Semua Lulus tapi Nilai Anjlok – Timor Express

Timor Express

KUPANG METRO

Semua Lulus tapi Nilai Anjlok

Kota Kupang Kalah dari Kabupaten

KUPANG, TIMEX-Nilai rata-rata hasil ujian nasional tingkat SMA/MA/SMK tahun 2017/2018 cenderung menurun dibanding tahun sebelumnya. Walau begitu, persentase kelulusan di atas 90 persen. Sementara untuk prestasi, Kota Kupang kalah dari kabupaten-kabupaten lain di NTT.

Nilai rata-rata tertinggi UN SMA/MA, lima besar baik Ujian Nasional Kertas Pensil (UNKP) maupun Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) diraih oleh kabupaten. Untuk UNKP terbaik diraih oleh Kabupaten TTS dengan nilai rata-rata 55,8. Sedangkan untuk UNBK diraih Kabupaten Belu dengan nilai rata-rata 51,93. Selengkapnya lihat grafis.

Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi NTT, Alo Min, saat diwawancarai Timor Express, di ruang kerjanya, Kamis (3/5), mengatakan hasil ujian nasional tahun 2018 khusus SMK cenderung sama dengan tahun lalu. Pada 2017, nilai rata-rata 42,25. Sedangkan tahun 2018 adalah 42,27. Sementara untuk SMA, tahun 2017 rata-rata 45,51, dan tahun 2018 menurun 42,34. Hal ini dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu karena jumlah sekolah yang menyelenggarakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) semakin banyak dibanding tahun 2017.

Faktor kedua, kata Alo, tingkat kejujuran yang semakin tinggi. Juga karena soal-soal yang membutuhkan analisis-analisis naik menjadi 20 persen dibandingkan tahun 2017 yang hanya 10 persen.

Alo mengatakan sangat tidak pas jika rata-rata nilai tahun 2018 dibandingkan dengan tahun 2017. Menurutnya untuk NTT nilai rata-rata tidak menurun. Alasannya karena soal sulit semakin meningkat dan juga jumlah sekolah penyelenggara UNBK meningkat. “Tahun lalu hanya 105 sekolah yang UNBK sekarang sudah 300 lebih,” katanya.

Sementara untuk SMA, kata Alo, rata-rata nilai tertinggi didominasi sekolah swasta yang kebanyakan adalah sekolah asrama. “Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi belajar anak juga tinggi. Jika dibandingkan dengan sekolah lain yang tidak asrama. Ini membuktikan bahwa pemusatan jam belajar anak sangat penting,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Alo, jam belajar anak juga merupakan faktor penting penentu hasil ujian. Anak belajar bukan hanya di sekolah tetapi juga di rumah. Pihaknya akan melakukan evaluasi kinerja di sekolah. Dan ini juga merupakan tugas pihak. Semua harus berkontribusi untuk meningkatkan mutu pendidikan di NTT. “Yang diinginkan adalah nilai ujian nasional dan ujian sekolah tidak boleh memiliki rentang yang tinggi,” jelasnya.

Data menunjukkan bahwa sekolah swasta dan sekolah negeri harus saling belajar. Pemerintah memang tidak pernah membedakan antara sekolah swasta dan sekolah negeri. Tetapi dengan adanya prestasi sekolah swasta ini, sekolah negeri bisa belajar dari sekolah swasta.

Tidak Lulus, Jangan Dendam ke Sekolah

Pengumuman kelulusan jenjang SMA sederajat disampaikan kemarin (3/5). Penetapan kelulusan diantaranya dari nilai ujian sekolah berstandar nasional (USBN). Banyak daerah maupun satuan pendidikan yang mendapati tingkat kelulusan nyaris sempurna bahkan ada yang 100 persen.

Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Bambang Suryadi menyampaikan pesan kepada siswa yang dinyatakan tidak lulus. “Dalam ujian yang namanya lulus dan tidak lulus adalah hal biasa,” tuturnya kemarin (3/5). Menurut dia setiap sekolah tentu wajar ingin angka kelulusan semaksimal mungkin. Tetapi jika ada siswa yang belum bisa mencapai standar kelulusan, ya tidak perlu dipaksa untuk dilakukan.

