Kematian Meri Faot Diduga Bermotif Asmara – Timor Express

Timor Express

KRIMINAL

Kematian Meri Faot Diduga Bermotif Asmara

KELUARGA MERI. Ayah Meri Faot, Mateos Faot memeluk anak Meri Faot sambil mengurai kronologis Meri Faot kabur dari rumah, Senin (19/3).

YOPI TAPENU/SOE

Polisi Periksa Teman Dekat Korban

KUPANG, TIMEX–Penyidik Satreskrim Polres Kupang hingga kini masih mendalami kasus kematian Meri Faot, 28, warga Desa Nifukani, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten TTS yang ditemukan tergeletak di hutan gamal, daerah penghijauan (aset tanah Lanud El Tari Kupang), Desa Penfui Timur, Minggu (18/3) siang. Kendati belum ada tersangka yang ditetapkan, diduga kuat ada motif asmara di balik kasus ini.

Senin (19/3) siang, koran ini berkesempatan mewawancarai ibu kandung korban, Yulana Tino, 68, dan kakak kandungnya, Yefta Faot, 39, ketika mereka sedang menunggu proses otopsi jenazah korban di RSB Titus Uly. Yuliana menyebutkan, Meri adalah anaknya yang keenam dari delapan bersaudara. Meri tinggal bersama dengan suaminya, Hendrik Boimau dan satu anaknya di Beonana, Desa Nifukani. Rumah Meri tidak jauh dari rumah orang tua. Meri meninggalkan rumah tanpa sepengatahuan keluarga sejak Desember 2017 lalu. Dia menduga anaknya kabur setelah bertengkar dengan sang suami. “Dia pu suami kerja bangunan di Tenau. Di bulan Desember dia pulang karena ada tetangga, telpon bilang Meri selingkuh. Sampai rumah langsung bertengkar. Saya sempat tegur suaminya. Saya pulang, mereka bertengkar lagi. Beberapa hari kemudian Meri hilang dari rumah dan suaminya tidak cari,” kata Yuliana sembari mengusap air mata.

Pada bulan Januari 2018 lalu, lanjut Meri, ada seorang wanita yang datang ke kediamannya di Nifukani untuk mencari seorang laki-laki bernama Riko Tabun. Selain mencari Riko, wanita tersebut juga mencari Meri. “Kami sonde tanya hubungan Meri dengan itu laki-laki seperti apa. Waktu mau pulang, itu perempuan bilang, nanti kami dapat liat dia (Meri, Red) di mana, baru kamu orang tua dengar informasi,” sebutnya.

Yuliana mengaku sempat firasat sebelum mendapat kabar anaknya meninggal. Pada Sabtu (17/3) siang saat duduk dekat pintu rumah bagian belakang, dia mendengar ada orang yang bersiul dengan keras. Tapi saat dicek, ternyata orang yang bersiul tersebut tidak ada. Minggu (18/3), dia merasa tidak enak badan sehingga tidak ke gereja. “Saya rasa badan tidak enak. Ternyata hari itu juga anak saya meninggal,” katanya.

Sementara kakak kandung korban, Yefta Faot menerangkan, setelah kabur dari rumah tanpa informasi, pada tanggal 31 Desember 2017, korban sempat menelponnya. Saat itu korban mau mengirim uang untuk orang tua. “Saya sempat tanya dia di mana dan kerja apa. Dia hanya bilang, dia di Oesapa tapi tidak bilang soal kerja. Kemudian tanggal 5 Januari 2018 dia pulang ke kampung. Terus tanggal 8 Januari dia lari lagi. Mungkin karena takut ada utang Rp 700 ribu di tetangga yang belum lunas. Akhirnya saya yang kasih lunas utangnya,” terang Yefta.

