Sinyal “Kenegarawanan” Victory-Joss – Timor Express

Timor Express

EKONOMI

Sinyal “Kenegarawanan” Victory-Joss

Oleh: Alexander B. Koroh

Alumnus School of Government Victoria University of Wellington.

Pasca Pilgub NTT, 27 Juni 2018 yang merupakan bagian dari Pilkada serentak di Indonesia, adalah menarik untuk menganalisa, gelagat, sikap dan perilaku para Paslon. Perkataan, sikap, dan perilaku baik mereka yang kalah dan yang menang sejatinya menunjukkan kualitas pribadi mereka. Dalam konteks ini, adalah penting untuk mengobservasi Victory-Joss sebab secara faktual hingga detik ini merekalah gubernur dan wakil gubernur NTT terpilih. Penulis sendiri menjadi sangat tertarik untuk mendiskusikan pengamatan penulis kepada Pemimpin NTT terpilih ini sebab ada indikasi yang kuat tentang kebermanfaatan Victory-Joss untuk memajukan dan menyejahterakan individu dan masyarakat NTT. Indikasi inilah yang penulis maksudkan sebagai sinyal kenegarawanan mereka yang tentunya kita harapkan bersama akan berbuah pada performa terbaik mereka sebagai negarawan bukan sebagai politisi setelah dilantik sebagai gubernur dan wakil gubernur NTT, pada September 2018 nanti.

Tahu batas

Sinyal atau tanda isyarat kenegarawanan Victory-Joss dapat disimpulkan dari dua kejadian penting di bawah ini. Sore hari, tanggal 27 Juni 2018, setelah  lembaga survey menyampaikan hasil perhitungan cepat, terlihat jelas bahwa Victory-Joss langsung  memimpin perolehan suara pada Pilgub NTT dengan meyakinkan. Secara manusiawi bisa saja Victory-Joss diliputi euforia atau perasaan gembira yang berlebihan dalam menanggapi hasil positif dimaksud dan langsung merayakannya. Sebab setelah berbulan-bulan mengerahkan seluruh daya dan upaya dalam perjuangan yang melelahkan, wajar saja bila Victory-Joss segera berpawai dan berpesta bersama seluruh pendukung dan simpatisan mereka. Tapi ‘hebatnya’ hal ini tidak terjadi. Gubernur terpilih, Victor B. Laiskodat, saat itu, dengan tenang, tegas, dan meyakinkan mengatakan bahwa tidak ada pawai, tidak ada pesta, sebab meraih kemenangan sebagai Gubernur bukanlah tujuan, tetapi merupakan capaian awal untuk menyejahterakan seluruh individu dan masyarakat NTT. Hal ini sangat tepat dan hebat, inilah sinyal pertama kenegarawanan Gubernur terpilih ini. Dalam hal ini tampak jelas bahwa gubernur terpilih ini memiliki visi yang jelas tentang masa depan daerah ini. Ia tahu persis bahwa ia harus membawa seluruh rakyat NTT ke dalam kehidupan yang sejahtera.

Kemampuan melihat masa depan yang cerah cemerlang adalah salah satu karakter utama dari seorang negarawan (Brett and McKay, 2012). Tambahan pula, Victory-Joss menyadari bahwa sebagai salah satu provinsi termiskin dan terbelakang di Indonesia, provinsi ini tidak punya waktu untuk bersenang-senang, atau yang tak kalah penting juga meraih posisi sebagai gubernur bukanlah untuk menggunakan jabatan dimaksud untuk bersenang-senang di dalam keterpurukan daerah ini. Tampak jelas Victory-Joss sangat paham tentang hal ini, mereka patut diapresiasi.

