Pelukan Hanifah dan Ibu Pertiwi – Timor Express

Timor Express

OPINI

Pelukan Hanifah dan Ibu Pertiwi

Oleh: Olyvianus Krismanto Atamou

Warga NKRI berdomisili di Desa Kuimasi, Kab. Kupang

 

Satu gambar, beribu makna, beribu harapan. Demikian juga yang masyarakat Indonesia saksikan dari ajang Asian Games ke-18 tahun 2018. Hanifan Yudani Kusumah terekam kamera sedang memeluk dua kandidat Presiden RI yang akan kita pilih tahun depan. Suatu kejadian yang langka.Viralnya aksi Hanif untuk menyatukan Presiden Jokowi dan rival politiknya Pak Prabowo yang hadir sebagai ketua IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) ditafsirkan dengan beribu makna. Hal ini terus menjadi perbincangan hangat terutama di media sosial.

Ada yang merinding, menginginkan Indonesia seperti itu, rukun dan damai. Ada juga yang mengatakan sejuk di tengah mulai memanasnya suhu politik di tanah air. Ada yang mengatakan bahwa itu hal yang biasa dan sudah seharusnya. Tidak perlu dibesar-besarkan karena kontestasi adalah hal yang biasa dalam demokrasi. Tapi ada yang mengatakan bahwa ini hal yang luar biasa. Luar biasa karena berpeluknya Pak Jokowi dan Pak Prabowo tersebut tidak terlepas dari seorang generasi milenial, Hanifan.

Saya kagum ketika menyaksikan pelukan Hanifan pada dua kandidat Presiden. Ada atmosfer kedamaian yang menghembus dan menghempaskan segala keraguan. Ada harapan besar bahwa kontestasi Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presidentahun 2019 akan dilaksanakan secara damai dan santun. Kontestasi tanpa sikut menyikut, tanpa blackcampaign, tanpa perpecahan karena perbedaan pilihan. Kontestasi yang fair, bukan ajang berkelahi.

Inisiatif Hanif untuk memeluk Pak Jokowi dan Pak Prabowo dalam konteks ASIAN GAMES 2018, dapat dibaca sebagai ungkapan terima kasih atas dukungan kedua tokoh tersebut. Kehadiran Presiden dan Ketua IPSI, merupakan dukungan moril kepada atlet yang sedang berlaga, termasuk Hanif. Menambah keyakinan atau kepercayaan diri atlet dalam bertanding.

Sebagaimana yang disampaikannya pada media,Hanif inginaksinya itu membuat masyarakat Indonesia cinta damai. Terutama di tengah-tengah sengitnya kontestasi Pemilihan Presiden dan Pemilihan Anggota Legislatif ini.Dia mengkritisi sosial media yang sedang ramai dengan caci maki, fitnah dan penyerangan terhadap pribadi.Padahal sesungguhnya, hanyapadakontestasi Pemilihan Presidendua tokoh tersebut berkompetisi.Ketika di luar arena kontestasi Pemilihan Presiden mereka tetap bersaudara. Memang demikianlah yang kita harapkan, sebab persaudaraan adalah kekuatan bangsa.

Berkompetisi bukan berarti bermusuhan. Satu musuh terlalu banyak, seribu kawan terlalu sedikit. Kata seorang pejuang; musuh kamu itu, diri kamu sendiri. Memusuhi kekurangan diri sendiri untuk diperbaiki dan dikembangkan alangkah lebih positif daripada memusuhi orang lain. Itulah yang kita lihat pada Pak Jokowi dan Pak Prabowo, mereka tidak bermusuhan. Mereka berpelukan dalam ikatan persaudaraan, saudara sebangsa setanah air Indonesia. Bahkan sebelum memasuki gelanggang, mereka sudah terlebih dahulu berpelukan di luar gelanggang. Itulah sosok negarawan yang Indonesia butuhkan.

Kejadian berpelukannya dua rival politik di dunia sebenarnya sudah pernah terjadi. Di Kenya bulan Mei 2018 lalu antara Presiden Kenya dan rival politiknya Raila Odinga. Sayangnya berpeluknya kedua tokoh di Kenya tersebut, terjadi setelah ada bentrokan dan korban jiwa. Oleh karena itu, kita bersyukur karena berpeluknya dua kandidat Presiden RI ini dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih dalam keadaan aman, tenteram dan terkendali, tak seperti di Kenya yang sudah memakan korban jiwa.

Di India Juli 2018 lalu, Perdana Menteri India, Narendra Modi dipeluk oleh rival politiknya Rahul Gandhi. Rahul Gandhi ialah Presiden Kongres Oposisi yang mengkritisi dan melakukan mosi tidak percaya pada PM Narendra Modi.Disinilah kedewasaan berpolitik dapat terukur. Memiliki rival politik bukan berarti membangun tembok kaca antara kita dan rival. Tembok kaca pemisah yang membuat kita hanya bisa saling melihat dan memperhatikan tetapi tidak bisa saling bersentuhan. Akan tetapi sebaliknya memiliki rival berarti kita memiliki kaca untuk bercermin dimana kekurangan diri kita yang patut diperbaiki. Menjadikan rival sebagai teman bahkan sahabat yang bisa duduk bersama, bertegur sapa, berbicara berswafoto seperti yang dilakukan Bapak Ganjar Pranowo dan Bapak Sudirman Said. Mereka berdua makan bersama dan berswafoto saat sebelum pemilihan Gubernur Jawa Tengah.