Keputusan tidak lulus menurut Bambang merupakan sebuah bahan refleksi diri. “Keputusan tidak lulus perlu disikapi secara positif. Tidak perlu sakit hati, dendam ke guru atau sekolah,” jelasnya. Sebaliknya dengan keputusan tidak lulus itu diharpakan bisa menjadi semangat untuk menjadi lebih baik lagi.

Bambang mengingatkan bahwa keputusan kelulusan ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan. Dia menjelaskan ada tiga kriteria penentuan kelulusan. Yakni telah tuntas mengikuti pembelajaran. “Kalau jenjang SMA ya berarti tuntas mengikuti pembelajaran tiga tahun,” katanya.

Kemudian memiliki nilai minimal baik untuk aspek perilaku atau akhlak. Bambang mencontohkan seorang siswa di Madura yang membunuh gurunya. Dia ikut unas maupun USBN. Tetapi bisa jadi dinyatakan tidak lulus, karena nilai perilaku atau akhlaknya tidak mencapai nilai baik atau B.

Penentuan kelulusan ketiga adalah dinyatakan memenuhi standar minimal kelulusan USBN. Bambang menjelaskan ambang batas atau kriteria kelulusan USBN ditetapkan oleh masing-masing sekolah. “Apakah minimal 50, 60, atau 75 poin (dari maksimal 100, Red) itu yang menetapkan sekolah,” jelasnya. Ketika ada anak yang nilai USBN-nya tidak mencapai standar minimal nilai tersebut, maka yang bersangkutan tidak lulus ujian.

Pengamat pendidikan Indra Charismiadji mengatakan wajar ketika nilai unas turun, tetapi tingkat kelulusannya tinggi. Sebab menurut dia masih ada perbedaan kualitas soal ujian antara unas dengan USBN yang jadi penentu kelulusan. Apalagi dengan adanya soal ujian higher order thinking skill (HOTS), soal unas jauh lebih sulit dibandingkan soal USBN.

Menurut Indra, menyamakan kualitas soal ujian antara unas dengan USBN bukan sesuatu yang mustahil. Dia menjelaskan soal USBN yang 75 persen dibuat oleh guru-guru setempat, bisa setara dengan kualitas unas asalkan gurunya dilatih membuat soal ujian.

Guru besar bidang kurikulum dan evaluasi pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Said Hamid Hasan mengatakan kalaupun ada sekolah atau daerah dengan tingkat kelulusan 100 persen, sebaiknya direspon positif karena artinya bagus. “Tentu asumsi saya pelaksanaan ujiannya berlangsung jujur,” katanya.

Dia mengatakan sistem pendidikan yang menyaring siswa mampu dan tidak mampu, adalah peninggalan jamah penjajahan atau kolonial. Said menuturkan pada era modern, tingkat kelulusan seratus persen itu sudah biasa. Bahkan sekolah dinyatakan bagus jika seluruh anak didinya lulus ujian.

Said menjelaskan di undang-undang memang dinyatakan bahwa penentu kelulusan adalah sekolah. Dia mengatakan tingkat kelulusan yang mencapai 100 persen itu juga bisa menghemat keuangan negara. Sebab kursi belajar yang ditempati, bisa diganti adik kelasnya secara keseluruhan. “Makin banyak yang tidak lulus, berarti bangsa ini membiayai yang tidak lulus itu,” katanya.

Said mengatakan yang harus diperhatikan itu adalah siswa kesulitan mengerjakan USBN karena bersekolah di sekolah yang tidak layak. Misalnya gurunya tidak cukup. Kemudian fasilitas belajarnya ala kadarnya. Dia mengatakan siswa yang demikian jelas dirugikan, karena saat ujian tidak bisa mengerjakan dengan baik.

