Polres TTS Kejar 4 Perekrut Adelina – Timor Express

Timor Express

KRIMINAL

Polres TTS Kejar 4 Perekrut Adelina

LPSK Beri Perlindungan Keluarga Adelina

SOE, TIMEX-Penyidik Polres TTS terus bekerja mengungkap para pelaku yang merekrut dan memberangkatkan Adelina Sau, tenaga kerja wanita (TKW) asal Desa Abi, Kecamatan Oenino, Kabupaten TTS yang meninggal di Malaysia karena disiksa majikan. Setelah sebelumnya penyidik mengamankan dua perekrut Adelina, yakni FL (Flora) dan HP (Habel Pah), Senin (26/2), penyidik kembali mengamankan salah seorang yang diduga ikut terlibat merekrut dan mengirimkan Adelina ke Malaysia. Pelaku yang baru diamankan itu bernama Oris alias OB. Oris ditangkap setelah penyidik mengintrogasi Flore dan Habel. OB pun langsung dijebloskan di sel tahanan Polres TTS. Selain bekerja mengungkap para pelaku kejahatan di TTS, kepolisian Diraja Malaysia juga serius mengungkap kasus ini dengan telah menersangkakan tiga orang. Ketiga warga Malaysia yang sudah dijadikan tersangka adalah M.A.S. Ambika, 59, (Majikan Adelina), Jayavartiny (Anak majikan) dan Ms. Lim. M.A.S. Ambika saat ini tengah menjalani proses hukum di Malaysia dimana dia didakwa pasal 302 tentang pembunuhan dengan ancaman hukuman gantung sampai mati. Sedangkan Ms. Jaya Vartiny didakwa mempekerjakan Adelina tanpa dokumen yang valid sejak Maret 2017 hingga 10 Februari 2018. Ancaman denda maksimum RM50.000/Rp 175 juta atau hukuman tahanan selama paling lama setahun atau keduanya. Sedangkan satu tersangka lainnya, yakni Ms. Lim sementara tak ditahan.

Kasat Reskrim Polres TTS, Iptu Yohanes Suhardi saat dijumpai wartawan di Mapolres TTS, Senin (26/2), menjelaskan, tiga warga Malaysia yang ditangkap itu memiliki peran masing-masing. Ms. Lim misalnya merupakan orang yang pertama menerima Adelina Sau setibanya dari Indonesia pada tahun 2015 lalu, kemudian menyerahkan Adelina ke Ms. Aida. Ms. Aida kemudian menyerahkan korban lagi kepada Ms. Jaya Vartini untuk dipekerjakan. “Jadi total tersangka yang sudah ditangkap sebanyak enam orang,” papar Yohanes.

Dikatakan, dari pihak-pihak yang diduga terlibat dalam kasus Adelina ini saat ini terus diinterogasi, khususnya para tersangka yang ditangkap di TTS terus digali keterangannya untuk menguak pelaku lainnya di balik peristiwa ini.

Menurut Iptu Yohanes Suhardi, saat ini pihaknya tengah mengejar empat orang lainnya yang diduga ikut terlibat dalam proses keberangkatan korban yang dipalsukan identitasnya. “Kami sementara ini masih kejar empat orang yang kami duga ikut terlibat,” tegas Yohanes.

Tidak hanya itu, lanjut Iptu Yohanes, pihak Polres TTS juga terus mengembangkan kasus itu, guna mengungkap pihak-pihak yang turut terlibat. Mengingat dokumen korban dipalsukan di Desa Tanah Merah Kabupaten Kupang, namun kop KTP adalah Pemerintah Kabupaten Belu dan juga Imigrasi Blitar yang menerbitkan paspor korban dengan merubah nama korban menjadi Adelina Laisoi. “Penerbitan KTP korban juga aneh dikarenakan alamat korban tak jelas,” katanya.

Mengenai pemberkasan para tersangka, menurut Yohanes saat ini pihaknya tengah menyusun berkas perkara untuk melimpahkan ke Kejaksaan Negeri TTS. Terkait pengungkapan tersangka lain yang masih dalam pengejaran, Yohanes mengatakan, jika mereka yang diduga turut terlibat bisa diamankan dalam waktu dekat, maka pemberkasan akan dikirim sekaligus dengan tiga tersangka lain yang telah diamankan sebelum. “Jika pihak-pihak yang diduga turut terlibat belum dapat diamankan, maka berkas tiga tersangka yang telah diamankan akan lebih dulu dikirim ke Kejari TTS, mengingat masa tanahan di kepolisian hanya 20 hari saja. Kasus ini juga kami sudah gelar di Polda NTT minggu kemarim,” bebernya.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatan para tersangka, demikian Yohanes, penyidik Polres TTS menerapkan pasal berlapis yakni pasal 2 ayat 1 dan 2 jo atau pasal 4 pasal 6 dan 7 serta pasal 10 dan 19 UU TPPO, dengan ancaman kurungan penjara minimal 5 tahun dan maksimal seurmur hidup.

