Build Nations, Built Schools: Kritik Pendidikan di NTT – Timor Express

Timor Express

OPINI

Build Nations, Built Schools: Kritik Pendidikan di NTT

Oleh: Brevian Rival Rinaldo Angi
(Alumnus SD GMIT Oebelo; Penerima Beasiswa Magister LPDP)

“Build nations; build schools.The most powerful weapon to change the world is education.” Nelson Mandela

“Membangun bangsa; membangun sekolah. Senjata paling ampuh untuk mengubah dunia adalah pendidikan”. Nelson Mandela

Kecewa dan marah ketika mendengar pernyataan negatif dari orang lain terhadap diri kita adalah sesuatu yang wajar namun perlu juga introspeksi mengapa hal tersebut bisa terjadi. Prinsip stimulus dan response, aksi dan reaksi tentunya berlaku dalam hal ini. Dari hasil introspeksi tersebut mesti diambil langkah-langkah konkret untuk sesuatu yang lebih baik.

Stereotip Pendidikan di NTT
Hubungan antara agen dan lembaga atau institusi saling mempengaruhi. Agen yang standing atau outstanding akan berdampak baik pada sebuah institusi dan begitu juga sebaliknya institusi yang baik akan menciptakan agen-agen yang baik bahkan terbaik. Contohnya, hubungan antara Universitas Harvard dan Bill Gates (Pendiri Microsoft), dan Murk Zuckerberg (Penemu Facebook). Dalam contoh ini agen dan institusi saling mempengaruhi. Walaupun keduanya dropout, Harvard telah berkontribusi akan keberhasilan kedua tokoh terkenal ini dan begitu sebaliknya cerita mereka berdua juga merupakan magnet yang menarik para mahasiswa untuk menempuh pendidikan di Harvard dan tentunya dengan standar yang tinggi.
Beberapa waktu lalu banyak masyarakat NTT tersinggung dengan pernyataan Mendikbud tentang tanggapan terhadap laporan yang dikeluarkan oleh Program for International Student Assessmnet (PISA) berkaitan dengan kualitas pendidikan Indonesia yang rendah karena kemungkinan sampel dari survei adalah siswa-siswi dari NTT. Pernyataan mendikbud yang menyinggung kualitas pendidikan di NTT tentunya bukanlah tidak berdasar tetapi atas dasar rekapan data yang ada (dalam kaitan dengan pendidikan nasional bukan survei oleh PISA).
Implikasinya (1) Siswa yang sedang menempuh pendidikan di NTT mendapat pendidikan yang kurang baik. (2) Tamatan dari sekolah-sekolah di NTT merupakan produk yang tidak berkualitas. Saya berpendapat, sikap dari masyarakat NTT yang tersinggung dan menuntut agar sang menteri meminta maaf adalah sesuatu yang bisa diterima dan dimengerti. Namun, menurut saya adalah sesuatu yang tidak bijak jika kita hanya sampai pada tahap menuntut kata maaf dan tidak berbenah untuk masa depan pendidikan NTT yang lebih baik. Sesuatu yang bodoh dan tidak dewasa jika ingin terus menerus ada dalam keadaan negatif yang sama atau mungkin kita sudah nyaman dengan predikat tersebut dan enggan untuk beranjak.
Stereotip tentang mutu pendidikan di NTT yang kurang baik akan berdampak pada psikologis siswa-siswi di NTT. Dalam perlombaan atau tes skala nasional dan pada saat itu isu tentang mutu pendidikan dimunculkan maka akan mempengaruhi psikologis mereka (yang berasal dari NTT) dan ini akan berpengaruh terhadap hasil akhir tes tersebut. Pendapat ini sesuai dengan eksperimen stereotip warna kulit keturunan Amerika-Afrika yang menganggap diri mereka secara intelektual lebih rendah dari pada mereka yang berkulit putih. Hasil tes dengan mengangkat isu warna kulit berbeda dengan hasil tes dengan tidak mengangkat isu warna kulit. Hasil tes dengan tidak mengangkat isu warna kulit memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan dengan hasil tes mengangkat isu warna kulit. Lebih luas lagi dalam konteks nasional, bisa jadi cara pandang akan citra diri yang negatif sebagai siswa-siswi NTT atau lulusan dari sekolah di NTT akan mempengaruhi mereka untuk berpendapat, dan bersaing dalam pemilihan-pemilihan untuk menjadi pemimpin di tempat mereka melanjutkan studi (luar NTT) atau organisasi yang mereka ikuti atau tempat dimana mereka bersosialisasi. (Namun, pendapat ini tidak berlaku bagi mereka yang memiliki cara pikir terbalik, atau anti-mainstream)

