Timor Express

EKONOMI BISNIS

Pemerintah Diminta Serius Lakukan Industrialisasi Garam

lustrasi petani garam tengah mengolah lahan garamnya.

Dok. Jawa Pos

JAKARTA, TIMEX – Kementerian Perindustrian memperkirakan kebutuhan garam industri sepanjang 2018 mencapai 3,7 juta ton. Karena produksi garam industri lokal tidak mencukupi, pemerintah telah memutuskan untuk melakukan impor.

Kebijakan impor yang tidak popuper ini terus menuai polemik. Ini semakin parah dengan hadirnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 9 Tahun 2018 tentang Tata Cara Pengendalian Impor Komoditas Perikanan dan Komoditas Pergaraman sebagai Bahan Baku dan Bahan Penolong Industri pada 15 Maret 2018.

Keinginan agar Indonesia bisa melakukan industriliasi garam di negeri sendiri menguat. Guru Besar Bidang Teknik Rekayasa Lingkungan Universitas Indonesia Misri Gozan, menilai, pemerintah harus serius jika ingin melakukan hal tersebut.

“Untuk menyaingi garam impor syaratnya pemerintah harus serius melakukan industrialisasi garam. Produksi massal dengan memanfaatkan teknologi menjadi salah satu kuncinya,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (11/4).

Dia menyebut, ada banyak hal yang harus disiapkan pemerintah agar swasembada garam bisa direalisasikan. “Mulai dari deregulasi perizinan, infrastruktur untuk industri garam, hingga penggunaan teknologi untuk diversifikasi produk,” sambungnya.

Selain itu, masih kata dia, faktor cuaca menjadi satu hal yang juga diperhitungkan. Dirinya mencontohkan antara Australia dengan Indonesia.

“Contohnya, dari segi udara saja, kita berbeda dengan Australia. Di Indonesia butuh waktu yang lama untuk penguapan air laut, karena udara di Indonesia sudah dipenuhi air. Di Australia proses penguapan lebih cepat,” tuturnya.

Dia juga mengingatkan, di Indonesia, konsumen tersebar memang berasal dari garam industri. Tapi sampai sekarang kualitas garam masih belum memenuhi spesifikasi untuk kebutuhan industri itu sendiri.

Sementara itu, Ketua Pusat Unggulan Inovasi (PUI) Garam Nasional Makhfud Efendy, mengatakan permasalahan lain yang sampai saat ini belum diselesaikan adalah data garam yang masih simpang siur.

“Selain dihadapkan pada permasalahan teknologi, Kita dihadapkan pada permasalahanc akses data dan informasi garam,” pungkasnya. (hap/JPC/tom)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!