Politik Wangi Cendana – Timor Express

Timor Express

OPINI

Politik Wangi Cendana

 

Oleh: Gottfried Yan Usfomeni

(Pengampu YR Kota Kupang)

 

Kontestasi Pilgub kali ini tengah berada pada masa kampanye usai deklarasi Pilkada Damai oleh KPU Provinsi pada 15 Februari lalu. Tiap paket kandidat pun sedang menggelar kampanye sesuai jadwal dan zona yang sudah diberikan. Tak ayal, Pilgub yang akan dilaksanakan pada 27 Juni nantinya menjadi topik utama pembicaraan warga. Pada kesempatan pertemuan secara langsung hingga perjumpaan di media sosial wacana tentang pilihan kandidat masing-masing masih mengisi ruang dialog yang terbuka bagi siapa saja. Ini diharapkan menjadi kesempatan dimana pembicaraan rasional dibuka dan transaksi pengetahuan dimungkinkan.

Partisipasi publik dalam mewacanakan pesta demokrasi kali ini menarik untuk ditelisik. Tercermin bahwa dinamika yang ada memungkinkan orang bertukar ide, saling menjelaskan tentang kandidat masing-masing meski harus diakui bahwa harapan akan esensi pembicaraan yang lebih rasional belum sepenuhnya menjadi kerangka yang semestinya membingkai ruang diskusi menjadi lebih bernas.

Walau demikian paling tidak ditemui sebuah nilai penting bahwa perbincangan tentang hajatan demokrasi mulai tumbuh sebagai keperluan publik. Tiap orang merasa berkepentingan untuk mengetahui dan berbagi informasi sejauh mana figur pilihannya melangkah, terobosan apa yang ditawarkan, hingga sampai pada argumentasi yang harus dibangun dalam kesempatan diskusi. Artinya dapat kita lihat bahwa politik tidak hanya menjadi konsumsi para politisi, tidak hanya tumbuh di kalangan mereka yang berafiliasi dengan partai politik. Lebih jauh politik tumbuh menjadi kebutuhan publik, ruang dimana masyarakat berbagi ide dan tentu diharapkan politik sebagai ruang masyarakat memenangkan kepentingannya.

Lain dinamika pada pemilih, beda pula dengan masing-masing kandidat. Tiap paket calon dan tim suksesnya dengan pendekatan yang khas mulai turun ke tengah masyarakat. Aneka strategi politik dimainkan dengan harapan dapat mendulang kemenangan saat Pilkada serentak nanti. Bercermin pada kondisi daerah yang ada tiap paket mulai merumuskan visi misinya guna membangun NTT.

Ruang sosialisasi pun dielaborasi dalam beragam kemasan. Tak hanya lewat perjumpaan langsung, perkembangan teknologi yang ada dan tingginya pengguna media sosial turut dioptimalkan sebagai ruang kampanye menuju kemenangan. Antusiasme timbal balik konstituen dan kandidat ini diharapkan menjadi proses menjadikan politik semakin populis.

 

Tahun Politik

Aura politik kali ini tampil lebih “menggoda”. Bagaimana tidak pemilihan akan terjadi pada berbagai level mulai dari kabupaten, provinsi hingga pilpres 2019 nanti. Rentetan panjang ini tentu membutuhkan energi yang tak sedikit dan akan disokong dengan strategi pemenangan yang paling tepat. Setiap paket kandidat dan parpol yang ada mesti bergerilya dari kampung ke kampung untuk mengamankan lumbung-lumbung suara agar bisa menang pada saat pemilihan nanti. Upaya konsolidasi besar-besaran pada satu sisi menuntut tim pemenang berjuang habis-habisan.

