Hamil 5 Bulan, TKW NTT Disekap Majikan – Timor Express

Timor Express

KRIMINAL

Hamil 5 Bulan, TKW NTT Disekap Majikan

LOLOS. Dari kiri, Silviana Dada Gole, Regina Kodi Mete dan Ngana Ata Linda, calon TKW yang berhasil meloloskan diri dari sekapan majikan di Jakarta. Mereka sementara ditampung di Kantor Penghubung NTT, Jalan Tebet Timur Dalam Raya, Nomor 42, Jakarta Selatan. Tampak mereka didampingi para pegiat LSM yang konsen terhadap masalah perdagangan orang, Jumat (27/4).

GATRA BANUNAEK/TIMEX

Tiga Orang Berhasil Lolos
Di Penampungan Jakarta

JAKARTA, TIMEX – Sebanyak empat calon tenaga kerja wanita (TKW) asal Sumba menjadi korban mafia human traffiking. Tiga orang baru saja meloloskan diri. Satu lainnya, yang sedang hamil 5 bulan, masih disekap majikan.

Dari empat orang tersebut, dua di antaranya baru berusia 17 tahun. Setelah direkrut di beberapa daerah di Sumba, para calon TKW itu kemudian diterbangkan ke Jakarta. Sebelumnya transit di Denpasar, Bali. Selama ditampung di Jakarta yakni di rumah salah satu perekrut, para calon TKW itu mengaku mendapat perlakuan kasar. Mereka makan seadanya. Tak terima diperlakukan seperti itu, mereka pun berupaya meloloskan diri saat hendak diberangkatkan ke Medan melalui Bandara Soekarno Hatta. Semua dokumen administrasi yang dibawa tidak memenuhi syarat.

Salah seorang warga NTT yang bertemu dengan ketiga calon TKW di Bandara Soekarno Hatta kemudian membawa para korban ke Kantor Penghubung NTT di Jalan Tebet Timur Dalam Raya, Nomor 42, Jakarta Selatan.

Saat ini, ketiga calon TKW yang berhasil meloloskan diri dari sekapan majikan itu ditampung di Jakarta untuk proses pemulangan.
Mereka yang berhasil meloloskan diri dari sekapan majikan yakni Silviana Dada Gole, 25, warga Bondokamdelu, Kecamatan Mamboro, Kabupaten Sumba Tengah. Kemudian Ngana Ata Linda, 17, warga Melolo, Desa Tamburi, Kecamatan Ringgi, Kabupaten Sumba Timur dan Regina Kodi Mete, 17, warga Bilakarendi, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD).

Salah satu calon TKW yang diketahui bernama Lince, warga Elopada, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat masih disekap salah satu perantara TKI di Jakarta. Saat ini, Lince sedang hamil 5 bulan.

Kepada Timor Express, Jumat (27/4) kemarin di Jakarta, tiga orang korban perdagangan orang ini mengaku melarikan diri ketika mereka hendak diberangkatkan lagi dari Jakarta menuju Medan, Sumatera Utara. “Yang rekrut saya di kampung bernama Martha Wawo,” cerita Silviana Dada Gole, kemarin.

Ia menjelaskan, setelah direkrut, Martha Wawo kemudian menyerahkannya ke seseorang bernama Pak Maman hingga dikirim ke Jakarta. Di Jakarta, ia ditampung di rumah seseorang bernama Bunda Ani. “Ketika masih di Sumba, saya dijanjikan bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) dengan gaji sebesar Rp 1,5 juta per bulan,” kata Silviana lagi.

Ia mengaku diberangkatkan dari Sumba ke Jakarta pada 21 April lalu. Dan selama ditampung di rumah Bunda Ani, mereka dipaksa bekerja rutin tanpa istirahat. Mereka dipaksa terus menyapu dan mengepel lantai tanpa henti. Tidak ada waktu istirahat. “Untuk makan sehari, kami hanya dijatah tiga gelas beras. Bunda Ani juga tidak segan-segan tampar kami dan menyikut perut Lince yang sementara mengandung lima bulan,” kata Silviana.

Niat ketiga calon TKW untuk meloloskan diri muncul ketika mereka mempertanyakan hak mereka ketika bekerja di Jakarta. Namun oleh Bunda Ani, dijelaskan bahwa mereka akan dikirim lagi ke Medan dengan upah Rp 1 juta per bulan. Padahal, saat di Sumba para korban dijanjikan bekerja di Jakarta dengan upah Rp 1,5 juta per bulan. “Tapi setelah di Jakarta, Bunda Ani bilang kalau kami akan dikirim lagi ke Medan dengan upah per bulan sebesar Rp 1 juta,” kata Silviana.

Tak sampai di situ, upah tersebut harus dipotong lagi selama empat bulan. Masa kontrak kerja diwajibkan selama tiga tahun. Jika kurang dari tiga tahun, maka mereka dipaksa melunasi semua utang yang ditangani oleh para perekrut sejak berangkat dari Sumba hingga ke daerah tujuan.

Untuk diketahui, umur dua orang CTKW yakni Ngana Ata Linda dan Regina Kodi Mete baru menginjak 17 tahun. Regina Kodi Mete
sendiri sudah punya e-KTP. Regina Kodi Mete juga tak fasih berbahasa Indonesia sehingga sering diperlakukan kasar oleh Bunda Ani. Sementara Ngana Ata Linda belum punya e-KTP sehingga dokumen yang dibawa saat direkrut sebagai TKW hanyalah ijazah SMP. Ngana Ata Linda juga baru selesai mengikuti UN di SMAN dan masih menunggu pengumuman hasil ujian

. Para korban meloloskan diri tanpa membawa pakaian. Tinggal pakaian di badan. Silviana menjelaskan ketika mereka hendak berangkat ke Bandara Soekarno Hatta, ia meminta Linda dan Regina untuk mengenakan dua baju dan dua celana. Usai check in, Rabu (25/4), mereka pun masuk ke kamar mandi dan berganti pakaian.

Mereka menunggu hingga pesawat take off baru keluar dari kamar mandi. “Karena sudah tidak terbang ke Medan, kami keluar dari ruang tunggu dan bertemu dengan Umbu Adrianto dan kami ceritakan semua yang kami alami sehingga kami diantar oleh Umbu Adrianto ke Kantor Penghubung,” ujar Silviana.

Saat ini para korban sementara didampingi oleh petugas dari International Organization for Migration (IOM), Pokja MPM, Padma Indonesia, Ikatan Keluarga Besar Sumba dan perwakilan Pemerintah Provinsi NTT di Jakarta. Pemulangan mereka ke NTT sedang diproses.

Direktur Padma Indonesia, Gabriel Goa mengatakan berdasarkan cerita para korban, ada indikasi para pelaku atau perekrut sudah sering mempraktikkan cara ini. Pelaku merekrut warga NTT untuk dikirim ke daerah lain tanpa melalui prosedur yang jelas. Saat ini Padma sudah mendata identitas para korban dan mendesak kepolisian segera mendalami kasus ini. “Apalagi salah satu korban sementara dalam penyekapan dan dalam kondisi mengandung lima bulan,” kata Gabriel kepada Timor Express, kemarin. (gat/fmc/sam)

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!