Timor Express

EKONOMI BISNIS

Disnak Luncurkan Strategi Pemberantasan Hog Cholera

LANGKAH STRATEGIS. Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Danny Suhadi memberikan penjelasan kepada wartawan terakit peluncuran road map pencegahan, pengendalian dan pemberantasan hog cholera, Jumat (27/4) di Aula Hotel Sylvia.

KUPANG, TIMEX – Pada pertengahan tahun 2017 lalu, wabah hog cholera menyerang ternak babi di NTT,  khususnya di Pulau Flores. Jumlah ternak yang mati di tingkat peternak dan perbibitan mencapai sekitar 10 ribu ekor dengan perkiraan kerugian sebesar Rp 25 miliar.

 

Terjadinya serangan dan penularan wabah hog cholera diakibatkan karena cara pemeliharaan babi yang masih bersifat tradisional oleh masyarakat, terutama di wilayah pedesaan. Selain itu, juga diakibatkan karena kurangnya perhatian atas pemeliharaan dan kebersihan kandang, penggunaan pakan tradisional, serta minimnya pemberian obat dan vaksin.

 

Menimbang posisi NTT yang sangat strategis dalam konteks pembangunan dan pengembangan industry peternakan babi di Indonesia, Jumat (27/4) bertempat di Aula Hotel Sylvia, Dinas Peternakan Provinsi NTT meluncurkan road map pencegahan, pengendalian dan pemberantasan hog cholera di Provinsi NTT. Rencana strategis pencegahan, pengendalian dan pemberantasan hog cholera tersebut dapat tersusun berkat kerja sama Dinas Peternakan NTT dengan dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, AIP-PRISMA (Australia-Indonesia Partnership-Promotin Rural Income through Support for Markets in Argiculture) dan AIP-EID (Australia Indonesia Partnership for Emerging Infectious Diseases).  

 

Adapun sembilan langkah strategi pencegahan, pengendalian dan pemberantasan hog cholera. Pertama, surveilans. Kedua, vaksinasi. Ketiga, peningkatan tindakan biosecurity di peternakan babi. Keempat, pengawasan dan pengendalian lalu lintas ternak babi hidup dan produknya. Kelima, peningkatan kualitas ternak babi bibit dan managemen perbibitan. Keenam, peningkatan managemen pekan, kesehatan dan penyakit pada ternak babi. Ketujuh, penguatan kelembagaan dan SDM. Kedelapan, pengembangan database peternakan babi di NTT melalui optimalisasi iSIKHNAS. Kesembilan, monitoring, evaluasi dan menghimpun pembelajaran pelaksanaan road map.

 

Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Danny Suhadi mengatakan, lokakarya ini merupakan langkah awal menuju perbaikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat NTT khususnya peternak babi. “Sembilan langkah strategis pencegahan, pengendalian dan pemberantasan hog cholera ini diharapkan dapat kembali mendorong bertumbuhnya industri peternakan babi di NTT sehingga ke depannya NTT mampu menjadi salah satu provinsi lumbung babi bagi Indonesia,” katanya.

 

Menurut Danny, dalam upaya pencegahan, pengendalian dan pemberantasan hog cholera sembilan langkah strategis tersebut harus juga masuk sampai pada unsur politis yaitu masuk kepada pengambil-pengambil kebijakan (legislatif dan eksekutif). “Kalau tanpa melalui pertemuan atau perbincangan dengan para pengambil kebijakan, saya yakin akan sulit. Sebagus apapun yang sudah kita pelajari dan kita susun tetap saja akan terkendala,” ungkapnya.

Pantauan Timor Express, usai lokakarya,  Danny Suhadi bersama perwakilan dari AIP-Prisma, para kepala dinas peternakan dari berbagai kabupaten/kota, serta sejumlah pihak swasta dan pemangku kepentingan menyatakan komitmen bersama untuk berperan aktif dalam implementasi  road map pencegahan, pengendalian dan pemberantasan hog cholera di NTT. Komitmen bersama itu dilakukan dengan pemmembubuhkan tandatangan pada poster yang telah disediakan. (tom)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!