Tokoh Agama Kecam Tragedi Sleman – Timor Express

Timor Express

KRIMINAL

Tokoh Agama Kecam Tragedi Sleman

JAGA KEAMANAN. Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (tengah) menjawab pertanyaan jurnalis seusai meninjau Gereja Santa Lidwina Bedog, pasca diserang oleh pelaku teror, Minggu (11/2).

Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja

KUPANG, TIMEX—Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Merry Kolimon mengecam keras penyerangan yang dilakukan saat perayaan misa di Gereja Santa Lidwina Sleman Minggu kemarin.
“Sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan yang Maha Esa. Komitmen bangsa kita adalah memberi tempat yang tinggi kepada rasa keberagamaan. Dan apa yang terjadi di Jogja saat kebaktian itu adalah kejahatan yang sangat luar biasa,” kata Pdt. Merry Minggu kemarin.
Karena itu Pdt. Merry meminta pelaku ditindak tegas sesuai hukum. Dirinya juga meminta penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini terutama motif tindakan tersebut. “Aparat keamanan juga harus memberikan jaminan keamanan agar masyarakat di sana bisa merasa tenang dan tidak terpengaruh dengan isu-isu yang lain,” katanya.
Pdt. Merry mengimbau seluruh masyarakat NTT agar tidak terpengaruh dan terpancing dengan aksi yang dilakukan di Sleman tersebut. “Kita beri kesempatan kepada polisi, aparat keamanan untuk menindaklanjuti semua. Mengurus dan menyelidiki sampai tuntas dan dengan seadil-adilnya,” tegasnya.
Dirinya meminta umat Kristiani di NTT menahan diri dengan tidak melakukan aksi-aksi yang memperkeruh situasi. “Tetap menjaga toleransi dan suasana damai, suasana kerukunan yang selalu ditunjukan masyarakat NTT. NTT selalu menjadi provinsi contoh toleransi yang kuat. Hal ini harus terus dijaga dan dipelihara dan tidak terpengaruh dengan kejadian di daerah lain,” harap Pdt. Merry.

Coreng Pluralitas

Aksi yang terjadi di Gereja Santa Lidwina Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2) itu juga dinilai sebagai aksi yang mencoreng pluralitas. Pasalnya, pluralitas atau kebinekaan selama ini terjalin dengan baik.
Hal ini dikatakan rohaniawan Katolik Romo Amanche Ninu kepada koran ini Minggu kemarin. “Tragedi di Gereja Santa Lidwina Sleman adalah luka di tubuh Indonesia kita, dan noda yang mencoreng pluralitas dan wajah ke-Indonesiaan kita,” kata Romo Amanche.
Kepala Sekolah SMP St. Yoseph Kupang ini juga mengatakan, tragegi itu sekaligus mengindikasikan bahwa bangsa dan negara ini sedang sakit karena dirongrong oknum-oknum jahat. “Tragedi Sleman jangan dilihat sebagai sebuah tragedi biasa. Ini kejadian luar biasa yang perlu ditangani serius dan terus menerus. Tragedi Sleman adalah salah satu dari banyak persoalan akut bangsa ini yang perlu diselesaikan,” tegasnya.
Selain doa yang penuh iman, lanjut Romo Amanche, kita perlu bekerja untuk kedamaian sejati bagi bangsa dan negara ini. “Ini bukan hanya luka, tetapi juga duka yang kelabu yang mengganggu seluruh kebersamaan Indonesia kita,” tegasnya.
Karena itu menurut dia, persoalan di Gereja Sleman tidak boleh berhenti hanya pada penangkapan dan proses hukum bagi pelaku. “Tragedi di Gereja Sleman harus menjadi titik acu untuk membongkar kedok kemunafikan segelintir oknum yang ingin merusak kebersamaan Indonesia kita. Selain ketegasan hukum bagi pelaku, negara ini perlu memberi jaminan bagi orang-orang yang mau menjalankan imannya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua MUI NTT Abdulkadir Makarim juga mengutuk tragedi penyerangan di Gereja Santa Lidwina Sleman tersebut. Menurutnya, tindakan itu dilakukan oleh oknum yang tidak menghendaki toleransi. “Itu tindakan yang dilakukan oleh oknum yang tidak menghendaki toleransi dalam kehidupan berbangsa,” kata Makarim.
Dirinya juga meminta tragedi yang terjadi di Sleman itu tidak berdampak ke daerah lain. Khusus NTT, Makarim menilai, toleransi selama ini sudah terjalin dengan sangat baik. “Saya harap toleransi yang sudah terjalin dengan baik di NTT terus dirawat. Tragedi di Sleman itu tidak boleh mengganggu toleransi kita di NTT,” harap Makarim.

Polres Purworejo Pertebal Pengamanan

Sementara itu, jajaran Polres Purworejo melakukan perkuatan pengamanan peribadahan, utamanya umat Kristiani di wilayah Kabupaten Purworejo. Hal ini menyusul adanya aksi pembacokan yang terjadi di Kabupaten Sleman, Jogjakarta. Adapun perkuatan itu dilakuan di tingkat kepolisian sektor yang diminta meningkatkan patroli.
Kabag Ops Polres Purworejo Kompol Setyoko menyatakan hal itu saat dihubungi koran ini, kemarin (11/2). Dirinya berharap adanya kejadian itu tidak akan berimbas luas dan situasi di Kabupaten Purworejo akan tetap terkendali.
“Di Purworejo, pengamanan tempat ibadah sudah menjadi hal yang rutin dilakukan. Utamanya di jajaran Polsek,” kata Kabag Ops.
Secara rutin, petugas kepolisian sektor telah turun melakukan pengamanan saat adanya peribadahan. Hal ini diharapkan bisa menjaga suasana aman dan damai di Kabupaten Purworejo.
“Memang pasca adanya kejadian itu, kita harus lebih waspada lagi. Dan semua jajaran di Polres Purworejo telah diminta meningkatkan pengamanan,” jelasnya.
Diungkapkan jika ada instruksi khusus yang dikirimkan ke setiap polsek agar mempertebal pengamanan yang sudah dilakukan. Selain pengamanan saat adanya peribadahan, petugas juga diminta melakukan patroli rutin untuk memastikan semuanya dalam kondisi terkendali.
“Ada pengalaman tersendiri bagi kita karena dulu pernah terjadi teror di sebuah gereja di Kabupaten Purworejo. Ini menjadi pelajaran kita bersama agar kejadian yang berbau agama atau apapun itu tidak terulang kembali di Purworejo,” imbuh Setyoko. (mg25/jpg/ito)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!