Timor Express

PENDIDIKAN

49 Siswa SMKN 7 Kupang Jalani Uji Kompetensi

NAVIGASI. Para siswa peserta ujian kompetensi SMK Negeri 7 Kupang saat melakukan pengujian alat navigasi yang didampingi oleh pengawas bertempat di bengkel Navigasi Kelurahan Alak Kota KUpang, Jumat (9/3).

SALDY BULLAN/TIMEX

KUPANG, TIMEX–Bekerja sama dengan Navigasi Klas II Kupang, SMK Negeri 7 Kupang mengggelar uji kompetensi, Jumat (8/3). Ujian yang dilaksanakan selama dua hari ini menguji kemampuan 49 siswa kelas XII.

Para siswa diuji kemampuan dalam menyerap materi yang diajarkan di sekolah dan yang diterima melalui Prakerin (praktik kerja industri) di lapangan. Ini akan diaplikasikan dalam Ujian Kompetensi Keahliah (UKK) dengan dua Program Didikan (PRODI) yang ada di sekolah tersebut yakni Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) dan Pelayaran dengan Jurusan Nautika Kapal Niaga dan Teknika Kapal Niaga.

Kepala Sekolah SMKN 7 Kupang Yeftasina M. A. Nitti menjelaskan, ujian yang dilakukan merupakan rangkaian dari pendalaman kemampuan siswa melalui ketrampilan yang diterima melaui pelajaran di sekolah. “Juga melalui praktik lapangan yang telah dilakukan selama tiga bulan,” jelas Yeftasina.

Ia menambahkan, tujuan pelaksanaan ujian kompetensi yakni mengasah kemampuan anak agar siap bersaing dalam dunia kerja dengan membawa sertifikat kompetensi yang didapat melaui uji kompetensi tersebut.

Ujian yang dilakukan itu, pihak sekolah bekerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) yang menjadi pihak penguji ekternal sekolah dan navigasi sebagai pihak internalnya. Ujian tersebut dilakukan dengan menguji kemampuan anak secara materi hingga melakukan praktik secara langsung dengan peralatan dan mesin yang disiapkan oleh sekolah dan pihak mitra. Dalam hal ini pihak navigasi dan DUDI yang menyediakan kapal sebagai alat simulasi praktik bagi anak.

Yeftasina menambahkan, khusus untuk Program Didikan (PRODI) Pelayaran, siswa harus memiliki sertifikat Ahli Nautika Tingkat IV (ANT IV) yakni perwira kapal-kapal antarpulau, hingga pembuatan lisensi Basic Safety Training (BST) agar bisa berprofesi sebagai pelaut. Namun, ia menyayangkan untuk memiliki sertifikat tersebut orang tua harus mengeluarkan dana yang cukup besar. Saat ini belum ada alokasi dana untuk pengajuan dana pengurusan sertifikat tersebut.

“Untuk Indonesia sendiri lulusan pelayaran banyak diserap oleh dunia kerja. Akan tetapi setiap lulusan juga harus dibekali dengan sertifikat yang lumayan banyak agar bisa diterima dalam dunia kerja sebagai pelaut,” kata Yeftasina.

Ia berharap pemerintah daerah memperhatikan keberadaan mereka karena sebagai satu-satunya SMK Negeri yang membuka jurusan pelayaran namun masih minim dalam alat-alat praktik.

Kerja sama yang dibangun dengan berbagai pihak, kata Yeftasina, bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa. Dengan demikian antara pelajaran di kelas dan Prakerin dapat diserap anak dengan baik. Walaupun dengan keterbatasan yang ada, ia yakin para siswa akan memperoleh nilai yang baik dalam sertifikat kompetesi.

Salah satu penguji dari pengawas internal yang mewakili Navigasi Klas II Kupang Maria Megawati Kartini Ma’u menjelaskan, yang diuji dalam uji kompetensi adalah menentukan garis haluan bagi kapal dengan memperhatikan bahaya-bahaya yang ada di sekitarnya.

Ia menambahkan, untuk penilaian yang ia berikan kepada para siswa yang mengikuti ujian kompetensi tersebut baik. Dirinya menilai peserta mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di sekolah dalam praktik lapangan dengan baik.

Maria yang juga pendidikan di SMKN 7 Kupang itu mengatakan, dirinya tertarik membantu sekolah tersebut karena ia ingin membagikan ilmunya kepada para siswa sehingga ke depannya banyak bermunculan pelaut yang merupakan anak NTT.

Salah satu siswa Nautica yang mengikuti ujian kompetensi sesi pertama Kamis (8/3) Margaretha S. Retu mengungkapkan, soal yang dikerjakan yakni menjangka peta dan menarik garis haluan yang membutukkan penafsiran angka yang tepat. Ia mengaku, dalam ujian tersebut ia merasa seperti melakukan praktik nyata. Jika terjadi kesalahan dalam penarikam garis haluan maka akan dikoreksi oleh kapten yakni penguji internal.

Untuk implementasi teknologi sendiri ia mengaku mereka telah mengetahui secara teori penggunaan radar dan GPS di sekolah. Akan tetapi untuk melakukan praktik secara langsung akan dilakukan pada keesokan harinya.

Margaretha mengaku sangat menikmati ujian yang digelar karena walaupun hasil dari uji yang dilakukan sudah dikeluarkan, tapi selanjutnya kapten akan melakukan evaluasi. “Saya senang dengan pelajaran di sekolah ini, walaupun awalnya saya tidak tertarik dengan sekolah ini namun setelah saya belajar dan berinteraksi dengan teman-teman yang saling berbagi pengetahuan, saya merasa senang dan siap menerima pelajaran yang akan diberikan guru kepada saya,” kata Margaretha. (mg27/ito)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!