Rentenir Berkedok Koperasi Harus Dibasmi – Timor Express

Timor Express

EKONOMI

Rentenir Berkedok Koperasi Harus Dibasmi

Yohanes Sason Helan

KUPANG, TIMEX – Praktek peminjaman uang kepada masyarakat ekonomi lemah dengan bunga pinjaman berkisar 20-25 persen per bulan masih marak di berbagai daerah di wilayah Provinsi NTT. Praktek yang demikian bukannya membantu, tetapi malah membuat masyarakat tambah melarat. Bahkan semakin menderita karena dipermainkan oleh oknum-oknum yang punya uang banyak. Hal ini disampaikan General Manager (GM) Kopdit Swasti Sari Yohanes Sason Helan berkenaan dengan momentum hari ulang tahun (HUT) Koperasi ke-71 yang jatuh pada Kamis (12/7).

Menurut Yohanes, praktek kapitalis dan investasi bodong, serta rentenir berkedok koperasi seharusnya dibasmi. Sebab masyarakat kecil hanya diperalat untuk mengedarkan/meminjamkan uang dari oknum-oknum yang punya uang dengan bunga pinjaman yang sangat tinggi. Hasilnya, mereka yang punya uang semakin kaya, sedangkan masyarakat kecil semakin menderita.

Terhadap persoalan tersebut, Yohanes menawarkan beberapa solusi untuk menjawab kesenjangan ini agar jurang pemisah jangan semakin lebar antara kaya dan miskin. Pertama; pemerintah harus perketat pemberian izin Badan Hukum (BH). Sebab faktanya, banyak koperasi yang setelah mendapatkan BH, tidak tahu bagaimana menjalankan sesuai jati diri koperasi. Bahkan ada koperasi-koperasi tertentu yang berperilaku rentenir, kapitalis serta menjalankan investasi bodong.

“Jangan hanya bermotivasi agar koperasi tumbuh subur, tapi jati diri dan manfaat dari koperasi itu tidak dijalankan,” ujarnya.

Pemerintah, kata Yohanes, jangan hanya bangga karena koperasi semakin banyak. Tetapi harus juga memperhatikan dan mengevaluasi kualitas operasional dari tiap-tiap koperasi yang ada. Dengan demikian, pemerintah dapat mengetahui apakah koperasi-koperasi tersebut dikelola dengan baik atau malah sebaliknya. Misalnya mengenai manajemen, pemberlakuan suku bunga, kesejahteraan karyawan yang dipekerjakan, sampai pada pelaksanaan rapat anggota tahunan (RAT) yang harus dilakukan tepat waktu dan terbuka untuk semua anggota.

Pengalaman di NTT, lanjut Yohanes, banyak koperasi besar tidak menjalankan RAT secara terbuka untuk semua anggota sebagai pemilik lembaga. Bahkan audit oleh akuntan publik juga tidak dijalankan. “Ini tentu sangat meresahkan anggota sebagai pemilik lembaga koperasi. Apabila hal-hal ini terjadi, maka tugas pemerintah adalah mencegah secara dini dengan membuat surat peringatan bahkan membekukan BH dan kegiatan operasionalnya,” sebut Yohanes.
Kedua; masyarakat jangan cepat-cepat bergabung menjadi anggota koperasi yang tidak jelas dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Menurut Yohanes, masyarakat harusnya pandai ketika bergabung menjadi anggota sebuah koperasi. Masyarakat harusnya bertanya, berapa lama koperasi itu berdiri, siapa yang mengelola koperasi, dimana kantor atau tempat pelayanannya, berapa besaran bunga simpanan dan pinjaman, serta bagaimana keberpihakan koperasi kepada anggota.

“Bergabung menjadi anggota koperasi berarti membuat investasi. Dan investasi berarti kedua belah pihak harus untung. Bukan satu pihak saja yang untung. Kalau satu pihak saja yang untung berarti koperasi itu berkedok rentenir, kapitalis atau investasi bodong. Jadi harus hat-hati agar tidak mudah terjebak,” jelas dia.

Sekadar membagi pengalaman, Yohanes mengatakan, sekitar 17 tahun lalu, di Kota Kupang khususnya di beberapa pasar tradisional yakni Pasar Oeba, Pasar Kuanino dan Pasar Inpres Naikoten, biasanya muncul karcis-karcis berwarna kuning di atas dagangan para pedagang. Karcis-karcis tersebut tidak lain adalah karcis kuning dari koperasi ‘Selamat Pagi’, koperasi tidak jelas, koperasi rentenir, kapitalis dan bodong yang bunga pinjamannya mencapai 20-25 persen.

“Sekarang prkatek demikian sudah berkurang karena banyak pedagang mulai sadar. Mereka bergabung dengan koperasi yang jelas seperti Kopdit Swasti Sari, yang notabene memberikan pinjaman dengan bunga terjangkau dan di bawah harga pasar,” katanya.

Yohanes berharap, masyarakat hendaknya bergabung dengan kopdit yang jelas seperti Kopdit Swasti Sari. Sebab koperasi sekelas Swasti Sari dalam menjalankan operasionalnya tidak semata-mata berorientasi untuk mencari keuntungan. Tetapi juga berupaya untuk merubah ekonomi anggota kea rah yang lebih baik.

“Kami tidak hanya mengharapkan agar anggota aktif menyimpan dan meminjam uang. Tapi kami selalu merawat, menjaga persahabatan dengan anggota. Bahkan sampai kematian pun, kami tetap memperhatikan anggota,” ungkapnya. (tom)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!