Semangat Belajar Turun

Sejumlah pihak menilai penurunan nilai unas tahun ini, dipicu menurunnya semangat belajar siswa, khususnya mendekati pelaksanaan ujian. Dugaan penurunan semangat atau gairah belajar jelang unas, sehingga berkontribusi membuat nilai unas secara nasional turun, disampaikan guru besar FKIP UNY Rochmat Wahab. “Kalau kita cermati kenapa nilai unas turun, karena tidak menentukan kelulusan. Anak belajar tidak ada effort (usaha, Red) yang maksimal,” katanya kemarin (3/5).

Rochmat berharap Kemendikbud mengembalikan fungsi nilai unas seperti sebelumnya. Yakni jadi bagian dalam penentuan kelulusan siswa. Tidak seperti sekarang, dimana penentuan kelulusan siswa diserahkan sepenuhnya ke sekolah. Yakni melalui ujian sekolah berstandar nasional (USBN).

Menurut guru besar bidang pendidikan anak berbakat itu, tidak dijadikannya nilai unas menjadi penentu kelulusan, tidak sekedar membuat upaya belajar siswa menurun. Tetapi dia juga menengarai ada penurunan serupa di kalangan guru bahkan orangtua.

Dia menegaskan dalam teori pembelajaran, seseorang itu dihadapkan ujian untuk mencapai titik tertentu. Dalam konteks pelaksanaan unas, seharusnya siswa dihadapkan dengan capaian untuk lulus atau tidak lulus. “Sekarang unas tidak ada unsur mengkhawatirkannya. Sehingga itu tadi effort belajarnya menurun,” papar dia.

Rochmat juga mengkritisi pengukuran indeks integritas ujian nasional (IIUN). Apalagi nilai IIUN saat ini menjadi semacam ‘tameng’ bagi pemerintah, di tengah penurunan nilai unas. Dia mengatakan dengan pelaksanaan UNBK, otomatis menekan potensi untuk curang. Anak-anak peserta unas model UNBK tidak bisa melirik ke kiri-kanan untuk mencari contekan.

Namun dia menegaskan kondisi itu bukan berarti bisa jadi acuan untuk mengukur sebuah integritas atau kejujuran. “Anak-anak juga tidak dihadapkan dengan kelulusan. Ya buat apa nyontek,” tuturnya.

Rochmat mengatakan kalaupun anak-anak saat ini lebih jujur dalam mengerjakan unas, nilai kejujuran itu masih jadi perdebatan. Sebab ujiannya tidak menentukan kelulusan lagi. Berbeda dengan anak-anak tetap jujur ketika unas jadi penentu kelulusan. Menurutnya jujur di tengah ‘ancaman’ lulus atau tidak lalu, berbeda kadarnya dibanding jujur tanpa ada konsekuensi lulus atau tidak lulus.

Dia mengakui ada yang menuding jika unas jadi penentu kelulusan, bisa membuat siswa stres. Rochmat mengakatn stres menghadapi ujian yang menentukan kelulusan, adalah stress positif. Sebuah stress yang bisa memicu anak-anak lebih bersemangat belajar. “Perkara saat jadi penentu kelulusan ada kecurangan, yang dihapus kecurangannya. Bukan unasnya tidak dijadikan penentu kelulusan,” pungkasnya. (mg25/wan/jpg/sam)

 

Nilai Rata-rata Tertinggi UN SMA/MA Tahun 2017/2018

UNKP

1. Kab. TTS: 55,8
2. Manggarai Barat: 53,53
3. Rote Ndao: 52,79
4. Manggarai Timur: 49,06
5. Ngada: 42,17

RATA-RATA NTT: 41,25

UNBK

1. Kab. Belu: 51,93
2. Ngada: 49,26
3. Flotim: 47,6
4. Sikka: 47,52
5. Lembata: 45,77

RATA-RATA NTT: 43,43

10 Besar Hasil UNKP SMA Tingkat Sekolah di NTT

JURUSAN BAHASA
1. SMAN 2 Kuwus: 68,99
2. SMAN 1 Elar: 68,99
3. SMAN 1 Mbeliling: 67,65
4. SMA Seminari Lalian: 65,14
5. SMAN 3 Poco Ranaka: 62,96
6. SMAN 1 Mollo Selatan: 61,83
7. SMAN 2 Macang Pacar: 61,43
8. SMAN 7 Kota Komba: 59,86
9. SMAK Santicima Trinitas: 59,86
10. SMAN 1 Macang Pacar: 59,38

