NTT Bukan Provinsi Termiskin – Timor Express

Timor Express

FLORES RAYA

NTT Bukan Provinsi Termiskin

POSE BERSAMA. Gubernur NTT, Frans Lebu Raya pose bersama usai membuka KKBPK di hotel Sylvia Maumere, Selasa (13/3) lalu.

KAREL PANDU/TIMEX

MAUMERE, TIMEX – Gubernur NTT, Frans Lebu Raya menegaskan, NTT bukan provinsi termiskin di Indonesia. Dahulu, NTT selalu dijuluki sebagai provinsi termiskin menempati urutan ke-31 dari 34 provinsi di Indonesia.

“Stigma ini harus diubah. Saat ini, NTT memiliki berbagai potensi sumberdaya alam, baik pariwisata maupun pertanian dan kelautan,” kata Frans, Selasa (13/3) di Maumere.

Ia menjelaskan, NTT dahulu dijuluki sebagai provinsi termiskin, namun kali ini julukan itu sudah tidak relevan lagi. Karena NTT bukanlah provinsi termiskin. Karena itu kata Frans, stigma itu harus diubah. NTT kaya sumberdaya alam. NTT juga kaya akan potensi pariwisata, walaupun belum dikelola secara utuh.

“Siapa bilang NTT miskin? NTT beda dengan dulu, yang selalu dijuluki sebagai provinsi miskin. Sekarang bisa dilihat, kita kaya. Kaya akan potensi alam, kaya akan potensi pariwisata, pertanian dan kelautan,” tegas Frans.

Sejak memimpin NTT tahun 2008, Frans mengaku telah menyerukan untuk menghentikan seruan julukan NTT sebagai provinsi miskin. Sebagai pemerintah kata Frans, harus memberikan motivasi kepada seluruh masyarakat NTT bukan pesimistis yang membuat masyarakar NTT mundur dalam pola pikir, mundur dalam  berusaha. Masyarakat NTT sudah mampu mendobrak rantai kemiskinan yang membelenggu NTT dari tahun ke tahun.

“Untuk keluar dari belenggu kemiskinan, maka kita harus mengubah pola pikir masyarakat NTT. Kita harus dorong masyarakat untuk  memanfaatkan segala sumberdaya alam yang ada di masing-masing kabupaten di NTT, agar dapat bernilai demi memenuhi kebutuhan hidupnya,” jelasnya.

Frans mengajak masyarakat NTT  untuk selalu berpikir positif bukan pesimistis. Masyarakat harus berpikir maju memanfaatkan sumberdaya alam NTT yang subur. Jika selalu berpikir negatif, maka orang NTT tidak pernah maju.

“Kita negara yang subur. NTT juga tanah yang subur, kenapa kita harus miskin,” tandas Frans.

Jika harus berharap orang NTT setiap hari makan daging lanjut Frans, maka  sampai kapanpun tidak akan terwujud. Karena orang NTT akan makan daging saat pesta atau acara tertentu. Bahkan, sebagai gubernur sudah mengimbau untuk tidak melarang orang berpesta. Menurutnya, dengan berpesta akan menambah asupan gizi. Disamping itu, pesta juga membangun rasa persaudaraan yang tinggi khususnya di NTT.

“Saya mengimbau untuk tidak boleh melarang orang berpesta. Karena dengan berpesta akan menambah asupan gizi bagi masyarakat. Kalau mau disuruh makan daging setiap hari, maka sampai kapanpun tidak akan terwujud,” jelas Frans.

Menurutnya, masyarakat di desa hanya akan makan daging kecuali saat pesta atau ada hewan yang mati. Karena itu masyarakat harus diberi ruang untuk berpesta.  Frans menambahkan, periode ini NTT harus berubah, harus semakin baik dari waktu ke waktu, harus mampu merencanakan  pembangunan manusia secara baik, termasuk diantaranya melalui program keluarga berencana.

“Dengan rencana yang baik dalam membangun sumberdaya manusia, maka sudah selangkah lebih maju, cara yang tepat adalah melalui program keluarga berencana. Dua anak cukup,” ungkap Frans sambil mengancungkan dua jarinya.

Dengan memiliki dua anak, kata Frans, kebutuhan akan asupan gizi, pendidikan dan kesehatan akan mudah terpenuhi.  Pendidikan kata Frans, sangat penting, karena  melalui pendidikan orang NTT tidak dinilai bodoh.

Frans menyebutkan, salah seorang anak NTT telah meraih gelar Doktor termuda pada usia 24 tahun. Hal ini  menjadi salah satu kebanggaan bagi orang NTT.

“Orang NTT harus bangga memiliki anak cerdas seperti dialami salah seorang anak NTT yang mampu mendapat gelar Doktor pada usia 24 tahun. Ini luar biasa,” ujarnya.

Sementara Kepala BKKBN Provinsi NTT, Marianus Mau Kuru menjelaskan, program KB penting bagi semua pemangku kepentingan, mitra kerja dan stakeholder lainnya dalam kegiatan program KKBPK di NTT.

Menurut Marianus, keterlibatan lembaga pemerintah, tokoh masyarakat dan tokoh agama, memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menyukseskan program KKBPK di NTT.

“Jika lembaga pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dilibatkan secara penuh dalam menyukseskan program ini, maka NTT akan berubah, akan lebih maju, akan lebih sukses,” ungkap Marianus. (kr5/ays)

 

 

 

 

 

 



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!