Politani Produksi Benih Jagung dan Kacang Merah Lokal Berkualitas – Timor Express

Timor Express

PENDIDIKAN

Politani Produksi Benih Jagung dan Kacang Merah Lokal Berkualitas

IST

Kembangkan Potensi Jagung Lamuru dan Kacang Merah Kapan, TTS

KUPANG -Tiga dosen Politani Negeri Kupang, masing-masing Noldin M. Abolla, SP, M.Sc., I Komang Sudarma, SP, MP., dan Endeyani V. Mohammad, S.Pt, M.Si sukses mengembangkan produksi benih jagung lamuru dan kacang merah (buncis tipe tegak atau phaseolus vulgaris) bermutu tinggi, tepat waktu dan berproduksi berkelanjutan.

Noldin M. Abolla selaku Ketua Tim Pengusul mengatakan, apa yang mereka kerjakan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK) yang telah berlangsung sejak bulan Februari 2018, dan akan berakhir pada Desember 2018 nanti. “Program ini direncanakan berlangsung selama tiga tahun, dan pengembangan benih jagung lamuru dan kacang merah atau buncis tipe tegak ini merupakan pelaksanaan tahun pertama dengan lokasi produksi benih di kebun UPT Produksi Politani Negeri Kupang di Oesao, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang,” ungkap Noldin Abolla kepada koran ini di Kampus Politani, Selasa (30/10).

Noldin menjelaskan, upaya memproduksi benih jagung lamuru dan kacang merah dilandasi oleh sebuah analisis situasi bahwa jagung dan kacang-kacangan merupakan salah satu bahan pangan identitas Provinsi NTT, dimana masuk program Gubernur NTT periode sebelum (Program Anggur Merah 2012) yang dinyatakan sebagai bahan pangan lokal pengganti beras. Apalagi lanjut Noldin, merujuk data BPS NTT tahun 2017 untuk aspek produksi jagung, setiap tahun produksi jagung berkisar rata-rata 680.000 ton, sehingga termasuk sebagai salah satu sentra produksi di tingkat nasional.

Berangkat dari hasil analisis tersebut, Noldin bersama dua rekan dosen, I Komang Sudarma dan Endeyani memfokuskan pengembangan usaha produk intelektual kampus dengan memproduksi benuh jagung lamuru dan kacang merah, memanfaatkan produk lokal asal Kapan, Kabupaten TTS.

Menurut Noldin, tujuan dari program ini adalah untuk mendukung pembangunan pertanian tanaman pangan yang bermuara pada swasembada pangan. Mengutip penjelasan Sutanta (2008) dalam bukunya, Noldin menyebutkan bahwa, kebijaksanaan swasembada pangan yang diperluas, tidak hanya bertumpu pada komoditas beras saja tetapi juga pada komoditas lain yang mengandung karbohidrat, protein, mineral dan vitamin seperti buah- buahan, sayur-sayuran, seperti halnya komoditas buncis.

Mengenai buncis tipe tegak (Phaseolus vulgaris),  yang oleh orang NTT dikenal dengan kacang merah ini merupakan salah satu komoditas yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, dan memiliki prospek pengembangan yang baik. “Buncis tipe tegak merupakan sumber penghasil protein nabati yang dapat dijadikan sebagai sumber pemenuhan gizi masyarakat,” kata Noldin.

Oleh karena itu, Noldin bersama I Komang Sudarma dan Endeyani melakukan upaya peningkatan produktivitas jagung maupun buncis tipe tegak di NTT dengan sistem intensifikasi melalui perbaikan teknis budidaya. Prosesnya, demikian Noldin, melalui penyediaan sumber benih lokal bermutu yang tepat, ketepatan waktu tanam dan upaya ekstensifikasi dengan cara perluasan areal tanam dengan mengintroduksi benih yang dapat berproduksi baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.

