Nusa Bungtilu, Jarak antara Mata dan Hidung – Timor Express

Timor Express

OPINI

Nusa Bungtilu, Jarak antara Mata dan Hidung

(Menanti Terobosan Gubernur dan Wagub NTT Periode 2018-2023)

Oleh: Wilson Boimau

ASN pada Biro Humas Setda NTT

PULAU Semau, sebuah pulau kecil terletak di perairan bagian barat pulau Timor atau sebelah barat Kota Kupang. Secara administratif, pulau ini masuk dalam struktur pemerintahan kabupaten Kupang. Letak pulau ini sangat dekat dari kota Kupang, ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Jarak tempuh ke pulau Semau dari kota Kupang hanya dalam waktu 30 menit menggunakan perahu sampan. Dengan jarak pulau Semau dan kota kupang yang dekat ini sering diibaratkan “antara mata dan hidung”. Artinya, apabila kita berdiri tepat di pelabuhan Tenau, Kupang maka dapat langsung melihat pulau semau dengan mata telanjang.

Jika dibilang Semau, pulau yang terlupakan tentu sangat tidak etis. Dibilang Semau, pulang yang tidak terlihat atau pulau yang tidak nampak dari penglihatan kita, juga tidak mungkin. Padahal, bila kita berada diatas pesawat saat pulang dari Jakarta, pulau Semau menjadi area lintasan yang sangat nampak dekat dari udara.

Sejak tahun 2006, Semau yang awalnya hanya satu kecamatan dan kemudian dimekarkan menjadi dua kecamatan. Yaitu, kecamatan Semau Utara memiliki delapan desa dan enam desa di kecamatan Semau Selatan. Mata pencaharian masyarakat setempat sebagai petani, peternak, penenun dan sebagian besar adalah nelayan.

Potensi daerah Semau di sektor pariwisata sangat menjanjikan. Bahkan pada tahun 1970-an objek wisata Oe Asa di Semau sudah dikunjungi wisatawan mancanegara, jauh sebelum Taman Nasional Komodo (TNK), di Labuan Bajo, terkenal dengan binatang purbakala Komodo. Di Semau, terdapat lima pantai wisata tercantik, yaitu pantai Liman, pantai Otan, pantai Onanbalu, pantai Uih Make dan pantai Uitiuhtuan.

‘Nusa Bungtilu’ adalah nama asli dari pulau Semau. Nusa Bungtilu, memiliki arti “Pulau Bunga Tiga Warna”. Arti bunga ini bukan tanaman bunga yang biasanya kita kenal. Tetapi bunga, yaitu kapas yang dipakai untuk menenun dan menghasilkan kain adat. Kain adat yang dipakai dalam acara adat tertentu.

Arti Tiga Warna dari bunga itu, mencerminkan warna putih, merah dan hitam. Kain tenun atau kain adat dominan warna putih dipakai suku Helong (penduduk asli), warna merah (suku Timor) dan dominan warna hitam dipakai suku Rote. Nusa Bungtilu disebut sebagai cikal bakal terbentuknya tenun adat dari beberapa suku di Nusa Tenggara Timur, dimana tiga warna yang dimaksud adalah tiga warna kain adat. Jadi, Nusa Bungtilu menampung beberapa suku. Suku asli pulau Semau atau Nusa Bungtilu adalah suku Helong. Juga di Pulau Semau banyak terdapat suku Rote dan Timor.

Namun apa mau dikata, pulau Semau dengan nama asli ‘Nusa Bungtilu’ ini masih terdapat banyak kekurangan bila dibandingkan dengan pulau-pulau kecil lainnya di NTT. Kondisi dan perkembangan pembangunan di pulau Semau dapat dikatakan belum sejajar dengan pulau lainnya. Tentu hal ini tidak semata menjadi beban dan tanggungjawab pemerintah kabupaten Kupang tetapi sangat diperlukan adanya perhatian serius dari pemerintah provinsi NTT.

