Provinsi Sumba Makin Bergaung – Timor Express

Timor Express

NASIONAL

Provinsi Sumba Makin Bergaung

SATU SUMBA. Para tokoh memperlihatkan simbol Salam Satu Sumba usai penandatanganan logo baru tersebut, Sabtu (27/1) malam di Gedung Cut Nyak Dien, Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur.

OBED GERIMU/TIMEX

IKBS Luncurkan Logo Salam Satu Sumba

JAKARTA, TIMEX-Sekira dua ribu lebih warga diaspora asal Sumba yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Sumba (IKBS) se-Jabodetabek menggelar perayaan Natal dan Tahun Baru bersama, Sabtu (27/1) malam.

Menariknya, pada acara yang berlangsung di Gedung Cut Nyak Dien, Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur itu, IKBS juga meluncurkan logo Salam Satu Sumba. Ini merupakan bagian perjuangan pembentukan provinsi Sumba.

Penandatanganan bersama logo tersebut dilakukan Celestinus Tamo Ama Reda selaku penggali Salam Satu Sumba, Umbu Tanggela sebagai seniman lukis Sumba pembuat logo tersebut, Ketua Umum IKBS Mikael Umbu Zasa, Agustinus Tamo Mbapa mewakili diaspora Sumba Barat Daya (SBD), Deddy Awang mewakili Sumba Barat, Teni Hamadoku mewakili Sumba Tengah, Umbu Luki Kapita mewakili Sumba Timur dan Letkol TNI AU Gerardus Maliti mewakili tokoh muda Sumba.

Celestinus Tamo Ama Reda saat diwawancarai Timor Express mengatakan, logo Salam Satu Sumba melambangkan gairah dan semangat orang Sumba untuk bangkit dan menjadi setara dengan wilayah lain di NTT dan Indonesia dalam seluruh dimensi kehidupan manusia.

“Salam Satu Sumba adalah kerinduan orang Sumba agar suatu waktu menjadi provinsi sendiri yaitu Provinsi Sumba,” kata Celestinus.

Mengenai istilah penggali Salam Satu Sumba yang dipakainya, Celestinus mengaku meminjam konsep Presiden Soekarno yang tidak menyebut dirinya sebagai pencipta Pancasila tetapi sebagai penggali Pancasila, karena sesungguhnya Pancasila sudah hidup dalam masyarakat Indonesia.
“Kami pun memakai istilah penggali, karena Salam Satu Sumba itu sudah hidup dalam diri orang Sumba,” tandas dia.

Mengenai logo yang bergambar satu tangan mengepal dengan jari telunjuk ke atas, menurut Celestinus mengekspresikan sebagai lambang persatuan orang Sumba.

Selain itu di dalam logo tersebut pun ada guratan-guratan hitam yang cukup tajam dan keras.
Guratan itu, kata dia, menandakan suatu kegeraman orang Sumba karena posisinya yang seolah-olah kurang diperhatikan dalam konteks NTT maupun Indonesia.

“Jadi kegeraman itu bukan dalam konteks memarahi orang lain. Kita sendiri menyadari punya banyak kekurangan, maka kita harus bangkit dan menjadi sesuatu agar bisa sejajar dengan wilayah-wilayah lain di NTT maupun di Indonesia,” sebut dia.

Masih menurut dia, guratan dalam logo tersebut juga menjadi suatu semangat untuk bangkit menjadi lebih baik lagi ke depan.
Setelah logo diluncurkan, Celestinus mengatakan IKBS juga akan mengaplikasikannya dengan menggelar konser Salam Satu Sumba, termasuk pembuatan kaos, stiker dan media lainnya dalam rangka sosialisasi.
“Pasca dikumandangkan Salam Satu Sumba, diaspora Sumba se-Jabodetabek maupun di Sumba akan bekerja sama untuk mewujudkan Provinsi Sumba,” imbuhnya.

IKBS juga disebutkan memiliki program dengan mulai membina kader-kader mudanya untuk menjadi politisi maupun untuk bekerja pada bidang-bidang lain yang sifatnya profesional.

Sebagai tindak lanjut dari semangat bersama tersebut, Ketua Umum IKBS Mikael Umbu Zasa juga terus membangun komunikasi secara informal dengan para bupati se-daratan Sumba.

“Pada dasarnya mereka mendukung, bahkan ada yang sangat mendukung Salam Satu Sumba menuju Provinsi Sumba. Di Sumba juga sudah membicarakan, mewacanakan dan menggaungkan semangat yang sama. Sesungguhnya semangat ini bukan hanya di IKBS, tetapi sudah menyebar sampai ke Sumba,” ungkap dia.

Ketua Umum IKBS Mikael Umbu Zasa pada kesempatan itu mengatakan, dengan adanya logo Salam Satu Sumba maka selain tetap merasa diri sebagai orang Sumba Timur, Sumba Barat, SBD dan Sumba Tengah, tapi pada saat yang sama harus menyatukan hati sebagai satu Sumba.

“Perbedaan-perbedaan yang ada bukan untuk membuat kita berkelahi satu sama lain, tapi justru memperkaya dan memperkuat kita untuk menjadi orang Sumba. Lewat Salam Satu Sumba ini kita menyerukan agar orang Sumba di mana saja berada merapatkan barisan agar mimpi kita menjadi Provinsi Sumba cepat terwujud,” ungkap Mikael.

Mayjen TNI (Purn) Jan Pieter Ate selaku penasihat IKBS, mengatakan, Salam Satu Sumba adalah lambang perjuangan orang Sumba, karena bagi dia yang bisa menentukan masa depan Sumba adalah orang Sumba sendiri. “Kita tidak bisa berharap kepada orang lain untuk menentukan masa depan kita, karena mereka pun sedang memikirkan masa depan mereka. Karena itulah kita sebagai orang Sumba harus bersatu menuju masa depan yang lebih baik dan lebih hebat,” tandas Pieter.

Sementara itu, dari beberapa kali seremoni serupa tersebut digelar, baru kali ini diaspora Sumba Timur di Jabodetabek tampak terlibat secara penuh dengan menampilkan tarian Harama dan tarian Kabokah.
Tarian Harama adalah tarian penjemputan untuk para bangsawan, para raja atau orang-orang terhormat, dimana dalam konteks Natal tarian tersebut ditampilkan untuk menyambut Yesus Kristus sebagai sang Raja Damai. (joo/fmc/ito)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!