Waspada Developer Abal-abal – Timor Express

Timor Express

EKONOMI BISNIS

Waspada Developer Abal-abal

WASPADA. Inilah perumahan Gemstone Regency yang dibangun PT Charson TImorland Estate di Alak. Bobby Pitoby selaku Ketua DPD REI NTT dan CEO Charson Timorland Estate meminta masyarakat untuk waspada terhadap developer abal-abal.

BOBBY PITOBY FOR TIMEX

Bobby Pitoby: Beli Rumah, Ingat REI

KUPANG, TIMEX – Saat ini bisnis properti di Kota Kupang, khususnya perumahan tengah menggeliat. Apalagi ada program nasional sejuta rumah, dimana pemerintah melalui asosiasi pengembang menyediakan rumah tinggal bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang belum memiliki rumah layak huni. Namun masyarakat harus tetap waspada saat hendak membeli rumah. Baik itu perumahan subsidi maupun perumahan non subsidi. Sebab ada juga developer-developer bodong alias abal-abal.

Faktanya, salah satu oknum developer perumahan bernama Hendrikus Klau telah ditetapkan sebagai tersangka lantaran diduga menipu seorang pembeli rumah bernama Elide Simanjuntak. Rabu (16/5) lalu, penyidik Satreskrim Polres Kupang Kota telah melimpahkan tersangka beserja barang bukti kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Kupang untuk diproses lebih lanjut.

Bobby Pitoby

Bobby Pitoby

Kepada Timor Express, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Real Estate Indonesia (DPD REI) NTT, Bobby Pitoby menegaskan, oknum developer bernama Hendrikus Klau bukan anggota REI NTT. “Saat ini anggota REI NTT ada 68 perusahaan, tapi tidak semua aktif. Yang aktif hanya sekitar 44 perusahaan.  Dan Pak Hendrikus Klau bukan anggota REI NTT,” sebut Bobby saat diwawancara via telepon, Jumat (18/5).

Bobby mengatakan, tidak semua developer di NTT menjadi anggota REI, karena memang untuk menjadi anggota REI tidaklah mudah. Setiap perusahaan yang hendak menjadi anggota REI, kata dia, harus dicek keabsahannya. Mulai dari izin-izin sampai pada keabsaan soal lahan. “Setelah kita cek semua, baru mereka bisa jadi anggota REI. Jadi tidak sembarangan memasukan sebuah perusahaan menjadi anggota REI. Dan kita buat seperti ini untuk meminimalisir potensi masalah ke depan,” terang dia.

Developer yang bukan anggota REI, menurut Bobby otomatis tidak mendapatkan informasi up to date mengenai peraturan pemerintah, peraturan perpajakan dan peraturan lainnya. Dengan demikian tidak heran bila developer-developer tersebut melanggar ketentuan dan tidak bertanggung jawab kepada pembeli rumah (nasabah). “Kita digandeng pemerintah, makanya kita selalu mendapat informasi up to date dari pemerintah,” tandasnya.

Bagi masyarakat yang hendak membeli rumah, Bobby menyarankan untuk membeli rumah dari developer-developer lokal atau anak-anak daerah yang adalah anggota REI. Sehingga uang bisa berputar di NTT dan otomatis berdampak bagi pertumbuhan ekonomi di NTT. “Jadi kalau mau beli rumah, tolong ingat REI. Kepada developer, masyarakat harus minta dia punya nomor keanggotaan REI,” kata CEO Pitoby Grup itu.

Bobby menyebutkan, REI NTT banyak mendapatkan keluhan dari masyarakat. Banyak masyarakat mengaku telah menyerahkan sejumlah uang kepada oknum-oknum tertentu untuk membeli rumah. Namun, oknum yang telah menerima uang tiba-tiba menghilang. “Katanya saat mereka datang mau bayar DP, ada kantor bagus. Tiba-tiba kantornya tutup. Kalau kantornya tutup dan kitai juga tidak tahu developernya  siapa,  perusahaan dari mana, tentunya kita tidak bisa bantu,”  katanya.

Bobby mengaku ada anggota REI yang juga bermasalah, namun jumlahnya sangat sedikit. Dan kalaupun ada yang bermasalah, maka pihaknya akan segera melakukan mediasi diantara developer dengan pembeli rumah. Selain itu, apabila ada anggota REI yang tidak selesai membangun perumahan, maka pihaknya juga akan mencari solusi bersama untuk bagaimana melanjutkan pekerjaan. “Kita sudah mediasi sekitar 14-16 masalah dan semuanya sudah selesai. Itulah fungsi organisasi. Tapi kalau bukan anggota REI, ini yang bahaya,” sebut CEO Charson Timorland Estate itu.

Dia juga meminta masyarakat untuk hati-hati mempercayai informasi terkait penjualan rumah subsidi yang tersebar di media sosial. Sebab dengan adanya program sejuta rumah yang memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat, terkadang oknum-oknum tertentu memanfaatkan kesempatan untuk menipu masyarakat. “Sosmed merupakan salah satu media yang sangat bagus untuk promosi. Saya juga pakai medsos untuk promosi. Tapi tolong masyarakat cross ceck kembali informasi di medsos. Setelah dapat informasi, harus lihat fisik rumah dan bertemu orangnya langsung,” terang dia.

“Jangan terpancing dengan orang yang datang mengaku sebagai developer besar. Harus waspada terhadap omongan seseorang yang terlalu tinggi dan muluk-muluk atau yang kedengarannya bagus.  Karena kebanyakan seperti itu adalah penipu,” ungkap Bobby. (tom)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!