Timor Express

EKONOMI

Usaha Rias Pengantin Kian Menjanjikan

RIAS PENGANTIN. Peserta lomba tengah menunjukan keterampilannya dalam merias pengantin dalam perlombaan yang digelar di Gedung DPD RI NTT, Kamis (19/4).

TOMMY AQUINODA/TIMEX

KUPANG, TIMEX – Salah satu jenis usaha yang paling menjanjikan adalah salon kecantikan, khususnya rias pengantin. Untuk sukses dalam menjalankan usaha tersebut, warga belajar dari lembaga-lembaga kursus harus mengembangkan kompetensi, belajar tentang kosmetik, belajar tentang pribadi yang mengemban profesi sebagai perias, belajar  tentang etika dan harus percaya diri.  Hal ini ditegaskan oleh Eveline Mauboy Faah selaku Ketua Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Penyelenggara Kursus dan Pelatihan (DPD HIPKI) NTT di sela-sela jalannya lomba rias pengantin daerah NTT dan lomba rias pengantin modern nusantara inspirasi NTT di Gedung DPD RI NTT, Kamis (19/4).

Evelin menyebutkan, ada banyak jebolan dari lembaga kursus dan pelatihan yang kini mengemban profesi sebagai perias. Seiring dengannya, usaha salon semakin banyak. Kendati demikian, permintaan akan tenaga rias juga meningkat. Selain itu, walaupun salon berjejeran dalam satu tempat, pelaku usaha salon tidak merasa tersaingi. Hal itu berarti usaha salon merupakan bisnis paling menjanjikan. “Kalau mereka membaca situasi ekonomi, mereka akan mempersiapkan diri untuk bersaing, sehingga bisa menonjolkan kompetensi masing-masing,” katanya.

Menurut Eveline, usaha rias pengantin disebut menjanjikan karena memang pendapatan yang dihasilkan cukup besar.  Bagi pelaku usaha salon yang sudah satu paket dengan EO (Even Organizer), pendapatannya bisa mencapai ratusan juta. Tetapi apabila hanya melayani rias pengantin (tanpa EO), pendapatannya dalam sekali rias bisa mencapai Rp 5 juta – Rp 6 juta. “Di daerah kecil seperti di NTT, masyarakat memang punya keterbatasan. Tapi minimal satu juta sekali rias sudah ada di tangan. Kalau dalam sebulan bisa rias pengantin sampai enam sampai tujuh kali, pendapatannya tentu besar,” terang Eveline yang juga merangkap sebagai Ketua Ikatan Perias Pengantin.

Untuk mengembangkan keterampilan, kata Eveline, warga belajar harus juga terlibat dalam perlombaan tata rias. Yang tidak kalah penting adalah  belajar tentang kemajuan teknologi, karena terkait dengan kacantikan akan terus berubah. “Mereka harus terus belajar. Selain itu, seorang perias akan berjumpa dengan masyarakat kecil, menengah dan masyarakat kelas atas. Jadi merka harus membawa diri dengan baik, mengembangkan kompetensi dan mengedepankan etika,” terang dia.

Terkait dengan perlombaan rias pengantin daerah NTT dan lomba rias pengantin modern nusantara, Eveline menyebutkan, ada perbedaan mendasar antara tradisional dan modern nusantara. Dengannya seorang perias harus memahami hal tersebut agar tidak sembarangan memadukan dua unsur tersebut.  “Seorang perias harus memahami tentang adat dan budaya. Jadi dalam lomba ini kita akan menilai sejauh mana mereka memahami tentang adat dan budaya dan adat yang diekspresikan lewat merias pengantin, sehingga bisa bersaing pada lomba di tingkat nasional nantinya,” jelasnya.

Sementara,anggota DPD RI Abraham Paul Liyanto yang juga hadiralam kegiatan ini, mengatakan, lomba tata rias pengantin sangatlah bermanfaat. Selain untuk melatih skills warga belajar pada lembaga kursus, juga untuk membuka peluang wirausaha ke depan, sehingga bisa mengurangi angka pengangguran. “Di era teknologi modern, persaingan pekerjaan akan sangat nampak. Maka warga belajar sebaiknya dilatih dan ikut kompetisi semacam ini sehingga mereka bisa menjadi tenaga kerja yang siap pakai di bidangnya,” kata senator dua periode itu.

Paul berharap, pemerintah bersinergi dengan dunia usaha sehingga mengetahui pasar lapangan pekerjaan. Begitu juga dengan organisasi HIPKI NTT harus bisa membangun networking bagi warga belajar. Jika tidak, maka setelah dilatih dan mengikuti kompetisi, warga belajar akan kembali seperti semula. “Kalau sudah ada kerjasama dengan hotel, mereka bisa dipakai untuk rias tamu dari luar yang hadir mengikuti even-even di hotel,” katanya.

Dia berharap, seusai mengikuti pelatihan dan lomba, warga belajar bisa berperan penting untuk mengembangkan ekonomi. “Setelah abis latihan, jangan malu dan harus percaya diri, jangan pulang rumah terus tidur-tiduran. Harus bisa mencari jejaring dan terus kembangkan keterampilan,” ungkap Paul.

Sekadar tahum, lomba rias pengantin daerah NTT dan lomba rias pengantin modern nusantara inspirasi NTT yang diikuti 15 peserta juga disponsori oleh JNE, Garuda Indonesia, Hotel On The Rock, Amaris dan La Tulipe. Selain Eveline Mauboy Faah, ada dua juri yang menilai kreativitas peserta lomba. Yakni Felpin Balukh dari LKP Tiga Putri dan Reny Marlina Un dari LKP Ariella. (tom) 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!