Atang: Penentu Kemenangan Sekarang di Flores – Timor Express

Timor Express

POLITIK

Atang: Penentu Kemenangan Sekarang di Flores

Ahmad Atang

PENGAMAT politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang Dr. Ahmad Atang memiliki analisis sendiri soal Pilgub NTT 2018. Jika dua Pilgub sebelumnya PDIP dengan koalisinya begitu mendominasi, maka saat ini justru PDIP menghadapi tantangan yang sangat besar. Itu seiring OTT KPK terhadap Cagub PDIP, Marianus Sae.

“PDIP memiliki beban politik yang relatif besar karena 10 tahun memimpin. Untuk mempertahankannya membutuhkan figur sekuat Frans (Ketua DPD PDIP NTT Frans Lebu Raya). Walaupun sebagai partai besar tidak menjamin untuk menang sehingga tumpuannya ada pada Marianus. Dengan kasus yang sedang dihadapi Marianus menurut saya PDIP harus lebih realistis,” kata Atang.

Hitungan Atang, untuk menang di Pilgub 2018, pasangan calon paling tidak mendapatkan dukungan lebih dari 700 ribu. “Namun, jika tingkat partisipasi masyarakat di bawa 80 persen maka dengan dukungan di atas 600 ribu bisa menang,” kata Atang.

Menurutnya, jika Marianus Sae tidak terjerat kasus hukum maka yang menentukan kemenangan adalah Sumba. Namun sekarang bukan lagi Sumba sebagai penentu. Yang menentukan kemenangan di Pilgub 27 Juni nanti adalah di Flores. “Pemilih Flores, Lembata dan Alor kurang lebih 1,5 juta orang. Pemilih Timor, Sabu dan Rote sekitar 1,3 juta orang lebih. Dan pemilih Sumba sekitar 530 ribu lebih,” jelasnya.

Dari latar belakang agama, lanjut Atang, pemilih Katolik sekitar 1,8 juta, pemilih Protestan sekitar 1,2 juta, dan pemilih Islam sekitar 370 ribu lebih. Selebihnya Hindu dan Budha.

Ditakan Atang, mengaca pada Pilgub 2013, pada putaran pertama walayah Flores dimenangkan oleh Chris Rotok. Namun, kali ini Chris tampil sebagai wakil akan mempengaruhi pilihan masyarakat. Sedangkan Timor dimenangkan oleh Esthon Foenay dengan mengalahkan Ibrahim Medah yang mengantar Esthon melawan Frans di putaran kedua. “Kenyataan ini yang memperkuat analisis saya jika Esthon masih kuat di Timor,” urai Atang.

Menurutnya, walaupun Marianus Sae secara formal ikut ditetapkan sebagai salah satu kontestan, namun secara faktual menurutnya pendukung Marianus Sae cenderung melemah di beberapa tempat dan segmen. “Karena itu, Victory-Joss akan habis-habisan menggempur Flores dan Esthon akan memperkuat basis dukungan Timor dan Sumba,” kata Atang lagi.
Dia mengatakan, semua paket akan menggarap secara merata di seluruh wilayah, namun menurutnya secara geopolitik, sentimen kuat di Flores masih ke BKH dan Timor masih di Esthon. “Victory-Joss memiliki keunggulan pada kekuatan kekuasaan lokal karena sebagian besar kekuasaan lokal berada di barisan Golkar-Nasdem,” jelasnya.

Dalam pandangannya, pasca KPU NTT menetapkan empat pasangan calon untuk bertarung pada Pilgub NTT 2018, empat pasangan calon telah mewakili politik representatif berdasarkan geopolitik dan ideologis. Sehingga basis dukungan politik terhadap paslon cenderung terpola berdasarkan sentemen ideologis dan kultural.

Dalam konteks ini, kata Atang, basis dukungan Flores cenderung kuat pada paslon Harmoni. Kasus yang menimpa Marianus Sae, kata Atang, sedikit banyak telah mengubah peta dukungan politik yang berbasis geopolitik. Flores menjadi arena permainan baru untuk diperebutkan karena menjadi penentu kemenangan yang awalnya adalah Sumba.

“Dengan adanya kasus tersebut, secara psikologis politis paslon Harmoni diuntungkan dan memiliki peluang menang lebih besar. Walaupun demikian, ancaman bagi paslon Harmoni jika pendukung Marianus Sae mengambil sikap Golput. Karena itu memperebutkan pemilih Flores menjadi penting dan strategis jika tidak ingin kalah,” kata Atang. (ito)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!