Timor Express

EKONOMI BISNIS

PLN Terima PMN Rp 10 Triliun

Sofyan Basir

Sofyan Basir

Tak Kurangi Proyek Infrastruktur Listrik

JAKARTA, TIMEX–PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) harus mengatur kembali pembiayaan pembangunan proyek ketenagalistrikan. Sebab, dana penyertaan modal negara (PMN) yang diterima perseroan lebih rendah daripada pengajuan awal sebesar Rp 15 triliun.
Tahun depan pemerintah berencana mengucurkan dana PMN kepada PLN sebesar Rp 10 triliun. Uang tersebut diberikan guna meningkatkan kemampuan pendanaan PLN dalam membiayai pembangunan ketenagalistrikan.

Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir mengatakan, pihaknya akan mencari pendanaan lain untuk menutup kekurangan dana dari pemotongan PMN yang akan diberkan kepada PLN tahun depan. Selain itu, PLN akan melakukan sejumlah efisiensi agar kebutuhan dana bisa ditekan. Terutama untuk pemasangan listrik di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal).

”Sebagian kami minta diskon lah. Misalnya, kan untuk luar daerah bisa sampai Rp 2 juta per rumah. Mungkin bisa diturunkan jadi Rp 1,5 juta. Biayanya bisa turun,” katanya kemarin (20/8).

Mayoritas dana PMN memang akan digunakan PLN untuk pembangunan listrik desa. Yakni, sebesar Rp 8,566 triliun. Sisanya, PMN yang diperoleh dipakai untuk membangun transmisi, gardu induk, maupun pembangkit.

Sebenarnya total dana yang dibutuhkan PLN untuk investasi infrastruktur ketenagalistrikan pada 2019 mencapai Rp 25,957 triliun. Selain mengandalkan PMN, PLN akan mencari pinjaman maupun pendanaan lain guna menyelesaikan proyek infrastruktur ketenagalistrikan. ”Proyeknya tidak akan dipangkas. Janji,” tegasnya.

PMN tersebut juga sedikit mencakup penyaluran subsidi listrik untuk masyarakat kurang mampu. Pada 2019 pemerintah menganggarkan subsidi listrik Rp 56,5 triliun. Subsidi diberikan untuk 6,5 juta rumah tangga pelanggan golongan 450 VA dan sebagian pelanggan 900 VA yang disubsidi. Di sisi lain, PLN melakukan efisiensi dengan menekan impor komponen listrik di tengah depresiasi rupiah terhadap dolar AS.

Sofyan mengatakan, untuk komponen infrastruktur kelistrikan seperti kabel maupun tiang, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN)-nya telah mencapai 90 persen. Sementara itu, untuk komponen pembangkit berkapasitas besar di atas 10 mw seperti turbin, angka impornya bisa mencapai 70–80 persen. Meski demikian, hal itu tidak terlalu berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah maupun keuangan PLN. ”Tetapi, ini kan dari luar, pinjamannya luar. Jadi, tidak berpengaruh ke Indonesia,” terang Sofyan.

Direktur Keuangan PLN Sarwono menambahkan, pihaknya akan terus melakukan efisiensi agar biaya pokok penyediaan (BPP) listrik PLN tidak naik signifikan di tengah melemahnya nilai tukar rupiah. ’’Pasti ada (kenaikan), tetapi akan saya kendalikan karena harga (tarif) tetap, yang penting harga listrik tidak naik,’’ imbuhnya. (vir/c7/fal/jpg/ito)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!