Dituding Wanprestasi, Jerry Manafe Digugat – Timor Express

Timor Express

RAKYAT TIMOR

Dituding Wanprestasi, Jerry Manafe Digugat

OELAMASI, TIMEX – Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Kupang, Jerry Manafe digugat ke Pengadilan Negeri (PN) Oelamasi karena dituding melakukan wanprestasi. Gugatan wanprestasi dilayangkan Melkisedek Buraen melalui pengacaranya, Dorothea Mahubessy.

Melkisedek Buraen kepada Timor Express, Minggu (7/1) menjelaskan, gugatan dugaan wanprestasi telah didaftar ke PN Oelamasi sejak, Rabu (3/1) lalu dengan nomor perkara: 02/PDT.G/2018/PN.OLM.

Gugatan wanprestasi kata Melkisedek, bermula dari janji Jerry Manafe sebagai ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Kupang kepada dirinya untuk maju di pilkada Kabupaten Kupang sebagai bakal calon bupati. Saat itu, Jerry Manafe meminta sejumlah dana untuk keperluan survei terhadap bakal calon bupati dan bakal calon wakil bupati.

Karena itu, Melkisedek menyetor dana ke rekening Partai Golkar Kabupaten Kupang sebesar Rp 150 juta.
Namun kata Melkisedek, dalam perjalanan Jerry Manafe memilih berpasangan dengan Korinus Masneno. Karena itu, Melkisedek menghubungi Jerry Manafe untuk mengembalikan uang yang telah diberikan ke Partai Golkar Kabupaten Kupang.

Melkisedek menegaskan, karena Jerry terus menghindar saat meminta kembali uangnya, ia pun ke DPP Partai Golkar di Jakarta untuk menanyakan mengenai prosedur yang berlaku di Partai Golkar.

Di DPP Partai Golkar kata Melkisedek, dirinya mendapat informasi kalau semua proses di Partai Golkar tidak menggunakan uang. “Karena saya tidak disurvei, maka saya minta kembali uang. Pak Jerry minta tambah Rp 100 juta tapi karena pak Jerry sudah dengan pak Korinus, saya tidak mau,” katanya.

Melkisedek mengaku, setelah dirinya selidiki di DPP Partai Golkar, ternyata DPP tidak tau ada kesepakatan antara dirinya dengan Jerry Manafe mengenai pemberian uang untuk survei. “Partai seakan-akan dia punya. Dia nantang saya lewat WA untuk lapor. Karena itu relawan saya yang lapor di Pengadilan Negeri Oelamasi,” kata Melkisedek.

Sementara itu, Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Kupang, Jerry Manafe yang dikonfirmasi Timor Express di kediamannya, Minggu (7/1) petang menjelaskan, ia tidak mengenal Melkisedek Buraen. Suatu ketika, diawal tahun 2017 lalu, ia ditelepon oleh Ketua Partai Golkar Kecamatan Amarasi Selatan, Yeri Finit.

“Yeri Finit telepon bilang ada orang mau perlu bapak, minta bapak punya nomor. Katanya Melki Buraen. Saya belum pernah kenal orangnya. Jadi dia bilang boleh ko? Saya bilang boleh. Setelah kasih nomor, dia (Melkisedek Buraen, red) telepon saya dan dia minta ketemu. Dia datang ketemu saya dengan Christian Neno Siki. Datang ketemu dan minta kalau bisa dia melamar saya jadi calon wakil bupati. Dia bupati saya wakilnya,” jelasnya.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kupang ini menjelaskan, saat itu dirinya memberi penjelasan kepada Melkisedek kalau di Partai Golkar ia tidak bisa menentukan dirinya wakil atau bupati. Bahkan dirinya juga tidak bisa menentukan bisa maju atau tidak di pilkada.

