Marianus Kecewa KPK Sebut OTT – Timor Express

Timor Express

NASIONAL

Marianus Kecewa KPK Sebut OTT

Di Dompet Hanya Ada ATM Tanpa Struk dan Uang Rp 1,6 Juta

JAKARTA, TIMEX-Marianus Sae melalui penasehat hukumnya Wilvridus Watu mengaku kecewa dengan keterangan KPK bahwa penangkapan dirinya adalah operasi tangkap tangan (OTT). Menurutnya, tidak ada bukti yang menyatakan bahwa penangkapan dirinya itu adalah operasi tangkap tangan.

Kepada koran ini, Rabu (14/2), Wily -demikian Wilvridus Watu- biasa disapa, kliennya Marianus Sae sangat kecewa dengan keterangan KPK yang menyatakan bahwa penangkapan dirinya di Surabaya, Minggu (11/2) itu adalah operasi tangkap tangan. “Memang beliau kecewa soal OTT, karena tiba-tiba dikepung oleh sekian banyak penyelidik KPK dan meminta beliau supaya mengakui perbuatan-perbuatannya,” sebut advokat muda itu.

Mengutip penjelasan Marianus, Willy melanjutkan, pada Sabtu (10/2) pagi, Marianus yang tengah berada di Sumba hendak berangkat ke Jakarta, melalui Kupang. Setelah tiba di Kupang, Marianus lalu menggunakan pesawat yang transit di Surabaya. “Namun setelah sampai di Bandara Juanda Surabaya, pesawat yang hendak ditumpangi ke Jakarta itu mengalami delay. Sehingga MS lalu memutuskan ke hotel agar sekalian bisa menjenguk seorang anaknya yang kuliah kedokteran di Surabaya dan sebentar lagi akan diwisuda,” jelas Willy.

Tujuan Marianus ke Jakarta, terang Wily, untuk mengikuti acara Reba diaspora Ngada pada Sabtu (10/2) lalu. Namun, setelah di bandara Surabaya pesawat delay sehingga memilih ke hotel. Selanjutnya, pada Minggu pagi (11/2) sekira pukul 11.30 WIB, Marianus berencana hendak pergi menjenguk anaknya. Namun, saat berada di lobi hotel untuk menunggu kendaraan, jelas Wily, secara tak sengaja Marianus bertemu Ambrosia Tirta Santi yang adalah Ketua Tim Penguji Psikotes Cagub NTT.

Secara kebetulan, kata Willy, Marianus dan Santi berpapasan lalu tegur-teguran di lobi hotel tersebut. “Tidak ada janjian sama sekali dengan Santi. Pak MS tidak tahu apakah Santi juga menginap di hotel tersebut karena ketemunya di lobi hotel. Jadi tidak ada hubungan spesial di antara keduanya. Santi adalah orang baik-baik yang memiliki keluarga, begitupun Pak MS. Ini hanya karena mereka pernah bertemu, saat Pak MS mengikuti psikotes di Kupang,” kata Willy.
“Jadi saat berpapasan di Surabaya ya wajar-wajar saja, dan ketika mereka bertegur dan ngobrol itu hal yang biasa. Pak MS dengan siapa saja selalu ramah. Jadi orang yang pernah bertemu, apalagi di luar NTT tentu saling sapah dan itu hal yang wajar. Masa ketemu orang satu daerah tidak saling menyapa. Siapa saja seperti itu,” lanjut dia.

Hanya saja ketika MS dan ATS ngobrol, menurut Willy, ternyata MS sudah dipantau dan diikuti tim KPK. Ketika itu, tiba-tiba di sekeliling mereka sudah ada penyelidik KPK dan meminta MS supaya mengakui perbuatannya. “Saat itu karena pak MS panik, tidak biasa dan tidak pernah dikerumuni seperti itu, ya beliau sampaikan saja semua hal-hal yang terkait dengan peristiwa tersebut,” ungkap dia.

Saat di lobi hotel itu handphone dan dompet MS yang di dalamnya ada ATM dan uang tunai diambil tim KPK. “Kalau struk tidak ada di tangan Pak MS. Beliau hanya memegang dompet dan tas yang isinya pakaian adat Bajawa untuk ikut Reba, dengan uang tunai di dalam dompet sebanyak Rp 1,6 juta,” tandasnya.

Kemudian penyelidik KPK membawa MS bersama ATS ke Polda Jatim untuk diperiksa, selanjutnya diterbangkan ke Jakarta.
Sebelumnya Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan mengatakan Marianus Sae dan Ambrosia Tirta Santi ditangkap saat OTT di salah satu hotel di Surabaya. Turut diamankan beberapa barang bukti seperti ATM milik Marianus, struk transaksi ATM, dompet dan telepon seluler.

Terpisah, Juru Bicara KPK Febri Diansyah yang dikonfirmasi di kantornya, Rabu (14/2) terkait keterangan kuasa hukum Marianus bahwa tidak ada struk transaksi perbankan milik kliennya saat ditangkap, menjelaskan, KPK tetap dengan alat bukti yang dimiliki dan akan terus melakukan proses hukum hingga tuntas.
“Kita tetap dengan alat bukti yang ada. Silakan mereka dengan versinya. Tentu nantinya semua akan dibuktikan di pengadilan,” sebut Febri.

Begitu pun mengenai keterangan kuasa hukum bahwa MS dicokok di lobi hotel, Febri tetap saja enggan menjelaskan secara spesifik.
Bekas aktivis ICW itu juga menambahkan tim penyidik KPK yang dipercayakan menangani kasus tersebut segera mengagendakan pemeriksaan saksi tambahan guna merampungkan penyidikan perkara kedua tersangka. (joo/fmc/ito)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!