Paslon Tidak Kuasai Materi – Timor Express

Timor Express

RAKYAT TIMOR

Paslon Tidak Kuasai Materi

DEBAT. Pasangan calon bupati dan wakil bupati saat mengikuti debat terbuka pertama yang digelar di GOR Nekmese SoE, Selasa (15/5).

YOPI TAPENU/TIMEX

Debat Terbuka Pertama

SOE, TIMEX – Pasangan calon (Paslon) bupati dan wakil bupati TTS yang mengikuti debat terbuka pertama yang digelar KPU Kabupaten TTS di GOR Nekmese SoE, Selasa (15/5) tidak menguasai materi debat.

Salah satu panelis, Jhon Tuba Helan mengaku, keempat paslon yakni Ampera Seke Selan-Yan Tanaem, Obed Naitboho-Alexander Kase, Epy Tahun-Army Konay dan Yohanis Lakapu-Yefta Mella, masih melenceng dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan panelis. Untuk itu, ia meminta kepada keempat paslon agar menguasai materi sebelum mengikuti debat.

“Semua pertanyaan yang kami sampaikan tidak ada yang bisa menjawab dengan baik. Semua melenceng, bahkan ada yang keluar dari subtansi yang kami tanyakan,” katanya.

Jhon menyayangkan hal itu, karena paslon merupakan birokrat dan legislatif, sehingga sudah tentu memiliki pengetahuan yang cukup terkait persoalan kemasyarakatan di TTS. Jhon juga tidak setuju jika dikatakan grogi dalam menghadapi debat pilkada, karena paslon berlatar belakang pimimpin publik, sehingga sudah harus mempersiapkan diri dengan baik dalam menghadapi massa dalam jumlah banyak.

“Mungkin saja mereka tidak siap, sehingga ketika diberikan pertanyaan untuk menjawab dalam waktu yang singkat mereka tidak punya waktu yang cukup untuk berpikir,” katanya.

Keempat paslon sebut Jhon, belum memiliki konsep yang baik tentang TTS. TTS memiliki banyak sekali potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena TTS terkenal dengan pertanian dan peternakan tetapi tidak ada satu paslon yang memiliki konsep yang terstruktur dalam mengembangkan potensi yang ada di TTS.

“Misalnya pengembangan peternakan, tidak ada satu paslon yang dapat menjabarkan konsep pengembangan dengan baik seperti kalau mau beternak sapi, persiapan pakan seperti apa, bibitnya dari mana, pola pemeliharaan sampai pada pemasaran. Begitupun pengembangan potensi yang lain. Jadi saya harap pada debat kedua, paslon harus mampu konsepkan pengembangan program dengan terstruktur,” harap Jhon.

Materi yang didebatkan oleh keempat paslon adalah ekonomi, pembangunan dan ketenagakerjaan. Untuk peningkatan ekonomi, paslon menyebutkan bahwa akan memaksimalkan potensi yang ada di TTS, peningkatan keterampilan bagi masyarakat agar mampu mengelola potensi yang ada di Kabupaten TTS serta membuka lapangan pekerjaan agar dapat menyerap tenaga kerja. Dengan demikian, dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menekan angka TKI/TKW yang marak terjadi di Kabupaten TTS.

Selain itu, keempat paslon juga bertekad memperbaiki infrastruktur yang rusak, sehingga masyarakat dengan mudah beraktivitas ke tempat-tempat ekonomi dan juga fasilitas publik lainnya.

Saat debat antarpaslon, pasangan nomor urut 3, Epy Tahun-Army Konay  mempunyai program menaikan insentif ketua RT, RW dan hansip yang ada di 288 desa/kelurahan yang saat ini diberikan insentif sebesar Rp 200.000 per bulan.

Menurut pasangan nomor 3, pemberian insentif Rp 200.000 kepada ketua RT, RW dan hansip, merupakan penjajahan pemerintah secara modern. Karena untuk menjalankan tugas sebagai ketua RT, RW dan hansip sangat menyita waktu. Sehingga, insentif sebesar Rp 200.000 tidak sebanding dengan tugas yang dikerjakan.

Program itu mendapar tanggapan dari pasangan nomor urut 2, yakni Obed Naitboho-Alexander Kase bahwa APBD TTS hanya Rp 1,3 triliun. Jika program itu benar diwujudkan, maka sebagian APBD TTS hanya digunakan untuk membayar insentif ketua RT, RW dan hansip. Sehingga menurut mereka, program itu akan sulit dilaksanakan.

“Kami sudah hitung semua. Uang akan kami ambil dari ADD dan juga APBD. Untuk rakyat jangan pelit-pelit memberikan uang kepada mereka. Sumber uang dari mana untuk bayar insentif ketua RT, RW dan hansip. Gaji pegawai saja 50 persen dari APBD, belum lagi pendidikan dan kesehatan. Kalau mau bayar semua, maka uang untuk membangun daerah tidak cukup lagi karena APBD hanya pakai untuk bayar insentif ketua RT, RW dan hansip,” ungkap Obed Naitboho. (yop/ays)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!