Timor Express

NASIONAL

Fredrich Hina Jaksa “Sinting”

SAKSI FEDRIK. dr Alia Shahab plt Manajer Pelayanan Medik RS Medika Permata Hijau hadir menjadi Saksi menghalangi penyidikan Setya Novanto di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (15/3/18).

FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS

JAKARTA, TIMEX–Sempat mengancam boikot, mantan pengacara Setya Novanto (Setnov), Fredrich Yunadi tetap menjalani rangkaian persidangan perkara merintangi penyidikan (obstruction of justice) di Pengadilan Tipikor Jakarta. Kemarin (15/3), jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai memeriksa saksi-saksi.

Saksi yang dihadirkan adalah dua dokter RS Medika Permata Hijau, yakni Alia Shahab (Plt Manajer Pelayanan Medik) dan Michael Chia Cahaya (dokter umum). Diantara dua saksi itu, hanya Alia yang diberi kesempatan memberikan keterangan. Sedangkan Michael ditunda sampai sidang berikutnya karena padatnya agenda hakim kemarin.

Di luar agenda pemeriksaan Alia, “perang urat saraf” antara kubu JPU KPK dan Fredrich menarik perhatian pengunjung sidang. Beberapa kali terjadi “keributan” ketika jaksa tengah mencecar saksi dengan sejumlah pertanyaan terkait perkara. Advokat kelahiran Surabaya itu sering mengajukan interupsi kepada majelis hakim.

Bukan hanya interupsi, Fredrich juga melakukan gerakan tubuh yang tidak seronok. Yakni di sela-sela jaksa KPK Gina Saraswati melakukan tanya jawab dengan Alia tentang kronologi pemesanan ruang inap RS Medika untuk Setnov pasca kecelakaan di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan 16 November tahun lalu.

Dalam gerakan itu, jari tangan telunjuk Fredrich diletakan di dahi, dan menggerakannya seperti ingin menyampaikan pesan bahwa jaksa “sinting”. ”Kami melihat terdakwa menggunakan anggota tubuhnya seperti ini ketika penuntut umum bertanya,” kata jaksa KPK Roy Riady sambil mencontohkan gerakan tubuh Fredrich yang dimaksud menghina itu.
Bukan hanya memprotes gerakan tangan, Roy juga meminta ketua majelis hakim Saifuddin Zuhri mengusir Fredrich dari ruang sidang bila perilaku kurang sopan tersebut kembali dilakukan. ”Kami berharap jika ada perbuatan terdakwa (Fredrich) yang tidak patut, kami meminta agar ketua majelis hakim mengingatkan terdakwa, bila perlu dikeluarkan dari ruang persidangan,” imbuh Roy.

Mendengar interupsi tersebut, Fredrich terdiam. Ketua majelis hakim pun meminta persidangan kembali dilanjutkan. Kali ini, giliran tim penasehat hukum (PH) Fredrich yang melakukan tanya jawab dengan saksi. Nah, saat pertanyaan tim Fredrich tidak sesuai dengan ketentuan hukum acara, jaksa KPK gantian menyela sesi tanya jawab itu.

”Keberatan Yang Mulia, pertanyaan terdakwa tidak sesuai,” kata jaksa KPK M. Takdir Suhan. Tapi, belum sampai interupsi itu selesai, Fredrich langsung memotongnya. ”Ngerti nggak bahasa Indonesia?,” sergah Fredrich memotong interupsi Takdir.

Sementara itu, dalam persidangan kemarin, saksi Alia mengungkapkan perihal kronologi pemesanan sejumlah kamar RS Medika Permata Hijau untuk Setnov. Menurut dokter berparas cantik itu, asisten Fredrich, Achmad Rudiansyah menghubunginya sebelum Setnov menggunakan kamar VIP 323 yang dipesannya. ”Betul pak jaksa,” kata Alia saat ditanya jaksa mengenai komunikasi telepon dengan asisten Fredrich tersebut. (tyo/jpg/ito)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!