Timor Express

NASIONAL

Bupati Sikka Kirim Pemuda ke Israel

Belajar Cara Majukan Pertanian

JAKARTA, TIMEX – Pertanian di Kabupaten Sikka masih menggunakan pola tradisional. Produktifitasnya tak seberapa.
Oleh karena itu, Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo bakal mengadopsi pola pertanian Israel.

Hal tersebut dimaksudkan agar pola pertanian di kabupaten yang akrab dengan sebutan Maumere of Flores (MOF) itu bisa jadi lebih baik. “Kenapa orang Yahudi yang punya kondisi alam yakni musim panas yang cukup panjang namun mereka mampu menyiasati alamnya dengan baik sehingga pertaniannya jadi bagus,” kata Robby-sapaan karib bupati yang baru dilantik Oktober 2018 ini.

Menurutnya, Israel yang tidak ada air, bisa melakukan panen dua hingga tiga kali saat musim panas. “Kita belajar dari Israel,” kata Robby ketika menghadiri dialog bersama Keluarga Besar Maumere (KBM) Jakarta di Anjungan NTT, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu (17/11).

Menurut dia, pola pertanian yang dilakukan saat ini harus modern dengan menggunakan teknologi. Karena itu, untuk mewujudkan Sikka sebagai daerah contoh dirinya akan menerapkan pola bertani ala Israel.

Untuk mewujudkan tekadnya, beberapa pemuda dari Kabupaten Sikka sudah dikirim ke Isarel. “Harapan kita yakni apa yang dilakukan para petani di Israel bisa diadopsi oleh pemuda-pemuda yang sudah kita kirim ke sana untuk selanjutnya diterapkan di Maumere. Sekembalinya dari sana, mereka bisa bangun pertanian di lahan kering yang ada di Maumere,” imbuh Robby.

Ia juga menegaskan debit air di Israel sangat kurang. Sementara di Sikka, umumnya di Indonesia, musim hujan waktunya tiga hingga empat bulan. “Setiap musim hujan itu, kita biarkan air hujan itu terbuang ke laut. Kenapa kita tidak buat embung. Jebakan-jebakan air supaya stok air dalam tanah selalu ada. Ini yang mau kita kembangkan dengan membuat embung sebanyak-banyaknya,” katanya.

Karena itu, untuk merealisasikan pembuatan embung, Pemkab Sikka bakal membeli ekskavator. Dalam pengolahan lahan tidak menggunakan kontraktor. “Kita beli saja alat-alat berat seperti ekskavator kemudian kita drop di daerah-daerah aliran sungai. Kita bikin embung. Jadi pada musim hujan itu airnya banyak. Kita tampung. Di saat musim kemarau, air yang ditampung itu bisa digunakan untuk ternak dan untuk tanaman. Jadi tidak boleh sedikit air pun kita biarkan masuk ke laut. Begitu hujan kita blok. Ini perlu tata lahanlah ya. Dan saya pikir NTT semua butuh air,” pungkasnya. (gat/fin/sam)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!