Yefta mengaku sempat mencari Meri setelah adiknya itu kembali kabur ke Kupang. Namun keberadaannya tidak pernah diketahui. Bahkan keluarga di Kupang juga tidak pernah bertemu Meri. Pada Sabtu (17/3) sekira pukul 20.00 wita, Meri tiba-tiba menelponnya dan mengatakan akan mengirim orang tua uang. Meri bahkan sempat berjanji untuk kembali menelpon orang tuanya pada pukul 22.00 wita. “Jam 10 malam, saya telpon nomornya tidak lagi aktif. Sampai hari Minggu nomornya tetap tidak aktif. Jam lima sore, kami dapat kabar Meri meninggal. Kami tahu dari polisi yang langsung datang ke rumah,” terangnya.

Kembali ditanya tentang pria yang bernama Riko Tabun, Yefta mengaku, pria itu sempat dicari oleh salah satu wanita di rumah orang tuanya di Nifukani. Namun, hubungan antara Meri dan Riko tidak pernah mereka tahu. “Tetangga kami yang bernama Maria Benu bilang Riko tinggal di Kesetnana dan sudah berkeluarga,” katanya.

Kasat Reskrim Polres Kupang, Iptu Simson Amalo ketika dikonfirmasi terkait perkembangan penanganan kasus ini, mengaku belum ada tersangka yang ditetapkan. Namun pihaknya sudah memeriksa tiga saksi termasuk Riko. “Kami sementara lidik tersangkanya. Maklum tidak ada saksi sehingga kami urut pelan-pelan dari awal,” katanya lewat whatsapp.
Simson menyebutkan, Riko adalah pacar korban. Saat diperiksa sebagai saksi, dia mengaku tengah berada di SoE ketika korban ditemukan meninggal. “Riko katanya ada di SoE. Makanya kami lagi rencana ke SoE untuk kejar alibinya,” ungkap Simson.

Tak Pernah Hubungi Keluarga

Sementara itu, ayah Meri, Mateos Faot ditemui di kediamannya di RT 12/RW 01 Desa Nifukani, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten TTS Senin kemarin menjelaskan, Meri kabur dari rumah dengan cara pura-pura hendak mengambil air di sumur. Mateos juga mengatakan, korban yang telah bersuami dan memiliki satu anak itu kabur entah kemana sehingga mereka tidak mencarinya. Termasuk suami Meri, Hendrik Boimau.

Mateos mengaku, baru mendengar kabar tentang anaknya itu saat ditemukan sudah meninggal di kawasan bukit cinta itu. “Kami dengar dari polisi di SoE,” ujarnya.
Mendengar informasi itu, suami dan ibu Meri serta sejumlah kerabat langsung bergegas ke Kupang untuk melihat langsung kondisi Meri. “Kami juga tidak tahu dia pergi dengan siapa dan pergi ke mana. Kami tidak cari karena kami tidak tahu mau cari di mana dan juga kami tidak punya ongkos untuk cari. Selama ini kami dengan suami dan anaknya tinggal di rumah,” ungkap Mateos dalam tuturan bahasa Dawan.

Meri dan suaminya yang belum menikah sah itu tinggal tidak jauh dari orang tua korban. Sehingga Mateos tidak menyangka anaknya itu kabur meninggalkan anak dan suaminya. Berbeda dengan keterangan istrinya, Mateos mengatakan, sejak mereka hidup sama-sama, korban dan suaminya tidak pernah cekcok dalam rumah tangga. “Memang mereka tinggal di rumah sendiri, tapi urusan makan dan minum kami sama-sama. Jadi selama ini saya tidak pernah dengar mereka bertengkar,” katanya.

Karena anaknya tewas secara tragis maka ia meminta kepada pihak berwajib untuk mengusut tuntas penyebab kematian anaknya itu. Ia juga berharap jika anaknya itu meninggal karena dibunuh, agar pelaku dituntut seberat-beratnya setimpal dengan perbuatannya menghilangkan nyawa anaknya. “Ini kan polisi sudah tangani jadi saya harap pelaku dihukum seberat-beratnya, karena sudah membunuh anak saya,” pinta Mateos seraya mengusap air mata yang terus mengalir. (tom/yop/ito)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!