Timor Express

FLORES RAYA

Pantau UN, Kepsek Curhat Kondisi Gedung

RUSAK. Kepala SMP Negeri 1 Ruteng, Doroteus Djemuru menunjuk salah satu ruang sekolah yang rusak, Senin (23/4).

FANSI RUNGGAT/TIMEX

RUTENG, TIMEX – Hari pertama pelaksanaan ujian nasional (UN) SMP, Kabid SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Manggarai, Frans Gero memantau pelaksanan di sejumlah SMP. Para kepala sekolah (Kepsek) pun curhat mengenai kondisi gedung sekolah.

Pantauan Timor Express, Senin (23/4) Kabid SMP, Frans Gero didampingi staf Dinas Pendidikan Petrus Burung datang ke sejumlah SMP untuk memantau pelaksanaan UN. Seperti SMP Negeri 10 dan SMP Negeri 1 Ruteng serta SMP Negeri 1 Langke Rembong.

Di sekolah itu, Frans diterima kepsek, wakil kepsek dan sejumlah guru. Frans juga bertemu dengan pengawas ujian dan memberikan arahan.

Saat tiba di SMP Negeri 10 dan SMP Negeri 1 Ruteng, kepsek menceritakan kondisi gedung sekolah.

Kepala SMPN 10 Ruteng, Magut Roni Susanto Yosef menyampaikan curhat soal kekurangan ruangan kelas. Di sekolahnya masih kekurangan enam ruangan kelas. Ini dampaknya dengan KBM. Di mana, dengan total 505 siswa di sekolah itu, sehingga dilakukan dua kali KBM, yakni pagi dan siang.

“Yang ada sekarang baru ada enam ruangan kelas dan masih kekurangan enam ruangan lagi. Karena masih kurang, selama ini kami KBM pagi dan siang. Harapannya kami bisa dapat tambahan gedung ruangan kelas,” ungkap Magut.

Terkait pelaksanaan UN, dari 144 peserta, semuanya ikut UN. Semua peserta sudah siap menghadapi UN dan optimistis peserta bisa meraih nilai bagus. Tahun ini sekolahnya masih ujian kertas pensil, maka rencananya tahun depan bisa UNBK. Untuk komputer yang sudah tersedia, sebanyak 10 unit dan dipastikan tahun depan bertambah.

“Kami tidak mau kalah dengan sejumlah sekolah di kota. Yang pasti tahun depan kita laksanakan UNBK. Kalau saja komputer masih kurang, guru sudah siap pinjamkan laptopnya untuk bantu kegiatan UNBK,” katanya.

Sementara, Kepala SMP Negeri 1 Ruteng, Doroteus Djemuru yang didampingi wakil kepsek, Anselmus Sigi mengatakan, total peserta UN di sekolah itu sebanyak 292 orang dan semua ikut UN. Jumlah pengawas sebanyak 30 orang. Tahun depan sekolah itu dipastikan melaksanakan UNBK. Ada belasan komputer yang sudah tersedia.

“Fasilitas komputer sudah ada.  Tinggal saja tahun depan kita rencana tambah jumlahnya, sehingga bisa UNBK. Bahkan dari seluruh orang tua peserta UN tahun 2018 atau kelas XII yang sekarang mau tamat, mereka sudah sampaikan ke sekolah akan sumbang tiga unit laptop untuk sekolah agar UNBK bisa dilaksanakan tahun depan,” kata Doroteus.

Terkait ruang kelas, ia mengatakan, jumlah ruangan kelas yang riil sebanyak 16 ruangan. Dari jumlah itu ada dua ruangan dipakai untuk laboratorium. Selain itu, ada delapan ruang kelas yang kondisi atapnya sudah rusak. Sehingga disaat hujan, selalu bocor dalam ruangan kelas. Plafon yang ada pun ikut rusak.

“Untuk total seluruh murid di sekolah ini sebanyak 839. Itu terdiri dari 28 rombongan belajar (rombel). Kegiatan KBM selama ini dilaksanakan pagi hari untuk 19 rombel dan siang hari sembilan rombel. Kami masih kekurangan ruangan kelas. Bahkan ada delapan ruangan kelas yang atapnya sudah rusak. Ruangan itu dibangun tahun 1985. Kami harap bisa direhab,” tutur Doroteus.

Sementara, Kabid SMP, Frans Gero kepada Timor Express menjelaskan, ada sebanyak 71 SMP yang melaksanakan UN di Kabupaten Manggarai. Sebanyak sembilan sekolah yang laksanakan UNBK dan 62 sekolah lainnya ujian UNKP. Menurut Frans, pelaksanaan berjalan aman dan belum ada laporan terkait adanya persoalan.

“Belum ada laporan terkait adanya masalah. Semua dokumen ujian aman. Ada pun kendala sekira 30 menit untuk sekolah UNBK. Tapi itu karena gangguan jaringan server di pusat. Ini tidak saja di Manggarai, tapi seluruh NTT. Total seluruhnya sesuai laporan yang masuk ke dinas sebanyak 7.053. Kita semua berharap sampai hari terakhir aman. Peserta diharapkan bisa mengerjakan dengan baik dan benar,” ujar Frans.

Dia menjelaskan, sebelumnya menggelar rapat dengan seluruh kepsek dan pihak kepolisian. Dalam rapat itu, Frans meminta para kepsek agar bisa mengajak peserta UN dan orang tua murid agar usai ujian di hari terakhir, tidak boleh melakukan aksi coret dan konvoi. Berharap di hari terakhir, orang tua bisa datang menjemput anak masing-masing di sekolah.

“Kita berharap anak-anak ini tidak boleh buat aksi coret di seragam dan tidak perlu konvoi. Ini demi menjaga keamanan mereka sendiri. Bila perlu yang kita harapkan, pakaian seragam diberikan atau sumbang kepada adik kelas yang membutuhkan. Ini yang saya sudah minta dengan para kepsek dalam rapat,” katanya. (krf3/ays)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!