Harapan Masa Depan Pendidikan NTT
Prof. Yohanes Surya berpendapat bahwa tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang tidak mendapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan dengan metode yang benar. Beliau membuktikannya dengan berhasil mendidik seorang anak Papua kelas 2 SD yang telah empat kali tinggal kelas menjadi juara olimpiade matematika dan membuat robot tingkat nasional. Dari contoh ini menunjukan bahwa jika seseorang dididik dengan cara (treatment) yang tepat maka hasil (outcomes) pun akan baik. Sikap kita yang tersinggung dengan pernyataan sang menteri adalah baik tapi jangan hanya berhenti di situ, kita harus berbenah dan melakukan langkah konkret untuk keluar dan menaikan kualitas pendidikan di NTT.
Terkait buruknya pendidikan di NTT, pasti ada yang salah, bisa jadi satu pihak yang salah dan bisa juga banyak pihak yang salah. Pada kesempatan ini saya berpendapat bahwa pemerintah daerah (dari tingkat provinsi sampai ke sekolah (yang bersentuhan langsung dengan siswa)) belum berkontribusi banyak untuk menaikan kualitas pendidikan di NTT (seandainya Pak Ahok yang menjadi gubernur NTT bisa jadi banyak yang telah dibebas-tugaskan atau dirumahkan karena bekerja dengan tidak penuh tanggung jawab). Menjadi pertanyaan, apakah pemerintah daerah dan semua yang terlibat dengan pendidikan di NTT memiliki target dan serius untuk meningkatkan kualitas pendidikan di NTT? Atau mungkin ada target tetapi tidak serius dalam eksekusinya dan hal itu hanya merupakan baris dan kolom yang tidak penting di atas kertas.
Sepertinya banyak mental yang perlu direvolusi, menaikan standar capaian dan berkompetisi untuk menaikan mutu pendidikan di NTT. Pemerintah dalam wewenangnya mestinya melakukan penguatan (reinforcement) berupa penerapan hadiah (reward) dan ganjaran (punishment) bagi setiap elemen yang besentuhan dengan pendidikan, yang bagus mendapat reward dan yang tidak bagus mendapat punishmnet. Penting juga, gubernur dan bupati untuk menempatkan orang–orang yang berkompeten di bidang pendidikan. Penempatan jabatan strategis tersebut seharusnya bukan didasari atasdasar suku dan agama tetapi karena profesionalitas. Janganlah sampai ada dalam struktur sebuah lembaga semuanya bersuku tertentu atau beragama tertentu namun jika mereka yang ada dalam struktur memiliki kapabilitas di bidang tersebut maka tidaklah jadi malasah, dan yang menjadi masalah adalah sebaliknya mereka yang tidak kapabel tetapi ada dalam struktur strategis tersebut.Orang yang tidak tepat di tempat yang tepat maka hasilnya kerjanya tidak tepat.
UUD mengatur bahwa APBN untuk pendidikan sebesar 20 persen (saat ini tersebar di 20 kementerian dan lembaga), datang ke APBD pun harusnya seperti itu dan dengan jumlah anggaran yang besar seharusnya sekolah baik fisik bangunan dan pembelajarannya harus representatif sesuai dengan anggaran tersebut. Namun, yang terjadi di lapangan ada sekolah yang bangunan fisiknya tidak layak begitu juga pembelajarannya juga tidak layak. Dana yang seharusnya disalurkan untuk rakyat yang mestinya sampai janganlah masuk kantong pribadi atau golongan, janganlah lagi ada kasus seperti pengadaan buku dan lain sebagainya. Pembangunan-pembangunan yang dibangun dengan tujuan menjadi ikon sebuah kota (Bukan tanda mata kepemimpinan pemimpin) yang harganya miliaran atau bahkan triliunan yang bukan bersumber dari dari APBN (Di luar DIPA) seharusnya ditiadakan karena bukan merupakan prioritas primer. Namun, jika pembangunan itu didapat dari hasil kerja keras melobi pusat maka semestinya pembangunan tersebut tetap dijalankan karena hal itu merupakan usaha untuk memperindah sebuah kota dan berdampak pada pariwisata kota setempat.
Nelson Mandela berpendapat bahwa cara ampuh untuk mengubah dunia adalah dengan dan melalui pendidikan. Jika ingin membangun sebuah bangsa maka bangunlah sekolah. Sekolah yang dimaksud tentunya tidak terbatas pada sekolah secara fisik tetapi semua unsur pendukungnya. Bangunan sekolah, tenaga pengajar, sarana dan prasarana, kurikulum, administrasi, serta hal-hal teknis lainnya adalah suatu kesatuan yang penting untuk diperhatikan dengan serius. Tidak hanya diperhatikan secara klise (Di atas kertas) namun nyata dalam tindakan kerja. Pemerintah daerah dan semua pihak yang terlibat seharusnyaaktif dan kreatif (selama ini masih pasif dan monoton) bekerja untuk memajukan pendidikan di NTT.
Semuanya pasti sepakat bahwa harapan masyarakat NTT adalah naiknya kualitas pendidikan di NTT yang bisa diketahui dari merangkak naik dari ranking pendidikan nasional. Masyarakat NTT akan bangga jika dalam daftar nama yang dikeluarkan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan nanti (Tahun depan atau dua tahun depan, dst) nama NTT tidak lagi berada di urutan buncit dan jika ada survei yang dilakukan oleh PISA atau sejenisnya dan masih didapati bahwa mutu pendidikan di Indonesia dalam tingkat yang rendah, Pak menteri tidak lagi mengkambing-hitamkan NTT. Didiklah mereka maka mereka akan mendatangkan ketentreraman dan sukacita. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!