Polisi Cari Pisau Pelaku – Timor Express

Timor Express

KUPANG METRO

Polisi Cari Pisau Pelaku

Gelar Perkara, Tunggu Hasil Otopsi 

KUPANG, TIMEX – Polres Kupang Kota terus mengembangkan penyidikan kasus dugaan pembunuhan dengan tersangka Edward Sailana.

Kapolres Kupang Kota AKBP Anthon Christian Nugroho yang diwawancarai di Mapolresta, Kamis (17/5), mengatakan, sejak Selasa (15/5) malam sudah dilaksanakan otopsi terhadap jenazah korban, dan pihaknya tinggal menunggu hasilnya.

Jenazah korban juga sudah diserahkan ke pihak keluarga dan telah dimakamkan.

“Mengenai perkiraan masalah penganiayaannya ada, tapi masalah di mana-mana lukanya masih menunggu hasil otopsinya,” kata Kapolres.

Anthon katakan, pelaku sudah mengakui perbuatannya, dan saksi-saksi dari dugaan awal sejak polisi ke TKP sudah memberikan keterangan.

“Jadi sudah jelas semuanya. Buat saya tidak ada kesulitan,” kata mantan Wakapolres Kupang Kota tersebut.

Polisi juga akan mendalami apakah niatan dari pelaku itu sudah dipersiapkan atau seketika muncul.

Hal tersebut didalami polisi untuk menetapkan pasal hukuman sesuai KUHP terhadap pelaku.

“Kalau sejak awal membunuh berarti Pasal 340, tetapi kalau mendadak dia tersinggung terus membunuh maka dikenai Pasal 338. Tapi rasanya ini seketika,” sebut dia.

Bekas Wakapolres Kupang itu melanjutkan, pihaknya juga masih mendalami terkait barang bukti pisau yang dipakai pelaku menghabisi nyawa korban.

“Soal pisau ini, apakah keseharian yang bersangkutan bawah pisau atau memang niat menghabisi. Kita tidak bisa menduga-duga apakah memang niat atau tidak. Yang jelas pelakunya ada, TKP-nya ada dua, TKP awal di Maulafa terus dibuangnya di Oelomin,” sebut Anthon.

Terkait motif pembunuhan, Kapolres sampaikan dugaan awal antara pelaku dan korban ada hubungan asmara sejak 2013.

“Yang jelas korban tidak bekerja,” tandas Kapolres.

Barang bukti yang diamankan adalah semua yang ada dan ditemui serta dikumpulkan di kedua TKP.

“Kalau pisaunya masih dicari. Barang bukti di sumur dan kos-kosan masih kita police line. Untuk sementara terus kita kembangkan, barang bukti termasuk gentong hijau,” imbuh Kapolres didampingi Kasat Reskrim AKP Pinten.

Ditambahkan, polisi juga telah memintai keterangan sejumlah saksi termasuk pemilik kos dan sopir pikap.

Sementara itu, informasi yang dihimpun di Mapolres Kupang Kota, penyidik Reskrim Polsek bersama penyidik Reskrim Polres Kupang Kota segera melakukan gelar perkara kasus tersebut.

Kasat Reskrim AKP Pinten Bagus Satrianing Budi, mengatakan gelar perkara tersebut dimaksudkan agar pihaknya juga dapat mengetahui posisi kasus yang sudah ditangani penyidik Reskrim Polsek Maulafa.

Sementara itu, penyidik Reskrim Polsek Maulafa terus mengembangkan penyidikan kasus dugaan pembunuhan tersebut.

Kapolsek Maulafa Kompol Margaritha Sulabesi kepada wartawan, mengatakan, pihaknya masih mengembangkan kasus tersebut.

Namun sesuai keterangan pelaku, jelas Kapolsek, diketahui kalau korban membutuhkannya, maka korban menelpon menggunakan nomor rahasia.

“Jadi ada nomor pribadi sehingga pelaku sendiri tidak pernah tahu nomor handphone korban. Jadi ketika perempuan itu yang perlu baru telepon dia,” kata Kapolsek.

