Timor Express

RAKYAT TIMOR

Warga Motamasin Larang Ekskavator Beroperasi di Mota Babulu

TAMBANG. Alat berat ekskavator dan truk sewaan kepala Desa Alas Selatan sementara melakukan aktivitas penambangan di kali Mota Babulu, Selasa (10/4).

YOHANES SIKI/TIMEX

Penambangan Galian C

BETUN, TIMEX – Aktivitas penambangan galian C di kali Mota Babulu Desa Alas Selatan Kecamatan Kobalima Timur, diprotes warga. Aktivitas penambangan dinilai merusak lingkungan dan merugikan masyarakat. Sebab, rumah warga terancam longsor.

Tak puas, warga terpaksa menghentikan aktivitas enam ekskavator yang sedang beroperasi dan menutup jalan masuk.

Pantauan Timor Express, Selasa (10/4) sehari setelah dilakukan protes warga, ekskavator masih beroperasi. Ekskavator milik PT Bina Nusa Lestari, PT Naviri dan ekskavator Prima yang disewakan Kepala Desa Alas Selatan. Dugaan kuat penambangan diduga ilegal karena tidak membayar pajak. Truk yang membawa material setiap hari membayar Rp 38.000 per ret pasir dan batu sebagai pajak. Material diangkut dari kali Mota Babulu menuju proyek normalisasi kali Motamasin yang dikerjakan PT Bina Nusa Lestari. Sedangkan material PT Naviri diangkut menuju tempat penggilingan batu.

Hingga kini, belum dipastikan pungutan retribusi yang diterima warga setempat atas nama Sem Mesak, disetor ke kantong siapa.  Sebab, pemerintah desa mengaku tidak tahu ada retribusi dan setorannya ke mana. Aktivitas penambangan sudah berlangsung enam bulan.

Paulus Ulu, ketua RT 07 Desa Alas Selatan mengaku kesal terhadap aktivitas penambangan menggunakan alat berat, sebab merusak lingkungan, merusak tanggul irigasi bahkan akibat penambangan sejumlah permukiman warga disepanjang kali terancam longsor.

Bukan hanya itu, penambangan material membuat warga dua dusun yakni Makotabiru dan Dusun Taledu kehilangan pekerjaan. Sebelumnya warga dua dusun melakukan penambangan manual. Keuntungan harga material per truk Rp 50.000.

“Sebelumnya warga kumpul batu dan pasir di sepanjang kali. Tapi sekarang tidak bisa kerja lagi karena perusahaan masuk pakai alat berat,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan, Geradus Berek, warga setempat mengaku kesal aktivitas penambangan galian C diduga ilegal. Apalagi warga sudah berusaha menghentikan aktivitas penambangan tapi dilapangan alat berat ekskavator kepala desa dan PT Naviri masih saja beroperasi.

“Tidak ada yang istimewa mestinya ekskavator dihentikan semua. Selain merusak lingkungan kali dan ada dugaan tidak ada retribusi pajak,” kesalnya.

Bukan hanya itu, Geradus juga kesal penambangan galian C di kali justru kepala desa yang merusak lingkungan kali. Pimpinan wilayah sebagai sub kontraktor mengerahkan alat berat sewaannya dan truknya untuk menambang di kali.

Dia berharap pemerintah kabupaten, Dinas Pertambangan Provinsi NTT dan Polda NTT melakukan penertiban terhadap penambang yang diduga ilegal. Sebab, aktivitas penambangan  melibatkan oknum tertentu untuk mendapatkan fee proyek.

Sementara Kepala Desa Alas Selatan, Adam CH Fahik membenarkan aktivitas penambangan galian C di wilayahnya.

Penambangan terpaksa dihentikan warga atas perintahnya sebab ada pungutan karcis dengan jumlah besar yang dilakukan warganya atas nama Sem Mesak.

“Saya sudah panggil warga saya yang pungut karcis tapi tidak mau datang. Sehingga saya perintahkan warga untuk tutup jalan tidak boleh ada angkutan yang masuk,” ungkapnya.

Ketika disinggung terkait aktivitas penambangan yang diduga ilegal, Adam mengaku perusahaan membayar pajak ke provinsi melalui Dinas Pendapatan Daerah. Sedangkan PT Naviri setiap tahun membayar pajak sebesar Rp 1 miliar sejak 2012, sehingga bebas melakukan penambangan.

Menurut Adam, dirinya hanya sebagai sub pekerjaan sehingga menggunakan dua alat berat yang disewakannya untuk membantu angkut material. Sehingga tidak salah saat ini dua alat berat melakukan penambangan termasuk milik PT Naviri karena sudah membayar pajak. Sedangkan PT Bina Lestari baru membayar pajak. (mg24/ays)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!