233 Orang Gangguan Mental – Timor Express

Timor Express

KUPANG METRO

233 Orang Gangguan Mental

54 Orang Sudah Ditangani Dinsos

KUPANG, TIMEX – Saat ini ada sebanyak 233 orang di Kota Kupang mengalami gangguan mental.

Sebanyak 54 orang di antaranya sudah ditangani Dinas Sosial (Dinsos) Kota Kupang, sementara 179 orang lainnya masih berkeliaran.

Para penderita gangguan mental ini belum ditangani secara maksimal oleh Dinsos Kota Kupang, karena kurangnya fasilitas penampungan.

Kepala Dinsos Kota Kupang Felisberto Amaral saat diwawancarai Timor Express, Jumat (13/7), mengatakan, sampai saat ini penderita gangguan jiwa di Kota Kupang sebanyak 233 orang.

Namun tidak semua dilayani atau direhabilitasi di RSUD Prof. Dr. W.Z Johannes Kupang.

Pasalnya, kondisi ruangan yang masih terbatas dengan kapasitas yang tidak bisa menampung semua penderita gangguan jiwa.

“Kami belum bisa layani semua. Pasalnya ruangan di RSUD Johannes terbatas daya tampungnya. Kami masih terus melakukan koordinasi agar memiliki tempat penampungan yang memadai,” katanya.

Karena itu kata Felisberto, Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Kelurahan Naimata didorong agar bisa selesai secepatnya, agar bisa difungsikan, sehingga semua penderita gangguan jiwa di Kota Kupang bisa dilayani dengan baik.

“Kami terus mendorong dan berkoordinasi agar proses pembangunan Rumah Sakit Jiwa Naimata segera selesai. Agar para penderita gangguan jiwa ini bisa ditampung semuanya dan mendapat perawatan yang sesuai dengan kebutuhan,” ungkapnya.

Felisberto melanjutkan, walau RSJ sudah ada, tetapi belum menerima pasien, karena itu sampai sekarang Dinsos masih terus melakukan koordinasi.

Selama ini kata dia, protap kerja Dinsos dalam penanganan orang gangguan jiwa yang ada di Kota Kupang, yaitu dengan berkoordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP)  untuk mengamankan para penderita, selanjutnya dibawa ke RSUD Johannes Kupang untuk direhabilitasi.

Selanjutnya kata dia, Dinsos akan memberikan bantuan dan pembimbingan, termasuk juga bertanggung jawab sampai pasien sembuh dan dikembalikan ke keluarga masing-masing.

“Yang sering menjadi kendala saat Dinsos akan melakukan pengembalian kepada keluarga, adalah karena yang bersangkutan tidak tahu alamat, bahkan tidak tahu di mana keluarganya. Tetapi prinsipnya Dinsos bertanggung jawab sampai dikembalikan ke keluarga,” kata dia.

Harapannya, masyarakat juga mendukung pemerintah dalam penanganan orang gangguan jiwa. Sehingga, apabila ada anggota keluarga, atau kenalan yang mengalami gangguan jiwa, maka jangan dibiarkan berkeliaran, tetapi dilaporkan agar bisa mendapat perawatan.

“Sudah ada beberapa orang gangguan mental yang dirawat dan sembuh. Jadi orang-orang gangguan mental ini jika dirawat dengan baik, didampingi dokter ahli jiwa, maka perlahan akan sembuh,” ujarnya.

Dia melanjutkan, masyarakat sering kali mengabaikan orang gangguan mental, dan justru mengasingkan dan memusuhi mereka.

Adapun yang ditakuti, dan memang tidak bisa dipungkiri, ada beberapa orang gangguan mental yang suka membuat keributan dan lainnya.

Untuk itu menurut dia, jika menemukan seperti ini, maka masyarakat harus segera melapor agar Sat Pol PP bisa mengamankannya dan membawa ke Poli Jiwa RSUD W.Z Johannes.

“Ada orang gangguan jiwa yang suka melempar masyarakat. Ada juga suka menakut-nakuti dan aksi lainnya. Masyarakat tidak harus membalas atau bahkan sampai memukuli orang gangguan mental tersebut. Masyarakat harusnya segera melapor ke Sat Pol PP untuk diamankan,” ungkapnya.

Perlu penanganan dan kerja sama dari semua pihak untuk bersama memberikan perhatian pada orang gangguan mental.

Di antaranya masyarakat dan pemerintah harus bersinergi. Tidak mengabaikan orang gangguan jiwa, karena mereka adalah warga negara Indonesia yang juga mempunyai hak sebagai warga negara.  (mg25/joo)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!