Pemilihan komoditi jagung lamuru dan buncis tipe tegak lokal SoE untuk dikembangkan menjadi benih bermutu, kata Noldin, karena dua komoditi tersebut adaptif dengan kondisi iklim di wilayah NTT yaitu wilayah kering beriklim kering dan memiliki potensi hasil yang tinggi. Noldin menjelaskan bahwa untuk produksi benih tahun pertama ini belum dilepas keluar, masih digunakan di internal kampus sebagai bahan pengembangan atau penelitian lanjutan, bahan untuk meningkatkan intelektual mahasiswa, dan menjadi gambaran bagaimana prospek usaha agribisnis tanaman pangan dan hortikultura sehingga perbaikan terhadap teknis budidaya dapat dilakukan demi memperoleh keuntungan yang lebih baik.

Noldin menegaskan bahwa PPUPIK produksi benih jagung lamuru dan buncis tipe tegak ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan benih jagung dan kacang merah (buncis tipe tegak) bermutu tinggi, tepat waktu dan berproduksi berkelanjutan.

Target yang ingin dicapai, tandas Noldin, adalah menghasilkan benih jagung bersertifikat dan buncis berproduksi baik berbasis organik dan produk pertanian serta peternakan berbasis organik dalam suatu sistem pertanian terpadu (Agropastura). Target lainnya, lanjut Noldin adalah peningkatan kualitas pertanian melalui teknik budidaya berbasis organik (Pestisida nabati, produksi aktivator dan pupuk organik padat dan cair); sebagai sentra pelatihan dan penyuluhan pertanian tentang produksi benih berbasis organik.

Noldin lebih jauh menjelaskan bahwa, produksi benih jagung lamuru dan kacang merah merupakan upaya memanfaatkan keunikan dan keunggulan produk lokal yang diharapkan menghasilkan empat hal. Pertama, merupakan usaha produksi benih dan produk hortikutura organik yang bersifat komersil dan tersedia secara kontinyu dengan sistem tanam terpadu. Kedua, produk benih jagung lamuru yang bersertifikat (label biru) dan benih lokal kacang merah/buncis tipe tegak TTS berproduksi baik berbasis organik dengan ketersedian tepat waktu. Ketiga, model kebun PPUPIK dapat menjadi model kebun sistem pertanian terpadu berbasis potensi lokal organik  di lahan kering yang dapat menarik perhatian masyarakat di NTT khususnya,  dan nasional pada umumnya. Keempat, dapat menjadi sentra produksi benih jagung lamuru dan buncis tipe tegak TTS,  dan media belajar kewirausahaan bagi mahasiswa,  dan masyarakat di NTT.

Masih menurut Noldin, hal yang membedakan kegiatan usaha ini dengan usaha yang dilakukan masyarakat pada umumnya dan petani pada khususnya adalah, pertama, produksi benih jagung bersertifikat dam manajemen produksi kacang merah atau buncis tipe tegak menggunakan benih unggulan  lokal sehingga dapat mengurangi penggunaan benih introduksi. Kedua, penggunaan semua bahan lokal berbasis organik (benih, pupuk, pestisida, air dan lahan) dan memiliki manajemen produksi yang teratur, sehingga dapat dikatakan produk yang menuju 100 persen organik terpadu (tanaman, ternak dan ikan). Ketiga, ketersediaan produk secara kontinyu dan dalam jumlah yang banyak. “Artinya produk yang dihasilkan akan tersedia setiap waktu, baik musim panas dan hujan sehingga dapat menjadi sentra produksi benih jagung lamuru dan buncis tipe tegak TTS,” jelas Noldin. Keempat, sistem pertanian terpadu, dimana selain kegiatan teknik budidaya yang dilakukan secara organik maka untuk mengembangkan usaha ini dapat dilakukan variasi usaha tani lain sehingga keseimbangan ekosistem dapat terjaga (sistem terpadu). Misalnya beternak ayam potong, serta menanam komuditas hortikultura lainnya dan pengolahan pupuk dan pestisida. “Dengan pengembangan ini, yang paling diharapkan adalah hasilnya dapat dimanfaatkan masyarakat umum, kalangan Perguruan Tinggi sebagai sumber benih untuk kegiatan praktikum mahasiswa maupun penelitian mahasiswa dan dosen, Dinas Pertanian dan BPSB TPH NTT sebagai mitra bina penangkar benih dan petani pengguna benih,” pungkas Noldin. (kp/aln)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!