Termasuk perhatian dari saudara kandungnya, yaitu kota Kupang, Kabupaten Rote Ndao dan kabupaten Sabu Raijua yang yang lahir dari pemekaran kabupaten induk, kabupaten Kupang. Perhatiannya, bukan secara langsung mengalokasi anggaran murni dari kabupaten saudara sekandung itu. Tetapi,  bagaimana terobosan kerjasama dalam bidang investasi untuk memajukan Semau sebagai pulau kecil seluas 143,42 kilometer persegi dan jumlah penduduk 8.097 jiwa.

DESENTRALISASI ASIMETRIS

Pulau Semau sebenarnya memiliki banyak potensi yang belum disentuh. Baik di sektor pertanian, peternakan dan kelautan. Komoditas pertanian holtikultura menjadi andalan pulau dengan dua kecamatan ini. Pada masa lalu, buah semangka yang dikenal dengan nama poteka menjadi favorit masyarakat pulau Semau. Selain semangka, juga terdapat tomat, kacang hijau, kacang tanah, jagung dan sayur-sayuran. Untuk jenis ternak, yaitu kambing yang dijual di pantai Namosain, didatangkan dari Semau.

Berbagai terobosan pembangunan sangat dibutuhkan untuk memajukan wilayah pulau Semau di berbagai sektor. Kondisi Semau saat ini menggambarkan rendahnya  akses informasi, dibutuhkan pembangunan sarana infrastruktur untuk mendukung sektor pariwisata, kelautan perikanan, pertanian, pendidikan dan kesehatan. Juga sarana tranportasi laut yang memadai, kendati saat ini sudah ada dermaga dan kapal fery yang belum secara rutin melayani masyarakat di daerah itu.

Nawacita sembilan program strategis Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK) menjadi prioritas. Terutama Nawacita ketiga, yaitu “membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.”

Nawacita ketiga ini, diharapkan pemerintah lebih memberdayakan desa dalam pembangunan nasional sehingga kesejahteraan masyarakat desa maupun di daerah perbatasan dapat meningkat. Pembangunan juga harus dilaksanakan di kawasan timur Indonesia agar terjadi pemerataan. Dapat juga meningkatkan daya saing daerah dan menumbuhkan perekonomian daerah.

Dengan begitu, pemerintah akan meletakan dasar-dasar bagi dimulainya desentralisasi arsimetris. Kebijakan desentralisasi arsimetris, dimaksudkan untuk melindungi kepentingan nasional Indonesia di kawasan-kawasan perbatasan, memperkuat daya saing ekonomi Indonesia secara global. Selain itu, untuk membantu daerah-daerah yang kapasitas berpemerintahan belum cukup memadai dalam memberikan pelayananan publik.

Kaitan itu, tepat jika pulau Semau menjadi agenda strategis dalam merealisasikan Nawacita ketiga program prioritas Jokowi-JK. Sebagaimana untuk memperkuat daya saing ekonomi dalam tataran global dengan meningkatkan akses informasi yang menjadi hak publik untuk mengetahui (public right to know).

Kita perlu juga memberikan apresiasi kepada pemerintah kabupaten Kupang yang telah memberikan perubahan demi kemajuan bagi daerah dan masyarakat pulau Semau. Kendati disana-sini masih tersisa sejumlah kekurangan. Mengingat, cakupan wilayah kabupaten Kupang yang sangat luas sehingga membutuhkan penanganan atas pembangunan di wilayahnya secara bertahap dan dalam jangka waktu panjang disesuaikan dengan kondisi alokasi anggaran yang ada.

Hal itu semua, tentunya kita menanti terobosan baru dari kepemimpinan Gubernur, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dan Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi (JNS) yang telah dilantik Presiden RI, Joko Widodo, di Istana Negara, Rabu (5/9). Terutama pulau Semau, jarak  antara mata dan hidung. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!