Habisi Korban, Terdakawa Dibantu Ayah dan Saudara Kandung – Timor Express

Timor Express

KUPANG METRO

Habisi Korban, Terdakawa Dibantu Ayah dan Saudara Kandung

Keterangan Saksi dalam Sidang Kasus Pembunuhan di Lasiana

KUPANG, TIMEX – Sidang kasus pembunuhan terhadap Paulus Nafi oleh Anggri Dillak di RT 26/RW 07, Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima tanggal 2 Oktober 2017 lalu, kembali digelar di Pengadilan Negeri Klas IA Kupang, Selasa (27/2).

Pada sidang kali ini, JPU Kejari Kota Kupang menghadirkan empat orang saksi. Di antaranya AC (8 tahun), Hengki Bale Bire, Yehelki Kulle dan Rafael Hore.

Pantauan Timor Express, sidang pemeriksaan terhadap saksi AC digelar tertutup untuk umum karena yang bersangkutan masih di bawah umur. Selain tertutup untuk umum, terdakwa Anggri Dillak juga dikeluarkan dari ruang sidang. Sidang kembali terbuka untuk umum saat pemeriksaan terhadap tiga saksi yang lain.

Dalam kesaksiannya, saksi Hengki Bale Bire mengaku tinggal di Oeba. Namun saat kejadian dia berada di TKP karena hendak mengangkut pasir untuk dibawa ke rumah Ama Teru. Tiba-tiba ada tiga orang yang tidak dikenalnya, berlari menuju korban. “Satu orang rambut putih, satu orang masih muda dan terdakwa. Yang rambut putih pegang tangan kanan korban dan yang muda pegang tangan kiri korban. Terus yang rambut putih bilang ‘taro su’. Kemudian terdakwa langsung potong korban dua kali di bagian bahu dan leher,” sebut saksi Hengki di hadapan majelis hakim, Eko Wiyono, Prasetio Utomo dan Tjokorda Pastima.

Usai menghabisi korban, Hengki mengatakan, terdakwa Anggri kemudian mendatangi anak kecil yang ada di sekitar TKP. Selanjutnya terdakwa mendekatinya dan mengatakan bahwa parang ini masih mencari satu korban lagi. “Saya bilang, saya orang baru. Terus mereka jalan. Beberapa saat kemudian muncul banyak orang,” katanya.

Terdakwa kemudian membenarkan dua orang yang dimaksudkannya (yang berambut putih dan yang masih muda) saat JPU Delvis Lele menunjukkan foto kedua orang itu dalam BAP. Dua orang itu tidak lain adalah Marten Dillak dan Roy Dillak, ayah dan saudara kandung terdakwa. Saksi juga membenarkan parang yang dipakai terdakwa saat ditunjukkan JPU.

Menjawab pertanyaan tim penasihat hukum terdakwa, Petrus Ufi, Hari Pandie, dan Jefri Lado, saksi Hengki mengaku saat kejadian, posisi korban membelakanginya. Dan saat hendak dipotong, korban tidak bereaksi karena dipegang erat oleh dua orang. “Saat tergeletak, posisi kepala korban mengarah ke laut (selatan),” sebut Hengki.

Atas keterangan saksi Hengki, terdakwa Anggri mengatakan semua keterangan itu tidak benar. Namun saksi tetap pada keterangan.

Selanjutnya saksi Yehelki Kulle mengaku, sebelum kejadian dia bersama dengan Marten Dillak (ayah terdakwa) dan korban sempat bertemu di depan muka rumah saksi Rafael Hore. Saat itu, korban sempat menyodorkan rokok untuk mereka berdua. “Marten sempat terima. Tidak lama kemudian korban pulang dan Marten juga pulang. Saya juga masuk kembali ke dalam rumah yang tidak jauh dari situ,” katanya.

Tidak lama kemudian, lanjut saksi Yehelki, Marten kembali datang dan menanyakan keberadaan korban. Di saat yang sama dia juga melihat kedua anaknya, Anggri dan Roy. “Saya bilang Paul (korban, red) sudah pulang. Terus mereka jalan. Roy yang pegang parang. Tidak lama kemudian saya dengar Marten teriak bilang ‘dia pu riwayat hidup su habis’. Saya dengar karena dia omong dengan keras,” terangnya.

Senada dengan keterangan saksi Yehelki, saksi Rafael Hore mengaku melihat Yehelki, korban dan Marten berdiri di depan rumahnya. “Saya berdiri di depan teras rumah. Saya lihat korban sorong rokok,” katanya.

Setelah ketiganya berpisah, Rafael mengaku, tidak lama kemudian dia mendengar Marten berteriak dan anak-anaknya jalan mendahuluinya. “Ini hari saya suruh anak saya potong kasih mati dia. Tidak lama kemudian dia saya dengar dia berteriak bilang ‘dia (korban, red) punya riwayat hidup sudah habis,”

Ditanya PH terdakwa, Petrus Ufi mengenai persoalan antara ayah terdakwa dengan korban pada tahun 2016 silam, kedua saksi mengaku tidak tahu akan persoalan itu, sekalipun mereka hidup bertetangga.

Kedua saksi juga menyebut terdakwa Anggri tidak pernah mabuk-mabukan atau berkelahi dengan orang lain. Begitu juga dengan saudaranya, Roy Dillak.

Atas keterangan dua saksi ini, lagi-lagi terdakwa Anggri membantahnya. Menurutnya, dia berlari sendirian saat mencari korban. Tidak ada ayah dan saudarannya. Kendati demikian, kedua saksi tetap konsisten dengan keterangan yang sudah disampaikan. (tom/sam)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!