Terpisah, Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol. Jules A. Abast kepada Timor Express, Senin malam (26/2) menegaskan, sejauh ini pihaknya melalui Polres TTS sudah menangkap dan menahan tiga orang yang diduga punya peran penting dalam memberangkatkan korban Adelina Sau ke Malaysia. “Penangkapan para pelaku dilakukan setelah penyidik mendapat informasi awal terkait kematian korban Adelina Sau. Pelaku FL ditangkap di kosnya pada 14 Februari pukul 17.00 Wita di Kelurahan Oebufu, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang. Selanjutnya, penyidik kembali menangkap HP di rumahnya pada 14 Februari pukul 21.00 Wita di Kelurahan Naimata, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang dan pelaku berikutnya yakni OB ditangkap di rumahnya pada 18 Februari pukul 16.30 Wita di Desa Abi, Kecamatan Oenino, Kabupaten TTS,” tegas Jules.

Menurut perwira dengan tiga melati di pundak ini, pelaku FL alias Flores berprofesi sebagai ibu rumah tangga (IRT), Habel Pah sebagai Kepala Cabang PT. Asfiz Langgeng Abadi yang bergerak dibidang Ketenagakerjaan dan pelaku Oris sendiri berprofesi sebagai petani di Desa Abi. Dirinya mengkronologiskan, OB sendiri merupakan tetangga dari korban Adelina Sau dan dirinya bertugas menghubungi korban dan keluarganya. Setelah itu, OB memberitahu ke FL melalui sambungan telepon supaya FL segera menjemput korban Adelina Sau di Desa Abi.

Selanjutnya, FL menjemput korban di Desa Abi kemudian korban dan FL berangkat ke Kupang. Setibanya di Kupang, FL menyerahkan korban ke HP. Sebagai Kepala Cabang PT. Asfiz Langgeng Abadi yang berkedudukan di Kupang, HP kemudian menampung korban Adelina Sau sebelum diberangkatkan ke Jakarta.

LPSK Beri Perlindungan

Sementara itu, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) telah menerjunkan tim guna menjemput permohonan perlindungan dari keluarga Adelina Sau di TTS. Tim LPSK menemui langsung keluarganya yang diwakili ibu almarhum, Yohana Banunaek.

“LPSK bergerak cepat karena melihat adanya dugaan tindak pidana yang mengiringi keberangkatan almarhum Adelina ke Malaysia, selain adanya tindak pidana sebagai penyebab kematian Adelina,” ujar Ketua LPSK, Abdul Haris Semendawai melalui rilis yang diterima INDOPOS Selasa (27/2).

Upaya proaktif ini bertujuan agar keluarga korban bisa mengajukan permohonan perlindungan kepada LPSK. Selain itu agar LPSK bisa mendapatkan data secara langsung dari pihak keluarga korban, masyarakat, maupun penegak hukum yang menangani.
“Hal ini sesuai dengan aturan pada UU Perlindungan Saksi dan Korban. Dan keluarga korban setuju untuk mengajukan permohonan perlindungan, dengan diisinya form permohonan perlindungan oleh ibunda dari Adelina,” jelas Semendawai.
Tim LPSK yang datang langsung ke rumah Adelina di TTS mendapati bahwa keluarga Adelina masih mengalami duka yang mendalam atas kematian Adelina. Bukan hanya karena penyebab kematian Adelina, duka mendalam juga dirasakan saat jenazah dipulangkan ke NTT, Sabtu (17/2) lalu.

“Meski begitu ibu korban mau mengisi form permohonan perlindungan yang dibawa oleh tim kami,” ungkap Semendawai.

Dikatakan, layanan perlindungan yang diminta sendiri adalah pemenuhan hak prosedural dan fasilitasi restitusi. Ini penting agar hak-hak keluarga korban pada saat menjalani proses peradilan tetap terjamin. “Apalagi keluarga korban termasuk yang awam soal hukum. Maka penting untuk diberikan layanan pemenuhan hak prosedural,” ungkap Semendawai.

Sementara restitusi, atau ganti rugi dari pelaku, merupakan hak korban TPPO yang diatur UU, baik UU Perlindungan Saksi dan Korban maupun UU Pemberantasan TPPO. Fasilitasi restitusi dari LPSK berupa penghitungan besaran ganti rugi hingga koordinasi dengan jaksa agar restitusi dimasukan ke dalam tuntutan. “Setelah itu jika restitusi dikabulkan hakim, LPSK juga akan berkoordinasi dengan jaksa agar korban benar-benar mendapatkan restitusi,” urai Semendawai. (yop/gat/ydh/jpg/aln)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!