Kedua, pada tanggal 29 Juni 2018, Victor B. Laiskodat dengan penuh kekeluargaan dan kerendahan hati menemui Esthon L. Foenay sambil mendiskusikan banyak hal positif dalam membangun NTT ke depan. Ini juga merupakan sinyal kenegarawanan, memelihara semangat persatuan dan kebersamaan serta kerendahan hati sejatinya adalah prinsip yang dimiliki oleh negarawan. Negarawan dalam melaksanakan tugas-tugasnya selalu berdasarkan pada prinsip-prinsip etika sekalipun bertentangan dengan pendapat umum. Tambahan pula, gubernur terpilih memahami bahwa aktifitas dan urusan politik cukup sampai pada Pilgub saja, setelah itu kita harus memulai dengan urusan manajemen kepemerintahan yang membutuhkan keterlibatan dan kontribusi para pemangku kepentingan. Para kepala daerah politisi biasanya tidak mengenal batas ini, itulah sebabnya politisasi birokrasi berlangsung sangat kuat dan akut sehingga birokrasi berkinerja minimal. Dalam konteks NTT saat ini, dapat dikatakan bahwa, tingginya angka kemiskinan salah satu penyebabnya adalah hal di atas.

Kesetiaan untuk NTT

Selain itu, kunjungan di atas juga menunjukkan kematangan Victory-Joss dalam berpolitik. Mereka paham betul, bahwa kini keduanya telah menjadi gubernur dan wakil gubernur bagi seluruh rakyat Indonesia. Victory-Joss sedang melakukan konsep “My loyalty to my party ends, when my loyalty to my country begins” (Quezon, (1935-1944) Kennedy,(1961-1963)). Kini keduanya hadir dan berkarya demi kepentingan seluruh rakyat NTT, kepentingan partai bukanlah hal yang utama lagi. Partai dalam hal ini adalah instrumen yang memfasilitasi keduanya untuk menjadi gubernur dan wakil gubernur bagi seluruh rakyat NTT. Maksudnya adalah Victory-Joss dalam melaksanakan tugasnya sungguh-sungguh berada di atas semua golongan atau kelompok masyarakat, dan supaya pikiran, perkataan dan perbuatannya benar-benar untuk kepentingan seluruh rakyat NTT, dan supaya mereka tidak dapat dipengaruhi oleh partai politik tertentu. Oleh karena itu, semua pihak juga harus membuka diri dan menerima Victory-Joss yang sedang merangkul semua pihak. Dengan demikian, adalah kurang tepat bila masih ada pihak yang belum dapat menerima kemengan Victory-Joss. Kunjungan di dimaksud juga memberikan sinyal yang kuat bahwa gubernur terpilih memiliki karakter negarawan yakni, “The ability to build a consensus to achieve that vision”(Brett and McKay, 2012). Kemampuan untuk membangun kesepakatan untuk mencapai visi menyejahterakan individu dan masyarakat NTT bila seluruh pemangku kepentingan mendukung dan berkontribusi optimal. Karena itu merangkul seluruh stakeholders adalah suatu keniscayaan.

 

Tentunya semua kita berharap bahwa, sinyal kenegarawanan yang telah ditampilkan Victory-Joss di atas tidak hanya berakhir sampai disitu saja. Niat baik, komitmen, dan semangat dari gubernur dan wakil gubernur terpilih ini untuk memajukan dan menyejahterkan setiap individu dan masyarakat NTT perlu disambut dengan antusias oleh setiap kita. Sinyal-sinyal kenegarawanan di atas akan hadir dalam kebijakan publik yakni berbagai bentuk program dan kegiatan yang berpihak kepada rakyat dalam arti sesungguhnya. Bukan seperti saat ini, ketika pemerintah provinsi bertekad menjadikan NTT sebagai provinsi ternak namun gagal, contohnya kapal pembawa sapi ke Jakarta hanya beroperasi beberapa kali saja, setelah itu tidak ada pengiriman sapi lagi karena kehabisan stok. Hal yang sama juga terjadi pada tekad provinsi jagung yang juga tidak jelas juntrungannya.

Sebagaimana Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang dalam 3 tahun kepemimpinannya telah tampil sebagai seorang negarawan, yang berhasil merubah Provinsi DKI Jakarta secara signifikan,  tentunya kita punya keyakinan bersama bahwa Victor B. Laiskodat dan Josef A. Nai Soi juga akan tampil sehebat Ahok. Artinya bahwa keduanya akan tampil sebagai negarawan yang mampu melepaskan daerah ini dari stigma termiskin, terbelakang, terbodoh, dan terkorup. Terbebasnya NTT dari stigma dimaksud juga berarti bahwa akan ada peningkatan kualitas hidup individu dan masyarakat NTT secara nyata. “Kita Bangkit, Kita Sejahtera,” harus menjadi suatu realitas. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!