Kemenangan dari tingkat bawah tak disangkal bakal menjadi barometer dari kemenangan pada level yang lebih besar. Tuntutan kemenangan ini kian dipertegas dengan regulasi pemilu yang hanya berlangsung sekali tanpa ada putaran kedua. Terbitnya aturan terkait pilgub satu putaran sebagaimana tertuang dalam Pasal 109 ayat 1 secara otomatis menjadikan kompetisi kian ketat. Sudah pasti setiap kandidat ingin menang dalam hajatan yang akan digelar pada 27 Juni mendatang bersama dengan pilgub di 16 daerah lain. Kontestasi politik kali ini tak hanya penting bagi konstituen. Sebaliknya moment ini akan menjadi kesempatan untuk menakar sejauh mana parpol bisa memenangkan kepentingan yang lebih besar dan mendapat kepercayaan publik. Pada tempat lain ini juga menjadi moment menilai bagaimana konstituen tak takluk pada kepentingan parsial.

Kesempatan Pemilu kali ini menjadi ujian tersendiri atas otoritas demokrasi warga. Publik tak sekadar terlibat dalam proses pemilihan. Sebaliknya ini menjadi moment menakar sejauhmana publik otonom atas pilihan politisnya. Akan sangat ironis bilamana publik menjual hak politiknya dalam bentuk apapun. Harga atau pun tawaran dalam bentuk lain tak boleh sampai menjadi alat gadai hak politis yang akan turut menentukan perjalanan daerah ini 5 tahun ke depannya.

Koneksi antara yang terpilih nanti dan yang memilih mesti dibangun secara baik agar pembangunan daerah ini benar-benar menjadi proses yang lahir dari kebutuhan riil masyarakat. Ketika publik memilih menjual hak politiknya maka pembangunan akan menjadi paket bisnis antara yang terpilih dan pelaku bisnis guna membayar kembali harga yang telah dikucurkan. Dengan demikian maka cepat atau lambat publik mesti siap menjadi penonton dari proses transaksi bisnis atas nama pembangunan.

 

Membangun Politik Rasional          

Upaya menghidupkan perilaku politik rasional masih menjadi alternatif paling tepat mewujudkan perpolitikan yang sehat. Menghindari pilihan politik atas dasar sentimental sempit (suku, ras, agama, kepentingan) adalah prasyarat pilihan politis yang rasional. Tanpanya sebuah pilihan akan sulit dirumuskan. Selain itu kemampuan pemilih menentukan pada kelompok manakah dirinya berada baik itu kelompok perempuan, pekerja/buruh, difabel ataupun sebagai masyarakat diluar dari ketiga kelompok tersebut menjadi penting agar hasil sebuah pilihan politis bisa mengakomodir kebutuhannya. Misalnya sebagai pekerja/buruh pemilih akan menjatuhkan pilihan politisnya pada salah satu kandidat yang dalam visi misinya dapat mengakomodir kebutuhan kelompok pekerja/buruh.

Tak hanya itu pemilih pun dituntut untuk benar-benar mengenal figur yang akan dipilihnya. Pengenalan itu tak sebatas pada pengenalan formal. Pemilih rasional mesti juga mengetahui visi misi kandidat, program kerja kandidat hingga kemampuan kandidat memperjuangkan hak dan kebutuhan kelompok pemilih. Seorang pemilih dengan tingkat pengenalan yang lebih baik akan jauh dari kategori pemilih mengambang yang seringkali hak politiknya rentan ditukar dengan material atau pun bujuk rayu untuk memilih salah satu kandidat yang tak begitu dikenalnya sendiri.

Dengan kerangka berpikir rasional konstituen dapat memenangkan kepentingan yang lebih besar pada kontestasi kali ini. Selain itu praktik penyimpangan lain seperti serangan fajar atau praktik jual beli hak pilih dengan cara lain dapat ditepis. Bilamana pemilih mampu merumuskan pilihan politik secara rasional maka nahkoda kepemimpinan daerah ini akan dipercayakan pada orang yang tepat.

Kita mengharapkan politik kali ini dapat membangkitkan keharuman nama NTT yang pernah mendunia dengan wangi cendananya. Bilamana setiap pemilih berani menanggalkan kepentingan sempit demi kesejahteraan bersama yang lebih besar maka harapan pembangunan daerah yang lebih baik bukanlah sesuatu yang mustahil. Menjadi tugas bersama kita; menempatkan rasionalitas sebagai roh utama dalam menjatuhkan pilihan politik pada proses demokrasi kali ini. (*)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!