Kualitas SDM jadi Masalah – Timor Express

Timor Express

KUPANG METRO

Kualitas SDM jadi Masalah

ILUSTRASI:AMA LADO/TIMEX

Gagal Massal Tes ASN
Evaluasi Proses Perekrutan ASN

KUPANG, TIMEX – Minimnya peserta seleksi ASN memenuhi standar kelulusan atau passing grade menjadi fenomena menarik. Kualitas peserta dan sistem serta metode perekrutan menjadi sorotan.

Seperti yang dikatakan Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Prof. Ir. Fredrik Lukas Benu, M.Si, Ph.D kepada koran ini Selasa kemarin. “Yaa… Kalau saya wajar saja kalau peserta test ASN asal NTT banyak yang berguguran karena tidak melewati Minimum Passing Grade,” jawab Prof. Fred, demikian sapaan karibnya, membalas koran ini via layanan WhatsApp.
Ia melanjutkan, ini sekaligus dapat dipakai sebagai penilaian terhadap mutu SDM NTT, mutu pendidikan NTT, dan tingkat daya saing NTT.

Namun, menurutnya, hal yang perlu dipetik dari kenyataan ini adalah NTT harus serius secara terus-menerus meningkatkan mutu SDM melalui sistem pendidikan maupun pelatihan baik formal maupun Non-Formal. Menurut guru besar dari Fakultas Pertanian ini, peningkatan mutu SDM melalui sistem pendidikan dan pelatihan harus menjadi perhatian serius.

Menurut Prof. Fred, jika pemerintah benar-benar ingin merekrut ASN baru maka harus dievaluasi lagi sistem dan metode perekrutan yang lebih representatif terhadap kondisi existing kualitas dan kapasitas calon ASN. “Suatu metode yang akan dipakai harusnya menjawab dua hal mendasar. Pertama memproyeksikan kebutuhan akan kualitas SDM yang dibutuhkan untuk pelayanan publik. Kedua memproyeksi juga kondisi existing kualitas SDM yang ada di tengah masyarakat pencari kerja,” ujar Prof. Fred.

Perlu diingat, lanjut dia, bahwa perkembangan kemajuan Indonesia saat ini menyebabkan sebagian besar SDM yang berkualitas baik tidak tertarik untuk menjadi ASN pelayan publik dengan sistem remunerasi yang jauh di bawah sektor swasta. Oleh karena itu, yang tersisa untuk berebut peluang tawaran sebagai ASN dapat diduga adalah SDM sisa yang tidak mampu bersaing lagi di sektor swasta dengan kompetisi yang jauh lebih tinggi.

“Jika pemerintah betul memikirkan tentang kebutuhan ASN dengan sistem pemerataan yang berimbang antardaerah, maka perlu pula dipikirkan tentang kebijakan afirmasi terhadap Daerah. Tidak bisa disamaratakan antarseluruh daerah dengan Jakarta atau Jawa pada umumnya,” tegas Prof. Fred.

Terpisah, Ketua Komisi V DPRD NTT, Jimmy Sianto mengaku mendukung upaya pemerintah untuk melakukan tes penerimaan ASN secara ketat. Namun seharusnya tidak menggunakan sistem gugur seperti yang diberlakukan saat ini.

“Harusnya diberi kesempatan untuk ikut tes di tiga tahapan itu, lalu diakumulasi dan diberikan penilaian untuk penentuan kelulusan,” kata Jimmy, Selasa (6/11).

Menurut dia, ribuan peserta yang mengikuti proses sejak pendaftaran, sudah banyak berkorban, bahkan sangat berharap untuk diterima sebagai ASN. Namun dengan sistem yang ada, mereka sangat dirugikan. “Kita sepakat bahwa proses seleksi ini betul-betul untuk mendapatkan, mengasilkan dan meloloskan ASN yang kompeten di bidangnya. Namun sistemnya jangan seperti ini,” terang dia.

Meski demikian, Jimmy akui, tidak semua peserta memiliki kemampuan, baik kemampuan akademik maupun kepribadian yang sama sesuai standar. Selain itu, peserta tes, tidak semuanya adalah fresh graduate. “Dengan hasil yang ada ini, pemerintah daerah harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Bagaimana dengan anak-anak yang tidak lolos ini,” kata dia.

Terkait kemungkinan pengaruh dari kualitas lulusan, Jimmy kembali katakan, semua harus berani berkata jujur tentang kualitas lulusan perguruan tinggi. “Ya, kita harus jujur bahwa tidak semua lulus dengan kemampuan sesuai standar. Ada yang habis belajar dan selesai. Makanya harus saling mendukung. Dan, kita pertanyakan, apakah dia proses kuliahnya benar, atau karena tamat sudah lama. Tugas pemerintah untuk evaluasi perguruan tinggi, karena akreditasi perguruan tinggi dari mereka,” sambungnya.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Jimmy katakan, harus dilihat dari berbagai sisi. Baik sistem tes, evaluasi kualitas lulusan dan juga terkait kepribadian calon-calon ASN. Terkait kemungkinan adanya upaya pemerintah untuk meminimalisir jumlah ASN, Jimmy katakan, pemerihtah harus jujur. “Kalau tidak niat, ya tidak usah. Kan mereka yang ikut ini sudah berkorban banyak dan berharap,” tutupnya. (ito/cel/sam)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!