Momentum Pertarungan Retorika Politik – Timor Express

Timor Express

OPINI

Momentum Pertarungan Retorika Politik

(Mencermati Pelaksanaan Debat Pilgub 2018)

Oleh: Jano Musen Ola

Peneliti pada Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi NTT

Saat inisiasi pelaksanaan debat “Calon Presiden” (Capres) RI pertama kali dilaksanakan pada Selasa, 27 April 1999, di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI), Salemba, Jakarta, oleh sekelompok mahasiswa UI, proses demokrasi yang sehat semakin mendapat tempatnya dalam beberapa tahun belakangan. Hal ini sejalan dengan cita-cita besar para inisiator untuk mendorong proses demokratisasi di Indonesia dan membuka jalan baru bagi berkembangnya budaya politik baru yang transparan dan akuntabel (Prasodjo, 2017). Alhasil, di setiap kesempatan penyelenggaraan pesta demokrasi pilkada dan pilpres pasca tahun 1999, pelaksanaan debat para kandidat pemimpin menjadi salah satu agenda utama. Sebab, pelaksanaan debat mendorong pertimbangan rasional dalam menggunakan pilihan terhadap pasangan calon pemimpin daerah atau nasional. Pelaksanaan debat menjadi media pendidikan politik bagi masyarakat pemilih untuk memahami visi dan misi calon pemimpin daerah.

Melalui tayangan live di Inews TV (Kamis, 5/4/2018), debat tahapan pertama dalam pilgub-pilwagub provinsi NTT 2018 telah memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat NTT untuk menyikapi berbagai strategi yang didesain keempat paslon dalam mengatasi persoalan ekonomi dan infrastruktur di NTT. Tulisan ini tidak berikhtiar menyikapi pilihan desain strategi (substance) keempat paslon tersebut, tetapi coba mencermatinya dari perspektif komunikasi politik, khususnya pada gaya komunikasi.

Meskipun debat (politik) telah menjadi agenda utama dalam penyelenggaraan pesta pilkada di Indonesia, namun belum banyak pakar komunikasi politik di Indonesia menempatkannya sebagai salah satu bentuk komunikasi politik. Justru, berbagai ulasan terhadap pelaksanaan debat (politik) para kandidat pemimpin nasional dan daerah dari perspektif komunikasi politik lebih menempatkannya dalam retorika politik sebagai pisau analisis. Pasalnya, debat politik mensyaratkan para pasangan cagub-cawagub untuk menonjolkan aspek seni berbicara dan teknik dalam berkomunikasi yang memiliki daya persuasi politik yang sangat tinggi dengan menggunakan bahasa lisan yang indah (irama, mimik dan intonasi suara).

Oleh karena itu, berbekal materi debat yang disiapkan KPU NTT, semestinya retorika politik memainkan peran penting dalam pelaksanaan debat pilgub-pilwagub provinsi NTT. Hal ini mengutip pandangan Aristoteles bahwa dalam retorika kepiawaian berkomunikasi terletak pada bagaimana mengatakan sesuatu, bukan pada apa yang dikatakan. Letak kepiawaian beretorika melekat pada style rkomunikasi yang disuguhkan oleh masing-masing pasangan kandidat untuk menarik dukungan pemilih. Dalam komunikasi politik yang efektif, penggunaan retorika politik bertujuan untuk menggugah emosi dan memengaruhi khalayak.

Dari pelaksanaan debat tahap pertama, retorika politik yang ditunjukkan oleh keempat pasangan mencakup retorika deliberative, retorika forensic dan retorika demonstrative (Arifin, 2011). Retorika deliberative dirancang untuk memengaruhi khalayak dalam kebijakan yang akan dihasilkan. Fokus pembicaraan terletak pada keuntungan dan kerugian jika sebuah kebijakan diputuskan. Retorika forensic berkaitan dengan pengadilan dengan fokus pembicaraan masa lalu yang berkaitan dengan keputusan pengadilan. Sedangkan, retorika demonstrative sendiri mengembangkan wacana yang dapat memuji atau menghujat pihak lain (Arifin, 2011).

Ketiga retorika politik yang ditunjukkan oleh para kontestan mengarah pada pertarungan image. Pertarungan image yang dimainkan oleh para kontestan dalam entitas narasi seputar visi dan misi serta pilihan strategi yang digunakan semakin menunjukkan superioritas antara kontestan yang satu dengan kontestan yang lainnya. Hal ini pun akan mendapat legitimasi dari para supporter masing-masing kontestan yang semakin memperteguh dukungan emosional dan masyarakat pemilih yang terpikat.

Pelaksanaan debat merupakan momentum yang mempertegas bahwa pertarungan image merujuk kepada suatu pembentukkan kesan publik yang dikemas dengan politik bahasa oleh masing-masing kontestan. Di dalam politik bahasa, kepiawaian menarasikan materi (substansi) debat politik oleh masing-masing kontestan mengeksplisitkan konsistensi antara konteks panggung politik dengan politik konteks di setiap kesempatan berbicara. Hal inilah yang menggerakkan setiap kandidat berlomba-lomba menunjukkan hegemoninya dalam pencitraan pada saat debat politik. Pencitraan mendorong ekspektasi yang berlebihan karena terasa lebih dramatis dan hidup dari realitas itu sendiri. Menariknya, masing-masing kandidat menampilkan spirit optimistis dalam hegemoni pencitraan. Sayang, kalau pelaksanaan debat tahapan pertama dan selanjutnya, pertarungan image yang ditunjukkan masih menampilkan pendiskreditan terhadap pihak lain.

Pelaksanaan debat tahapan pertama menegaskan juga positioning politik yang berpihak pada masyarakat dengan berbagai program yang ditawarkan dalam mengatasi persoalan ekonomi dan infrastruktur. Dalam debat, retorika politik yang diperankan seyoganya menonjolkan keberpihakkan. Ini menjadi hidden agenda dalam penjabaran visi dan misi oleh masing-masing kandidat yang dikemas dengan politik bahasa sedemikian rupa. Sebab, pertarungan image oleh masing-masing kontestan dalam kecerdasan beretorika politik akan menentukan sikap publik dalam memberi penilaian terhadap masing-masing konstestan. Kita tunggu debat selanjutnya (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!