nilai-nilai kebangsaan. Jawaban yang diberikan GMIT memang mengabdi pada nilai-nilai tersebut. “GMIT menahan diri untuk tidak bicara figur,” kata Pdt. Mery. Alasannya, mereka yang terlibat dalam politik di Indonesia maupun di Provinsi NTT adalah putra-putri terbaik NTT dan sebagian adalah warga Gereja GMIT.

“GMIT tidak mungkin berpolitik secara partisan. Prinsip gereja yang kami jaga. Urusan GMIT bukan hanya pemilu dan pemilukada, tapi kepentingan GMIT adalah lestarinya Indonesia dengan nilai-nilai keberagaman yang ada. Dan kami tetap mendukung proses yang ada di PDIP. Kami menahan diri untuk tidak menyebut figur,” ungkapnya.

Kunjungan ini juga mendorong GMIT untuk tidak terlibat dalam politik partisan, tetapi berlandaskan pada nilai-nilai dan membaca kebutuhan NTT yang mendasar serta melihat figur yang tepat. “Memang tidak ada figur yang sempurna tetapi figur yang mampu menjawab realitas berpolitik NTT,” ujarnya. (mg25/ito)

Serap Aspirasi sebelum Penetapan Cagub-Cawagub

MANTAN Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, Rabu (6/12) tiba di Kupang. Ia mendapat tugas khusus dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

Djarot yang juga menjabat Ketua Bidang Keanggotaan dan Organisasi DPP PDIP ini ditugaskan untuk bertemu para tokoh agama dan tokoh masyarakat di Kupang. Tujuannya untuk menyerap aspirasi terkait pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT 2018.
Saat tiba di Bandara El Tari, Djarot dijemput pengurus DPD PDIP NTT. di antaranya Kristo Blasin dan Emanuel Kolfidus serta pengurus lainnya.

Selanjutnya, Djarot bertemu Ketua Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon, Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang dan Ketua MUI NTT, H. Abdulkadir Makarim serta beberapa tokoh masyarakat lainnya.

Kepada wartawan, Djarot mengatakan, dirinya ditugaskan khusus oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk menyerap aspirasi tokoh-tokoh NTT sebelum dilakukan penetapan calon gubernur-wakil gubernur dari PDIP. Oleh karena itu, hasil pertemuan ini akan disampaikan kepada DPP PDIP di Jakarta.

“Saya menyerap aspirasi tokoh-tokoh NTT dan akan sampaikan ke DPP, sehingga nanti calon yang direkomendasikan betul-betul sesuai harapan dan keinginan masyarakat NTT. Tokoh yang dicalonkan betul-betul membawa kemajuan untuk masyarakat NTT,” kata Djarot.
Ia menambahkan, aspirasi dari tokoh-tokoh dan masyarakat NTT, akan menjadi pedoman DPP menentukan calon gubernur NTT. Sebab, calon yang diusung harus benar-benar diinginkan rakyat.

Oleh karena itu, kata Djarot, ia diutus untuk bertemu dengan Ketua Sinode GMIT, Uskup Agung dan Ketua MUI. Selain itu, ia juga diminta bertemu beberapa tokoh masyarakat lainnya, termasuk warga. “Aspirasi dari tokoh-tokoh ini dan juga warga masyarakat. Semua pihak,” ujarnya.

Mantan Wali Kota Blitar ini juga mengaku telah meminta izin kepada Ketua DPD PDIP NTT, Frans Lebu Raya. Pasalnya, kedatangannya memang mendadak. “Baru saya beri tahu (Frans Lebu Raya) kemarin malam. Tapi beliau sekarang berada di Jakarta karena menerima DIPA di Bogor bersama Pak Presiden. Saya izin sama Pak Frans,” kata Djarot.

Fungsionaris PDIP, Emanuel Kolfidus yang ikut menemani kunjungan Djarot membenarkan kunjungan Djarot ke beberapa tokoh agama di Kupang untuk menyerap aspirasi. Menurutnya, pertemuan dengan para tokoh ini hanya bersifat internal. Setelah pertemuan dengan para tokoh, jajaran DPD PDIP NTT juga melakukan pertemuan dengan Djarot. Namun pertemuan ini bersifat tertutup.

“Ini bersifat internal saja. Nanti setelah ini akan kami sampaikan informasinya,” kata Kolfidus.
Sementara itu, Kristo Blasin mengatakan kedatangan Djarot adalah agenda DPP. Oleh karena itu, sebagai pengurus DPD mereka hanya mendampingi. Bahkan, ia mengakui bahwa tidak ada informasi sebelumnya terkait kedatangan Djarot. “Ini mendadak sehingga saya baru ditelpon untuk datang,” ujar Kristo. (sam/ito)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!