Paskibraka dan Tantangan Generasi Millenial – Timor Express

Timor Express

OPINI

Paskibraka dan Tantangan Generasi Millenial

OLEH: CARLOS MANUEL MAIA

PURNA PASKIBRAKA NASIONAL 1993

Gagasan Paskibraka lahirnya pada tahun 1946, pada saat ibukota Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor (Laut) Husein Mutahar, untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta. Pada saat itulah, di benak Mutahar terlintas suatu gagasan bahwa sebaiknya pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air, karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa yang bertugas.

Tetapi, karena gagasan itu tidak mungkin terlaksana, maka Husein Mutahar hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (3 putra dan 2 putri) yang berasal dari berbagai daerah dan kebetulan sedang berada di Yogyakarta. Lima orang tersebut melambangkan Pancasila. Sejak itu, sampai tahun 1949, pengibaran bendera di Yogyakarta tetap dilaksanakan dengan cara yang sama.

Ketika Ibukota dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1950, Husein Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka. Pengibaran bendera pusaka pada setiap 17 Agustus di Istana Merdeka dilaksanakan oleh Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun 1966. Selama periode itu, para pengibar bendera diambil dari para pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta.

Tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil presiden saat itu, Soeharto, untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, Husein Mutahar kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok yang dinamai sesuai jumlah anggotanya, yaitu: Pasukan 17/Pengiring (Pemandu), Pasukan 8/Pembawa Bendera (Inti), dan Pasukan 45/Pengawal.

Idik Sulaeman, Sang Pencetus Istilah Paskibraka Jumlah tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada waktu itu dengan situasi kondisi yang ada, Husein Mutahar hanya melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran bendera pusaka. Rencana semula, untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI) namun tidak dapat dilaksanakan. Usul lain menggunakan anggota pasukan khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, KKO dan Brimob) juga tidak mudah. Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi karena mereka bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta.

Mulai tanggal 17 Agustus 1968, petugas Pengibar Bendera Pusaka adalah para pemuda utusan provinsi. Tetapi karena belum seluruh provinsi mengirimkan utusan sehingga masih harus ditambah oleh eks-anggota pasukan tahun 1967.

Pada tanggal 5 Agustus 1969, di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan reproduksi Naskah Proklamasi oleh Suharto kepada Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia. Bendera duplikat (yang terdiri dari 6 carik kain) mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka Jakarta, sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar dan menjemput bendera duplikat yang dikibar/diturunkan. Mulai tahun 1969 itu, anggota Pengibar Bendera Pusaka adalah para remaja siswa SLTA di seluruh tanah air Indonesia yang merupakan utusan dari seluruh provinsi di Indonesia, dan tiap provinsi diwakili oleh sepasang remaja putra dan putri.

Istilah yang digunakan dari tahun 1967 sampai tahun 1972 masih Pasukan Pengerek Bendera Pusaka. Baru pada tahun 1973, Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan PASKIBRAKA. PAS berasal dari PASukan, KIB berasal dari KIBar mengandung pengertian pengibar, RA berarti bendeRA dan KA berarti pusaKA. Mulai saat itu, anggota Pengibar Bendera Pusaka disebut PASKIBRAKA.

PASKIBRAKA dengan tugas utamanya mengibarkan Duplikat Bendera Pusaka dalam upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia di tingkat Kabupaten/Kota (Kantor Bupati/Wali Kota), Provinsi (Kantor Gubernur) dan Nasional (Istana Merdeka). Anggotanya berasal dari pelajar SMU/Sederajat kelas 1 atau 2. Penyeleksian anggotanya biasanya dilakukan sekitar bulan April untuk persiapan pengibaran pada 17 Agustus setiap tahunnya.

Selama waktu seleksi sampai 16 Agustus, seorang anggota calon Paskibraka dinamakan “CAPASKA” atau Calon Paskibraka. Pada waktu penugasan 17 Agustus, anggota dinamakan “PASKIBRAKA”, dan setelah 17 Agustus, dinamakan “PURNA PASKIBRAKA”. Dengan tingkatannnya meliputi; Paskibraka Nasional (bertugas di Istana Merdeka), Paskibraka Provinsi (bertugas di Pusat Pemerintahan Provinsi) dan Paskibraka Kabupaten/Kota (bertugas di Pusat Pemerintahan Kabupaten/Kota).

Kenangan 25 tahun lalu itu masih membekas jelas dalam ingatan saya. Tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1993 di Istana Negara – Jakarta, saya menjadi satu dari sedikit orang pemuda di provinsi Timor-Timur (waktu itu/sekarang negara Timor Leste), yang berkesempatan mengibarkan Sang Saka Merah Putih pada peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-48. Kala itu saya dipercayakan sebagai Komandan Kelompok 17 (tim bangsa) Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA) yang bertugas pada pagi hari.