“Tapi Golkar itu semua mekanisme lewat survei. Jadi dia masih tawarkan bagaimana kalau kita pakai pintu Golkar, apakah ada mahar. Saya bilang Golkar tidak ada mahar. Golkar juga tidak pakai daftar mendaftar tapi Golkar pakai survey. Dari hasil survei itu DPP menentukan apakah bisa nomor satu atau nomor dua, itu hasil survei. Tapi ketua partai wajib hukumnya diservei. Tapi tidak otomatis saya harus jadi calon,” jelasnya.

Menurut Jerry, ia sudah menjelaskan kepada Melkisedek berulang-ulang kalau mekanisme Golkar seperti itu. Jika Melkisedek mau berpasangan dengan Jerry Manafe, harus melalui survei. “Saya bilang survei partai Golkar itu berkisar dari Rp 100 juta sampai Rp 150 juta. Tapi kalau sekarang lebih juga saya tidak tahu karena waktu saya tahun 2013 masih sekitar Rp 150 juta. Tapi kalau sekarang lebih juga berkisar antara Rp 200 juta sampai Rp 250 juta. Survei di Golkar kita tidak bisa minta sembarang survei. Kita bisa minta lewat DPP dan DPP lah yang menentukan lembaga survei yang mana. Jadi dia katakan setuju, pak Jerry tolong cari tahu. Saya bilang pak Melki, saya tidak bisa putuskan lembaga survei yang mana dan harga berapa nanti saya kontak ke DPP. Terus dia kontak saya, terus dia datang disini (kediaman Jerry Manafe, red). Beberapa kali datang di rumah Tarus beberapa kali datang di rumah Ponain minta saya survei dan dia siap bertanggung jawab. Dia siap keluarkan dana untuk servei,” urainya.

Menurut Jerry, dia tidak berniat untuk maju dalam pilkada Kabupaten Kupang. Diakui, Melkisedek Buraen merupakan orang pertama yang datang meminta dan mendorongnya untuk maju. “Setelah omong dia menyetujui survei. Saya cek ke DPP, DPP menyampaikan tunggu nanti DPP punya waktu kapan survei akan dikasih tahu dan lembaga survei yang mana akan sampaikan dan harganya berapa akan disampaikan,” ujarnya.

Jerry mengaku, uang yang ditransfer Melkisedek langsung ke rekening DPD II Partai Golkar Kabupaten Kupang. “Saya tidak mau terima itu uang, karena saya sudah berasa, apakah survei ini memungkinkan atau tidak. Jangan sampai nanti kita polemik di kemudian hari. Saya tidak mau. Uang seluruhnya kirim ke rekening Golkar. Di rekening Golkar lah uang itu masuk. Saya menarik uang Rp 150 juta bersama bendahara. Karena ini organisasi dan saya tidak bisa tarek sendiri dan uang itu kita kirim ke lembaga survei,” ujarnya.

Dijelaskan, survei dilakukan semua. Tidak bisa dilakukan untuk Melkisedek sendiri atau Jerry Manafe sendiri. Karena survei dilakukan secara keseluruhan. Siapa yang terwacana di masyarakat, pasti disurvei, setelah dilakukan survei, hasil survei ada. “Untungnya saya, saya bilang pak Melki kita harus buat pernyataan karena saya takut. Dia bikin pernyataan. Ada pernyataan hitam diatas putih diatas materai. Menyatakan dia yang meminta dan dia siap menanggulangi survei. Hasil survei ada dan pernyataannya ada,” katanya.

Jerry menjelaskan, langkah yang baik diambil Melkisedek untuk melaporkannya di pengadilan. “Tapi ingat, saya akan membuktikan semua di pengadilan. Kalau sampai dengan pak Melki punya pengaduan tidak terbukti, maka saya juga akan menuntut nama baik saya. Karena ini momen politik dan ini sudah tersiar. Sudah tidak pak Melki, pengadilan dan saya, tapi ini sudah wacana umum. Ini sangat merugikan saya dari sisi politik maupun sisi pribadi saya maupun keluarga saya. Ini sangat merugikan,” tegasnya. (ays)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!