JURUSAN IPA
1. SMAN 1 Mollo Selatan: 75,6
2. SMA Kristen Kapan: 72,8
3. SMAN 2 Kuwus: 69,81
4. SMAN Usapimnasi: 68,83
5. SMAN 3 Poco Ranaka: 68,8
6. SMAN 1 Lambaleda: 65,39
7. SMA Seminari Lalian: 65,31
8. SMAN Oeleu: 65,16
9. SMAN 8 Borong: 64,04
10. SMAN 4 Lambaleda: 63,84

JURUSAN IPS
1. SMA Kristen Kapan: 73,55
2. SMAN Usapimnasi: 70,27
3. SMAK Sanctisima Trinitas: 68,37
4. SMAN 1 Macang Pacar: 67,54
5. SMAN 3 Poco Ranaka: 67,11
6. SMAN 1 Mbeliling: 66,34
7. SMA Seminari Lalian: 66,14
8. SMAN 2 Kuwus: 66,14
9. SMAN 3 Lambaleda: 65,69
10. SMAN Bokong: 65,37

10 Besar Hasil UNBK SMA/MA Tingkat Sekolah di NTT

JURUSAN IPA
1. SMA Seminari Pius XII Kisol: 74,21
2. SMA Seminari St. Yoh Todabelu: 66,36
3. SMA Kristen 2 Kupang: 61,9
4. SMAK Surya Atambua: 61,3
5. SMAK St. Fransiskus Ruteng: 61,07
6. SMAS Regina Pacis: 60,43
7. SMAK Giovanni: 59,18
8. SMAK Suryadikara: 58,58
9. SMA St. Klaus Kuwu: 57,96
10. SMA Kristen Pandhega Jaya: 57,84

JURUSAN IPS
1. SMA Seminari Pius XII Kisol: 77,1
2. SMA Seminari St. Yoh Todabelu: 68,27
3. SMAN 2 Poco Ranaka: 60,32
4. SMA Kristen 2 Kupang: 56,18
5. SMAK St. Fransiskus Ruteng: 55,82
6. SMA Seminari San Dominggo: 55,62
7. SMAK St. Klaus Kuwu: 55,19
8. SMAN Ile Ape: 54,23
9. SMAS Regina Pacis: 53,27
10. SMAK Suria Atambua: 52,54

10 Besar Nilai SMK Se-NTT TA 2017/2018

UNBK
1. SMK Kencana Sakti: 224,81
2. SMK Katolik Syuradikara: 211,42
3. SMKN 7 Kupang: 205,11
4. SMK Kesehatan Prima Higienis: 198,06
5. SMK Tiara Nusa: 190,28
6. SMK Katolik Kusuma Atambua: 189,78
7. SMKN 1 Poco Ranaka: 187,75
8. SMK Tunas Isai: 187,20
9. SMK Iceya Ndaha: 187,11
10. SMK Negeri 1 Kuwus: 186,95

UNKP
1. SMK Negeri Bakalang: 274,19
2. SMKN Alor Besar: 265,77
3. SMK Negeri Kayang: 264,83
4. SMK Negeri Kualin: 257,64
5. SMK Negeri 1 Kodi Balaghar: 255,74
6. SMK Bhakti Luhur: 255,15
7. SMK Negeri Maritaing: 254,91
8. SMK Miftahudin Oe Ekam: 252,71
9. SMKN 1 Samirampas: 251,24
10. SMK Negeri Boking: 247,26

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!