Timor Express

EKONOMI BISNIS

Harga Telur Ayam Kembali Normal

KEMBALI NORMAL. Harga telur ayam ras di sejumlah pasar tradisional kini sudah kembali normal.

TOMMY AQUINO/TIMEX

KUPANG, TIMEX –Harga telur ayam ras di sejumlah pasar tradisional di Kota Kupang kini sudah kembali normal. Sebelumnya, harga satu rak (30 butir) telur ayam ras mencapai Rp 60 ribu bahkan lebih.

Pantauan Timor Express di Pasar Kasih Naikoten, khususnya di beberapa lapak milik pedagang telur, harga telur ayam bervariatif. Harganya berkisar antara Rp 50 ribu sampai dengan Rp 53 ribu per rak. Beberapa pedagang bahkan memiliki stok telur ayam dalam jumlah banyak.

Salah satu pedagang, Welem Tallo mengatakan, penurunan harga telur ayam mulai terjadi sejak tiga minggu lalu (sekitar pertengahan Agustus, red). Sebelumnya harga terlur ayam yang dibeli pedagang dari distributor mencapai Rp 335 ribu per ikat (enam rak). Dan saat ini harga telur dari distributor sudah kembali normal di kisaran Rp 275 ribu sampai Rp 285 ribu.

“Saat harga telur melambung, harga di distributor Rp 335 ribu. Kita jual Rp 60 ribu per rak. Sekarang sudah turun makanya kita jual Rp 50 ribu sampai Rp 53 ribu. Kalau telurnya besar, bisa sampai Rp 55 ribu. Tapi kalau jual di bawah Rp 50 ribu, hati-hati karena kualitas telur pasti kuurang baik,” ujar pria yang sudah cukup lama berdagang telur ayam.

Welem menyebutkan, telur ayam ras yang dijualnya didatangkan distributor dari Kota Surabaya. Pasalnya, produksi telur ayam ras yang ada di peternakan lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar/konsumen.

“Produksi telur ayam di peternakan lokal sekitar lima ribu dalam satu hari. Itu tidak cukup untuk penuhi kebutuhan konsumen. Sekarang banyak warung, banyak restoran dan hotel. Jadi kebutuhan telur ayam dalam sehari bisa mencapai puluhan ribu butir,” jelasnya.

Pedagang lokal, kata Welem, tidak pernah mempermainkan harga telur ayam ras di pasaran. Jika ada kenaikan harga telur, maka kondisi tersebut dipicu oleh banyak faktor dan bahkan terjadi secara nasional. Apalagi aparat kepolisian (Satgas Pangan Polda NTT) dan petugas dari Dinas Perdagangan melakukan pemantauan harga komoditas di pasar secara kontinyu.

“Jadi kalau harga telur naik, faktanya memang naik. Tidak ada permainan harga dari kami pedagang. Seperti baru-baru ini, harga telur melonjak drastis secara nasional karena faktanya harga pakan juga mengalami kenaikan,” terang dia.

“Kalau konsumen yang sering ikut informasi harga komoditas di tv atau di koran, pasti mereka sudah paham kalau ada kenaikan harga. Yang jadi soal kalau konsumen yang tidak pernah ikut informasi atau pura-pura tidak tahu,” tambah Welem.

Kembali normalnya harga telur ayam juga diakui pedagang lainnya, Liven Adoe. Menurut dia, selama harga telur ayam melonjak drastis, dia dan beberapa pedagang lainnya tidak berani untuk mengambil telur ayam dalam jumlah banyak. Pasalnya, mereka juga mewaspadai jika harga telur ayam kembali turun.

“Kalau kita ambil banyak, risikonya juga besar. Misalnya kalau stok telur dengan harga lama belum habis, tapi kemudian harga telur tiba-tiba turun, otomatis kita tidak bisa lagi pertahankan harga,” jelasnya.

Sama halnya dengan konsumen, Liven juga berharap pasokan telur ayam ras dari dalam atau luar Kota Kupang tidak terkendala. Sebab jika ada kendala, maka harga telur akan melonjak seperti yang terjadi selama bulan Juli kemarin.

Sekadar diketahui, harga telur ayam ras dan ayam potong beberapa bulan lalu sempat melonjak drastis. Hal ini dikarenakan bahan baku pakan yang diimpor juga mengalami kenaikan harga seiring menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.. Impor bahan baku pakan ternak berasal dari lima negara. Misalnya, bungkil kedelai diimpor dari Brasil, Argentina dan AS. Sedangkan tepung daging, selain dari AS, juga diimpor dari Australia dan Selandia Baru.

Selain kenaikan harga bahan baku pangan, penyebab kenaikan harga telur juga dikarenakan banyak peternak yang memanfatkan momen lebaran untuk mengafkir ayam-ayam petelur mereka. Sehingga praktis ketika kandang diisi ayam baru, produksi telur pun turun drastis yang dampaknya harganya jadi naik. Namun kini pasokan telur ayam dari peternak sudah kembali normal lantaran ayam petelur yang baru masuk kandang sudah berproduksi maksimal. (tom)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!