Timor Express

METRO

Pesawat Hancur, Bocah 12 Tahun Selamat

DITMEUKAN. Bangkai pesawat Dimonim Air yang mengalami kecelakaan saat penerbangan dari Tanah Merah menuju Oksibil.

Humas SAR JAYAPURA

Sambil Merintih Jumaidi Beri Tahu Posisi Korban Lainnya

JAKARTA, TIMEX – Sehari pasca hilang kontak, tim SAR gabungan berhasil menemukan pesawat Dimonim Air rute Tanah Merah–Oksibil. Minggu (12/8) pesawat milik PT Marta Buana Abadi itu sudah dalam kondisi hancur. Dari total tujuh penumpang, hanya satu yang selamat. Sisanya meninggal dunia. Pun demikian pilot dan kopilot. Keduanya tidak selamat.

Pangdam XVII/Cendrawasih Mayjen TNI George Elnadus Supit menjelaskan bahwa dirinya sudah mendapat laporan dari tim SAR gabungan. Menurut dia, petugas sudah berusaha maksimal. “Terlambat sedikit saja hasilnya bisa berbeda,” ungkap Supit. Lokasi jatuhnya pesawat nahas itu memang sulit dijangkau. Posisinya berada di hutan Gunung Menuk.

Pesawat bernomor registrasi PK-HVQ itu pertama kali terlihat oleh pesawat Caravan C208B. “Tadi pagi (kemarin pagi) pukul 06.15 WIT pada koordinat 04 51.07 S 140 35.94 E pada ketinggian sekitar 6500 feet,” kata Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Sindu Rahayu.

Sindu mendapat infornasi tersebut dari Kepala Bandara Oksibil Frits Ayomi. Dia pun membenarkan bahwa hanya satu dari sembilan orang dalam pesawat itu yang ditemukan selamat. Sementara delapan lainnya dinyatakan sudah  meninggal dunia. “Pesawat PK-HVQ sendiri diketemukan dalam kondisi hancur,” ucap Sindu.

Korban selamat pesawat yang hilang kontak dua hari lalu (11/8) itu bernama Jumaidi. Data sementara menyatakan bahwa Jumaidi masih berusia 12 tahun. Agar segera mendapat perawatan medis, tim SAR gabungan mendahulukan evakuasi Jumaidi. “Korban yang masih anak-anak memerlukan penanganan medis segera,” ungkap Kapten Infantri Aprin Paembonan.

Aprin adalah Danramil Oksibil. Dia memimpin langsung tim SAR gabungan yang berkumpul sejak Sabtu malam. Lantaran tidak mungkin melalui jalur udara, evakuasi lewat darat menjadi jalan satu-satunya. Kemarin, Aprin dan tim SAR gabungan bergerak sejak pukul 05.30 WIT. Dari Bandara Oksibil mereka bertolak ke Kampung Okatem.

Perjalanan berlanjut dengan berjalan kaki selama kurang lebih dua jam sampai lokasi jatuhnya pesawat di ketinggian 1.978 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dari keterangan Aprin, pesawat dalam kondisi bagian depan rusak parah. Sedangkan sayap kiri patah. Jumaidi sebagai satu-satunya korban selamat ditemukan terluka pada bahu, paha, dan tulang belakang.

Untuk itu, Aprin memerintahkan tim mengevakuasi Jumaidi lebih dulu. Disampingi pertimbangan medis, dia juga turut khawatir terhadap psikis Jumaidi. “Korban perlu kami evakuasi lebih dulu agar dia tidak terlalu lama melihat kondisi korban lainnya. Itu bisa menimbulkan trauma berkepanjangan,” beber dia.

Berdasar potongan video yang diperoleh Jawa Pos dari Kodam XVII/Cendrawasih, Jumaidi sempat berusaha membantu petugas. Beberapa kali dia menyebut posisi korban yang terjepit badan pesawat. Sambil merintih kesakitan bocah itu menyampaikan bahwa ada dua orang korban yang kepalanya terjepit sejak pesawat tersebut jatuh.

Terakhir, Jumaidi dikabarkan sudah berada di Jayapura. Petugas sengaja menerbangkan korban ke sana agar mendapat perawatan medis yang lebih baik. Sementara itu, delapan korban meninggal dunia disemayakan di RSUD Oksibil. Rencananya hari ini (13/8) jenazah korban meninggal dunia dibawa ke Boven Digul untuk diserahkan kepada pihak keluarga.

Dandim 1702/Jayawijaya Letkol Infantri Lukas Sadipun yang juga turut ambil bagian dalam upaya evakuasi kemarin belum bisa memberi keterangan pasti soal penyebab jatuhnya pesawat tersebut. Dia hanya menyampaikan bahwa ada kemungkinan pesawat jatuh karena cuaca buruk. “Nanti akan ada penyelidikan oleh KNKT tentunya,” ungkap dia.

Selain menyelamatkan Jumaidi dan mengevakuasi korban meninggal dunia, tim SAR gabungan turut mengamankan kotak hitam atau black box pesawat tersebut. Selain itu, GPS yang tersemat pada pesawat itu juga mereka bawa. Seluruhnya sudah diserahkan kepada Polres Oksibil Pegunungan Bintang untuk diteliti bersama KNKT.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal menyampaikan bahwa setelah pesawat dengan delapan Korban meninggal dunia dan satu luka berat ditemukan, masih ada tim di lapangan. “Untuk korban selamat telah berada di RS Bhayangkara, Jayapura,” jelasnya.

Rencana awal delapan korban meninggal dunia akan diidentifikasi di RS Bhayangkara. Namun, karena cuaca tidak mendukung, akhirnya proses identifikasi dilaksanakan di Oksibil. “Untuk mencocokkan antara jenazah dengan identitas korban,” ujarnya.

Rencananya hari ini, sebagian jenazah dibawa ke RS Bhayangkara. “Namun, yang sebgian masih menunggu keputusan dari keluarga,” terangnya kemarin.

Terkait penyabab kecelakaan, dia mengaku belum mengetahuinya. Polda Papua dan KNKT masih berusaha mencari tahu. “Apakah karena cuaca buruk atau hal lainnya,” jelas nya. Namun, dia mengakui bahwa memang cuaca di lokasi kejadian sering kali berubah. Kerap kali tiba-tiba hujan dengan kabut yang tebal. “Tapi, tunggu kepastian dari penyelidikan dulu ya,” papar polisi dengan tiga melati di pundak tersebut.

Sementara itu, Owner PT Marta Buana Abadi, Vico Amalo membenarkan insiden tersebut. Ia juga membenarkan satu penumpang pesawat selamat. “Saya segera terbang ke Papua,” kata Vico, Minggu kemarin. (idr/lyn/syn/jpg/sam)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!