Tentang pelukan, Presiden Amerika Serikat ke-36 Lyndon B. Johnson pernah berfilosofi dengan mengatakan; “hug your friends tight, but your enemy tighterhug them so tight that they can’t wiggle.” Peluklah temanmu dengan ketat, tetapi musuhmu harus lebih ketat lagi agar mereka tak bisa bergerak/ bergoyang sedikit pun. Pelukan versi Lyndon B. Johnson dalam tanda petik ialah pelukan politik. Pelukan untuk “melumpuhkan” lawan atau rival secara positif dengan hasil yang konstruktif.Ini memberi arti bahwa perlu ada pendekatan (pelukan) yang lebih terhadap musuh. Dengan pendekatan yang baik akan ada pengenalan yang baik. Dengan pengenalan yang baik maka benarlah kata pepatah; Tak kenal maka tak sayang, sebaliknya kenal maka sayang. Dengan pelukan yang lebih ketat akan menghasilkan rasa sayang. Pada akhirnya rasa sayang dapat menghancurkan rasa kebencian/ permusuhan. Dengan demikian, pada ajang kontestasi politik, isu SARA tak akan lagi menjadi jualan yang laku di negeri ini, dibanding dengan program strategis, realistis dan akuntabel bagi kemajuan bangsa.

Penelitiandi UniversityofNort Carolina, Amerika Serikat menyebutkan bahwa pelukan bisa menurunkan kadar hormon penyebab stres (Kortisol) sekaligus meningkatkan jumlah hormon oksitosinyang mampu memberikan perasaan tenang. Hormon oksitosin juga berperan dalam menurunkan tekanan darah, meningkatkan kekebalan tubuh, melawan infeksi dan kelelahan, serta mengurangi depresi.Orang yang memeluk dan dipeluk merasakan manfaat yang sama. Ilmu psikologi mengakui adanya dampak pelukan terhadap kepribadian seseorang. Pelukan diakui memberikan dampak positif terhadap kepribadian seseorang. Kepribadian seseorang yang sering dipeluk akan berkembang dengan baik.Bahkan menurut Gary Chapmanseperti yang ditulis dalam bukunya The 5 Love Languages, pelukan merupakan bagian dari sentuhan yang sangat dibutuhkan manusia.

Kali ini saya ingin menganalogikan pelukan Hanifan sebagai pelukan Ibu Pertiwi, pelukan NKRI. Artinya bahwa Hanifan dengan bendera merah-putih di pundaknya ialah sebagai simbol dari Ibu Pertiwi.Hanifan sebagai simbol dari Ibu Pertiwi untuk menyadarkan kita bahwa dalam berkompetisi dengan sesama anak bangsa, kita harus menjaga persatuan. Sebagaimana sila ke tiga Pancasila, Dasar Negara kita. Jadi jika ada falsafah, ideolagi, gerakan yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, maka itu adalah musuh kita. Musuh karena ada unsur ancaman, ancaman terhadap kedaulatan NKRI. NKRI harga mati. Ibu Pertiwi yang merupakan personifikasi dari Indonesia atau Nusantara harus terus dipertahankan. Selain itu, berhubung dengan kinerja hormon oksitosin akibat pelukan tadi, dengan adanya pelukan Ibu Pertiwi, diharapkan ada hormon oksitosin kebangsaan yang  mengalir dan mengisi kehidupan berbangsa kita. Hormon oksitosin kebangsaan yangmeningkatkan indeks kebahagiaan masyarakat Indonesia.

Pelukan Hanifan, Pelukan Ibu Pertiwi, memberi pelajarandan makna yang mendalam. Apa pun perbedaan identitas kita, apa pun latar belakang kita, kita adalah bangsa dan negaraIndonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Kita semua berada di bawah kibaran Sang Saka Merah Putih, kita sejatinya satu. Perbedaan pendapat bukanlah alasan untuk berselisih, bergesekan apalagi sampai terjadi bentrokan. Cukuplah sudah Ibu Pertiwi bersusah hati, sebagaimana lirik lagu Ibu Pertiwi ciptaan Bapak Ismail Marzuki. Ibu Pertiwi butuh putra-putri bangsa yang berbakti, menggembirakan, penuh cinta dan setia menjaga harta pusaka untuk Nusa dan Bangsa. Mari semua anak bangsa, nikmati pelukan Ibu Pertiwi, agar kita hidup dan membangun negeri ini, dengan riang hati. Salam. (*)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!