Meski bagi banyak orang menganggap Istana Negara di Jakarta hanya sebuah ibukota negara di Indonesia, namun menjadi anggota Paskibraka memberi kesan mendalam. Hal ini lahir dari pengalaman yang didapatkan selama mengikuti proses latihan yang keras dan kebersamaan antaranggota di Desa Bahagia, Cibubur-Jakarta, yang kebetulan saya terpilih sebagai Lurah Putera Desa Bagaia kala itu.

Seingatan saya Indonesia masih terdiri dari 27 Provinsi dan total utusan calon anggota Paskibraka tingkat nasional dari setiap provinsi 1 putera dan 1 puteri (total 54 orang), waktu seleksi sudah dimulai sejak Maret dan April pada tahun 1993. Pada Juli 1993, mereka yang terpilih memasuki proses pelatihan intensif di dalam asrama (Cibubur-Jakarta). Pada 14 Agustus gladi kotor dilakukan dan 15 Agustus gladi bersih dilakukan. Sehari setelahnya yakni 16 Agustus anggota Paskibraka dikukuhkan. Menjadi bagian dari Paskibraka adalah impian dan kebanggaan. Proses latihan yang diikuti dengan penuh antusias. Kadang proses latihan itu dilakukan seorang diri untuk memberikan hasil yang maksimal.

Paling berkesan dari semua proses itu adalah malam renungan jelang Hari Kemerdekaan. Ketika itu saya dan teman-teman Paskibaraka lainnya mendapat banyak wejangan dari kakak pembina tentang sejarah perjuangan bangsa, makna kemerdekaan bagi bangsa kita dan arti bendera dalam kehidupan berbangsa. Bendera adalah simbol identitas sebuah bangsa yang merdeka. Pengakuan dunia atas identitas itu diraih bangsa kita dengan perjuangan yang mengorbankan, keringat, darah dan nyawa. Tidak terasa air mata saya jatuh saat mencium Sang Saka Merah Putih pada malam itu.

Beragam proses latihan yang dijalani selama menjadi anggota Paskibraka, belakangan saya sadari menjadi bekal penting dalam perjalanan hidup ini. Dari Paskibraka, saya belajar tentang nilai-nilai positif seperti kerja keras, disiplin, solidaritas sesama teman dan rasa cinta terhadap Tanah Air.

Bukan tanpa alasan saya berbicara tentang Paskibraka. Romantisme dan nostalgia saya tentang Paskibraka kembali meruyak dalam beberapa hari lalu. Tepatnya Sabtu, 4 Agustus 2019, saya diundang pengurus Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Nusa Tenggara Timur untuk memperkenalkan diri dihadapan siswa-siswi SMU berprestasi dari seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Yang akan bertugas sebagai anggota Paskibraka di tingkat provinsi pada hari kemerdekaan 17 Agustus 2019 nanti.

Meski sudah cukup terbiasa berbicara di hadapan umum, harus saya akui berbicara di hadapan para anggota Paskibraka yang notabene masuk dalam generasi millenial itu membuat saya cukup grogi. Bukan karena pengalaman atau usia mereka yang masih jauh di bawah saya, tetapi justru karena rasa bangga dan kagum saya kepada mereka semua yang cakap, tegap dan tegas dalam berpikir, berucap dan bersikap.

Kepada mereka saya mengatakan bahwa menjadi anggota Paskibraka harus bisa menjadi teladan bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan. Di era globalisasi, generasi muda Indonesia menghadapi persoalan zaman yang tidak gampang. Melalui akses internet yang semakin mudah dan pengaruh media sosial, mereka bisa terpapar paham-paham radikal, terorisme dan gaya hidup instan. Pada saat yang sama, peredaran narkoba semakin merajalela dan kenakalan remaja menjadi hal yang kian dianggap biasa dan menghancurkan masa depan.

Paskibraka, memiliki modal kuat untuk menjadi garda terdepan dalam menyelesaikan masalah zaman tersebut. Modal itu adalah nilai-nilai kedisiplinan, kerja keras dan rasa nasionalisme yang ditanamkan sejak masa pengkaderan.

Dari kerja keras dan kedisiplinan yang tinggi, maka anggota Paskibraka bisa membentengi diri dari pengaruh hidup instan. Kita tahu gaya hidup instan bisa membuat seseorang menjadi egois, sombong/tinggi hati, merasa benar sendiri, tidak mengutamakan proses, enggan berefleksi pada masa lalu dan kehilangan rasa hormat terhadap orang tua dan sesama.

Semangat dan antusiasme adik-adik yang menyala. Dari situ saya optimistis Indonesia masih punya harapan untuk bangkit mewujudkan amanat kemerdekaan yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini. Dirgahayu 73 Tahun Indonesia, Jayalah Paskibraka Indonesia, MERDEKA…! (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!