Ruang Kerja Gubernur Dibersihkan – Timor Express

Timor Express

SUKSESI

Ruang Kerja Gubernur Dibersihkan

BERES-BERES. Para pegawai saat membersihkan ruang kerja Gubernur NTT. Mulai hari ini, ruangan ini ditempati Penjabat Gubernur NTT, Robert Simbolong. Robert dilantik siang ini di Gedung Kementerian Dalam Negeri, Jakarta.

CARLENS BISING/TIMEX

Hari Terakhir Frans Lebu Raya di Gedung Sasando

Pilih Tetap Berkantor

KUPANG, TIMEX – Senin (16/7) hari terakhir masa jabatan Gubernur Frans Lebu Raya. Siang kemarin ruang kerja gubernur, tidak seperti biasanya. Mulai dari pintu utama, pintu menuju ruang staf protokoler hingga pintu menuju ruang kerjanya dibiarkan terbuka.
Timor Express yang menyambangi ruangan tersebut sekira pukul 10.40 lebih leluasa masuk hingga ke dalam ruang kerja gubernur yang selama ini tertutup. Beberapa pegawai laki-laki tampak sibuk di dalam ruang yang selama ini menjadi ruang kerja gubernur dua periode itu.
Ember serta alat pel tampak tergeletak di lantai. Empat orang berseragam keki sedang mencoba memindahkan sebuah akuarium berukuran lebih dari satu meter dari ruangan tersebut. Sejumlah foto dan hiasan serta piagam yang sebelumnya dipajang di ruangan tersebut sudah tidak ada di sana. Namun masih tersisa tumpukan dokumen, kotak tisu serta beberapa perabot kecil di atas meja kerja gubernur. Lalu, di mana sang gubernur?
Suami dari Lucia Adinda Dua Nurak itu baru saja meninggalkan ruang kerjanya. Dia sedang istirahat untuk santap siang. Tapi bukan ke rumah jabatan gubernur. Dia sudah “minggat’ dari sana sejak Minggu (15/7) setelah menggelar ritual bersama keluarga Lamaholot.
Suasana tampak berbeda. Staf protokoler pun sedang tidak ada di sana hanya tersisa satu staf perempuan. “Bapa (gubernur) masih kembali lagi,” kata staf yang sedikit kaget dengan keberadaan koran ini di ruangan tersebut.
Beberapa pimpinan OPD pun tampak mendatangi ruangan tersebut hendak menemui sang gubernur. Namun politikus PDIP itu baru kembali ke kantor selepas pukul 12.00. Sekira pukul 13.15, mobil dinas DH 17 milik Kepala Dinas PU tampak terparkir sejajar dengan DH 1. Dua motor pol PP yang mengawal mobil dinas gubernur pun telah siap berangkat.
Dari ruang kerjanya di lantai II, gubernur didampingi Kadis PU NTT, Andre Koreh melangkah menuju lobby lalu keluar bersama menuju mobil dinas yang sudah on. “Halo, apa kabar?” seru gubernur. Itulah kebiasaan mantan wakil gubernur NTT itu. Ia lalu melempar senyum, yang juga khas.
Kata dan kalimat-kalimat khas itulah yang selalu mewarnai pertemuan sang gubernur dengan awak media. Di tengah kesibukannya, dia selalu berusaha menyembunyikan kegelisahan dan kegalauannya atas kondisi NTT yang belum mampu bangkit. Sulit membedakan di mana dia sedang marah atau sedang riang.
Di hari terakhir dia sebagai gubernur, bahkan mungkin kesempatan terakhir mewawancarai dia sebagai gubernur. Dia masih tetap menjaga kalimat-kalimat khasnya. Barisan kata-kata sederhana yang hari ini tidak lagi ada di sana. Di gedung Sasando yang megah itu. Yang dia bangun di tengah nyaringnya raung untuk menolak pembangunan gedung itu.
“Kami ada acara,” suaranya berat. Bibirnya sedikit bergetar. Lagi-lagi dia berusaha menyembunyikan apa yang dia rasakan. Bukan karena tidak suka dengan barisan manusia yang tidak bosan-bosan menghalangi langkahnya sembari menyodorkan alat rekaman. Mengabadikan gambarnya atau merekam bunyi yang keluar dari pita kerongkonganya melalui lipatan lidahnya.
Satu langkah menuju tangga terakhir dia tahan. Suaranya mereda. Matanya dipalingkan beberapa saat. Dasar pemburu berita. Pertanyaan pun dilempar. “Di hari terakhir ini apa yang Pak Gubernur kerjakan? Boleh ceritakan pak”.
Wajahnya tak lagi kaku. Bahasanya kembali tegas. Setegas komitmennya membangun NTT. Selama 10 tahun menjadi gubernur, lima tahun wakil gubernur dan 4 tahun wakil ketua DPRD NTT. Tidak sedikit waktunya dia habiskan untuk daerah ini. Puas, tidak puas tentu manusiawi.
“Ini hari terakhir. Saya datang beres-beras. Aktivitas seperti biasa dan bekerja seperti hari-hari sebelumnya,” ucap Lebu Raya.
Sempat berkelakar tentang rencananya untuk melanjutkan perjuangan membangun NTT melalui jalur legislatif. Dia lalu menunjuk kursi bagian kanan memberi isyarat kepada Andre Koreh untuk berada di sana. Di sampingnya. Mobil Toyota Fortuner itu pun berlalu. Senyumnya dia lempar, tenggelam di balik gelapnya kaca riben besi beroda itu. “Besok (hari ini) saya sudah tidak gubernur lagi.” Dia sisipkan kalimat ini. Kalimat yang baru terucap setelah 19 tahun mengabdi untuk Flobamorata tercinta. Terima kasih Frans Lebu Raya. (cel/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!