“Masih banyak hal yang perlu digali dan orang ini masih banyak yang ditutupi. Kita masih gali,” kata Kapolsek.

Pelaku juga mengaku berhubungan dengan korban sejak tahun 2013.

Sementara itu, terkait motivasi pelaku indekos, Kapolsek sampaikan sesuai keterangan pemilik kos karena rumahnya jauh.

“Jadi jualan-jualan kalau pulang capek atau kemalaman ada tempat istirahat,” katanya.

Pelaku mengaku memiliki beberapa anak yang semuanya sudah menikah.

“Istrinya kemarin baru ke Soe karena anak bungsunya melahirkan. Dia bersama mamanya tapi karena sudah sangat tua sehingga digeser ke orang lain karena pendengaran dan penglihatan sudah berkurang,” lanjut dia.

Untuk pengenaan pasal hukuman, Kapolsek sampaikan pihaknya terus menggali lagi.

“Bisa pembunuhan berencana, bisa pembunuhan biasa. Untuk memastikannya, mesti gali informasi dulu. Kalau kita langsung taruh pembunuhan berencana bisa, tapi kita tidak tahu, karena pisau yang dia bawa itu juga kita belum tanya dan belum ada pendalaman itu,” jelas dia.

Selain itu, sopir pikap yang turut membantu mengangkut gentong berisi jenazah korban, saat diperiksa mengaku tidak tahu dalam gentong itu berisi jenazah.

Sopir mengatakan ketika ditanya tentang isi gentong, pelaku bilang itu beras.

“Yang bantu itu adalah jemaatnya, jadi kalau pendeta omong pasti jemaat tidak mau tanya lebih-lebih lagi. Terus kasih naik gentong pertama dari tempat kos ke pikap sopir bantu, turun dari pikap ke halaman rumah sopir bantu. Terus dari halaman rumah masuk ke rumah pelaku angkat sendiri. Memang kalau sudah nekat semuanya bisa. Yang bawa mobil adalah tetangga dengan pelaku namanya Daud Baitanu,” terang Kapolsek.

Pelaku juga disebutkan tidak sempat membersihkan TKP karena bercak darahnya masih banyak.

“Tahunya di situ karena ada bekas-bekas darah. Kita juga akan memeriksa saksi anak kos dan masih pengembangan,” kata Kapolsek.

“Sesuai keterangan pelaku, anak itu mangkalnya di Hotel Dewi. Ketika korban itu datang, anak kos tanya mau cari siapa, pelaku langsung keluar dan bilang itu tamu saya, dan korban langsung masuk. Jadi pelaku tidak kasih kesempatan orang lain untuk berkomunikasi dan mengetahui korban,” sambung dia.

Pelaku dalam keterangannya, menurut Kapolsek, biasa memanggil korban dengan nama Yuli.

Pelaku juga dinilai cukup lihai karena setelah diminta menyerahkan handphone ternyata sudah dihapus semua kontak di dalamnya, sehingga polisi mengecek ke tempat mangkal korban di Hotel Dewi. Dompet pelaku saat diperiksa juga terdapat banyak sekali SIM card.

Kasus tersebut terungkap saat penghuni kos lainnya mendengar ada suara pertengkaran dalam kamar nomor 5 yang ditempati pelaku. Mereka juga mendengar seperti ada suara perempuan berteriak.

Setelah itu, para penghuni kos itu tidak lagi melihat korban keluar dari kamar tersebut. Sementara pintu kamar terus tertutup.

Menaruh curiga, para penghuni kos melapor ke pemilik kos yang kemudian bergegas datang ke lokasi kejadian tersebut.

Mereka lalu bersepakat mendobrak pintu kamar dan mendapati banyak ceceran darah di lantai, tembok dan kamar mandi.

Mendapati kondisi kamar demikian, mereka pun langsung melapor ke aparat kepolisian. (joo)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!