Pemerintah Naikan Tarif Impor – Timor Express

Timor Express

EKONOMI

Pemerintah Naikan Tarif Impor

Wilfridus Zenobius Kolo /JawaPos.com

             Atasi Defisit Neraca Perdagangan

JAKARTA, TIMEX – Situasi ekonomi global yang saat ini sementara mengalami keguncangan berimbas pada ekonomi dalam negeri. Secara makro ekspor dan impor kita ada dalam kondisi normal. Hanya saja impor Indonesia jauh lebih besar dari ekspornya.

Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Republik Indonesia mengungkapkan pada semester 1 2018, defisit neraca transaksi berjalan Indonesia mencapai USD 13,5 miliar atay 2,6 persen dari PDB. Hal ini dikarenakan impor kita yang terlampau tinggi dibanding ekspor.

“Tahun 2018 yang kita hadapi adalah nilai impor kita jauh lebih tinggi dari ekspor. pertumbuhan impor mencapai 24,4 persen pada Juli 2018 dibandingkan ekspor hanya 11,4 persen di periode yang sama,” kata Sri Mulyani saat konfrensi pers di Gedung Kementrian Keuangan, Rabu (5/9/2018).

Untuk itu, pemerintah mengambil jalan dengan mengendalikan defisit neraca transaksi untuk menjaga fundamental ekonomi Indonesia. Beberapa langkah yang diambil setelah melakukan tinjauan secara komprehensif, Pemerintah akhirnya menjalankan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 132/PMK.010/2015, PMK 6/PMK.010/2017 dam PMK 34/PMK.010/2017.

Dalam sejumlah peraturan ini mereka mempertimbangkan kategori barang konsumsi ketersediaan produksi dalam negeri serta memperhatikan perkembangan industri nasional diantaranya penyesuaian tarif PPh pasal 22 terhadap 1.147 pos tarif dengan rincian.

Pertama, 210 item komoditas, tarif PPh 22 naik dari 7,5 persen menjadi 10 persen, yang melingkupi barang mewah seperti mobil CBU dan motor besar.

Kedua, 218 item komoditas diatur dalam PPh 22 naik 2,5 persen menjadi 10 persen. Barang yang masuk dalam kategori ini adalah barang yang sebagian besar sudah dapat diproduksi dalam negeri seperti barasng elektronik, dispenser, pendingin ruangan dan lampu. Juga barang keperluan tambahan setiap hari seperti sabun, sampo, kosmetik serta peralatan masak.

Ketiga, 719 item komoditas naik dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen untuk seluruh barang yang digunakan dalam proses konsumsi contohnya bahan bagunan seperti kemarimk, ban, peralatan audio visual dan produk tekstil seperti overcoat, polo shirt dan swim wear.

Kebijakan ini bukan yang pertama kai di indonesia, karena pada tahun 2013 lalu pernah dilakukan pemerintah untuk pengendalian impor Taper Tantrum. Saat itu, pemerintah menaikan tarif PPh pasal 22 atas 502 item komoditas konsumsi dari 2,5 persen sampai 7,5 persen. (wzk/jpg/tom)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!